Judul : Mengukir Peradaban
Penulis : Fahmi & Zahra
Penerbit : CV. Masyhida
Tahun : 2018

Buku ini ditulis oleh dua orang teman saya, sepasang suami istri, Khoirul Fahmi dan Zahratul Iftikar. Tahun lalu mereka melangsungkan pernikahan yang cukup mengundang perhatian dan apresiasi karena selain keberanian mereka untuk menikah pada usia yang relatif muda, kisah perkenalan dan proses menuju pernikahannya juga unik dan inspiratif. Saya pikir kisah mereka ini memang layak untuk dibukukan untuk memberikan paradigma baru soal pernikahan bagi banyak orang. Jadi ketika Fahmi dan Zahra menulis dan menerbitkan buku ini saya termasuk orang yang penasaran seperti apa isinya.

Saya membeli buku ini pada periode open order yang kedua. Penulisnya menyebut ini edisi kedua tetapi sepertinya ini adalah penyempurnaan dari buku sebelumnya yang berjudul sama. Saya pikir lebih sesuai disebut cetakan kedua (?), entahlah pasti ada pertimbangan sendiri dari penulis dan tim. Tapi intinya kalau mau beli buku ini bisa cek instagram Catatan Fahmi Zahra. Setahu saya pembeliannya bisa dilakukan dengan COD untuk kota tertentu dan melalui Bukalapak. Saya sendiri kemarin nitip pada seorang teman untuk COD di Jogja saja, lebih gampang dan tanpa ongkir. Terima kasih Nourma mau dititipi.

Masuk ke intinya, menurut saya buku ini adalah gabungan dari tiga komponen utama yang saling berhubungan. Pertama adalah kisah pertemuan dan persiapan menikah yang dijalani oleh Fahmi dan Zahra itu sendiri, yang tadi saya sebut inspiratif. Penulisannya menjadi menarik karena dalam buku ini secara bergantian keduanya menulis cerita dari sudut pandangnya masing-masing. Seolah-olah mereka menulis sendiri-sendiri tanpa berkoordinasi namun pada akhirnya bertemu di satu titik peristiwa, menarik sekali.

Komponen kedua dari buku ini adalah penjelasan mengenai persiapan menuju pernikahan dari sisi spiritual seperti bagaimana meluruskan niat dan paradigma, merancang life plan dan life goal, serta bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang seringkali mengundang kegalauan. Ketiga, masih soal persiapan pernikahan juga, namun dari segi teknis. Ini meliputi apa saja yang dilakukan dan perlu dipersiapkan dalam melaksanakan acara atau prosesi khitbah, akad, walimah, hingga pasca menikah.

Ada 3 persiapan yang membuat karakter orang berubah drastis : persiapan perang, persiapan kematian, dan persiapan menuju pernikahan - fahmizahranotes.com

Sama seperti tulisan-tulisan yang secara rutin mereka tuangkan di blog, buku ini mengandung banyak sekali nasehat yang berguna bagi siapapun yang membacanya. Buku ini layak dibaca oleh siapapun, namun mengingat pembahasannya didominasi soal persiapan pernikahan, mungkin yang paling nyambung secara konteks adalah pemuda pemudi yang berada pada usia menjelang menikah serta orang tua-orang tua yang memiliki anak pada usia tersebut.

Satu saja pesan saya, sesudah membaca buku ini alahkah baiknya jangan ujug-ujug terobsesi untuk cepat-cepat menikah dan mengikuti metode yang sama seperti yang dilakukan Fahmi dan Zahra. Kita perlu memahami kesiapan pribadi dan keluarga masing-masing. Memang sebaiknya segera, tapi segera dan buru-buru itu berbeda. 

Sekian review buku Mengukir Peradaban, semoga bermanfaat bagi yang membaca. Buku ini adalah sebuah terobosan yang sangat baik untuk memberikan gambaran yang gamblang tentang apa-apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menyongsong pernikahan, tentu dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami anak muda. Semoga penulis senantiasa diliputi kebaikan.

Salam,
Chandra

Tulisan ini adalah bagian kedua dari cerita soal ujian bahasa Inggris. Sebelum membaca ini, supaya nyambung, pastikan baca bagian pertamanya dulu di sini (IELTS).

Buat jaga-jaga andaikata pahitnya nilai IELTS saya nggak cukup tinggi untuk mendaftar beasiswa yang saya tuju, saya memutuskan ambil tes TOEIC (Test of English for International Communication). Lembaga yang menyelenggarakan TOEIC ini salah satunya adalah ITC (itc-indonesia.com). Ada beberapa alasan mengapa TOEIC ini perfect dijadikan sebagai Plan B.

Pertama, tidak seperti IELTS dimana peserta harus mengikuti semua section listening, reading, writing, dan speaking, untuk TOEIC kita bisa memilih untuk mengambil antara TOEIC Listening-Reading atau TOEIC Writing-Speaking. Saya sangat menyarankan untuk mengambil yang listening-reading saja karena menurut saya lebih mudah (sifatnya pasif) dan yang jelas lebih murah. Selanjutnya pembahasan pada tulisan ini berlaku untuk TOEIC Listening-Reading(LR) ya.

Alasan kedua, soal biaya yang lebih murah. Biaya untuk tes TOEIC resmi hanya 675 ribu rupiah. Lumayan sih, tapi jauh lebih murah daripada IELTS yang 2,9 juta. Biaya itu sudah meliputi biaya tes dan selembar Score Report. Score Report berbeda dengan sertifikat ya. Jika ingin mencetak sertifikat dikenakan biaya tambahan 220 ribu rupiah per lembar. Jadi total biaya TOEIC adalah 895 ribu. Tapi pencetakan sertifikat ini sifatnya tidak wajib, jika nilai belum sesuai target sebaiknya jangan cetak sertifikat dulu, tes lagi dan kalau sudah sesuai baru cetak.

Ketiga, hasil tes TOEIC ini sudah bisa dilihat 2 hari setelah tes. Setelah 2 hari nilai sudah bisa dilihat secara online di http://www.itc-indonesia.co.id/itcosv/logintaker.php dan score report sudah bisa diambil di tempat ujian atau dikirim via JNE. Tapi waktu 2 hari ini hanya berlaku untuk tes di Jakarta ya, cabang lain memakan waktu 7-14 hari. Berhubung saya kemarin ambil tes di Kelapa Gading Jakarta, dalam tempo 2 hari saya sudah tahu dapat skor berapa dan pada hari ketiga score report sudah mendarat di rumah atas bantuan JNE YES, ongkir dibayar peserta tes tentu saja.

Keempat, menurut saya pribadi TOEIC lebih gampang daripada IELTS. Selain cakupan tesnya yang lebih sempit (listening dan reading saja), soal TOEIC relatif lebih sederhana. Tidak banyak rumus yang perlu dipegang, belajar English secara casual dari baca artikel, buku, dan nonton video berbahasa Inggris saya rasa cukup.

Berbeda dengan IELTS, kebanyakan peserta TOEIC (yang saya temui) adalah golongan profesional yang mengambil tes ini untuk keperluan rekrutmen, naik jabatan, akreditasi, atau untuk mengikuti event tertentu di tempatnya bekerja. Kebanyakan peserta sudah berumur, bapak-bapak ibu-ibu gitu lah, ada ekspatriat juga.

Kesimpulannya, kalau Anda belum yakin untuk mengambil IELTS, TOEIC ini bisa jadi alternatif yang lebih friendly, lagipula beasiswa seperti LPDP menerima sertifikat TOEIC. Walaupun tidak semua universitas di luar negeri mempersilakan calon mahasiswanya menggunakan tes ini.

Ini adalah tes TOEIC kedua saya setelah dulu pernah mengambilnya waktu SMP. Tapi bisa dianggap ini yang pertama karena dulu saya belum paham esensi tes bahasa Inggris dan sudah lupa sama sekali kontennya. Saya nyaris tidak belajar TOEIC secara khusus karena terlalu repot dengan persiapan IELTS. Meski begitu karena ujiannya berupa listening dan reading belajarnya bisa dianggap paralel dengan IELTS. Dengan itu alhamdulillah saya mendapat skor di kisaran 9xx.

Tips dari saya pribadi, jangan lupa mempersiapkan diri dalam hal penggunaan LJK (lembar jawab komputer). Saya yang terakhir menggunakan LJK sekitar 5 tahun yang lalu sempat agak kesulitan untuk menghitamkan jawaban dengan cepat. Hal ini sangat merugikan karena waktu ujian sangat terbatas.

Silakan jika ada pertanyaan bisa tulis di kolom komentar atau via email chandranrhmn@gmail.com, InsyaAllah direspon


Salam,
Chandra


Ini adalah tulisan soal pengalaman saya mengambil tes IELTS alias International English Language Testing System. Mahasiswa atau alumni yang lagi bernafsu ingin daftar beasiswa ke luar negeri (for example LPDP) pasti tahu dan sebagian diantaranya galau karena : (1) biayanya lumayan mahal, (2) soalnya terkenal agak susah, (3) tidak ada kesempatan mengulang kalau nilainya kurang dari target, uang yang sudah dibayar hilang.

Akibatnya tidak sedikit yang berkali-kali ikut simulasi tapi ragu untuk mendaftar tes yang sesungguhnya, termasuk saya yang akhirnya mau tidak mau harus ambil tes bulan ini dengan harapan dapat band score diatas ambang batas dan bisa langsung digunakan untuk daftar beasiswa bulan September nanti. Ini ceritanya.

Lembaga yang resmi menyelenggarakan tes IELTS di Indonesia diantaranya British Council (indonesia.ielts.britishcouncil.org) dan IDP (www.idp.com). Silakan pilih salah satu lembaga diantara itu. Saya nggak tahu apakah ada lembaga resmi lain tapi dari sekian banyak teman saya yang ambil tes IELTS biasanya akan memilih antara BC atau IDP.

Saya berdomisili di Bandung dan kemarin mengambil tes melalui IDP. Alasannya simpel, karena ketika saya berusaha mencari kantor British Council Bandung nggak ketemu walaupun sudah mengikuti apa kata Google Maps. Alhasil saya meluncur ke IDP Bandung yang terletak di Jalan Naripan. Sebenarnya nggak perlu datang ke kantor begini karena toh semua proses pendaftarannya online. Tapi berhubung ini pertama kalinya saya ambil IELTS, saya merasa perlu bertanya beberapa hal.

Apa itu IELTS ?

IELTS sekarang ini jadi salah satu english testing system paling populer di dunia. Kebanyakan universitas di luar negeri mensyaratkan nilai IELTS tertentu untuk calon mahasiswa overseas. Mengingat beberapa universitas menjadikan IELTS sebagai kriteria utama (bahkan mengesampingkan the legendary TOEFL), popularitas IELTS kian meroket.

Tes IELTS terdiri dari 4 bagian yang semuanya harus dilalui oleh peserta : Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Listening terdiri dari 40 soal dan dikerjakan dalam waktu kira-kira 40 menit. Reading punya jumlah soal yang sama dengan waktu 60 menit.

Untuk writing peserta akan diberi 2 tugas (Task 1 dan Task 2). Task 1 biasanya berupa perintah untuk mendeskripsikan grafik, tabel, peta, gambar, proses, bagan, dll. Sedangkan untuk Task 2 peserta diminta menguraikan pendapatnya tentang suatu isu secara tertulis. Speaking, seperti namanya, berbentuk seperti interview selama 13-15 menit, bersama native speaker.

Pendaftaran

Semua proses registrasi IELTS dilakukan secara online. Silakan buka link BC atau IDP di atas untuk info lebih lanjut sekaligus mendaftar tes. Pilih lokasi dan waktu yang cocok sesuai domisili dan kesibukan masing-masing. Baik BC maupun IDP punya cabang di beberapa kota besar di Indonesia dengan jadwal tes masing-masing. Perlu diingat bahwa sertifikat IELTS akan keluar 13 hari setelah tes jadi pemilihan waktu tes jangan mepet deadline submission beasiswa atau apapun keperluan Anda.

Kemarin di IDP Bandung ada salah satu peserta yang berasal dari Yogyakarta. Waktu saya tanya kenapa ambil tes di Bandung dia jawab karena di Jogja sudah penuh kuotanya dan pendaftaran sudah ditutup. Jadi, buat yang mau ambil tes IELTS daftarnya jangan mepet-mepet ya...

Proses pendaftaran IELTS tidak susah, ikuti saja petunjuk di website. Jika ada kesulitan bisa kontak customer service BC atau IDP, pasti dibantu. Jangan lupa untuk menyiapkan identitas berupa KTP atau paspor. KTP atau paspor asli ini harus dibawa ketika tes, yang asli ya.

Biaya IELTS adalah $215. Karena kurs rupiah terhadap dollar terus berubah maka biaya yang harus dibayarkan dalam rupiah juga berubah. Tapi biayanya direview dalam periode satu bulanan kok, jadi nggak tiap hari fluktuasi. Bulan Agustus ini angkanya di 2,9 juta. September nanti bisa naik, tetap, atau turun tergantung kurs rupiah. Pembayarannya via transfer ya.

Oh ya, kebanyakan tes IELTS diselenggarakan di akhir pekan.

Persiapan Tes IELTS

Seiring pertumbuhan jumlah peserta tes IELTS, makin banyak pula lembaga yang menyelenggarakan bimbingan belajar internsif persiapan IELTS. Kalau kamu kamu punya waktu saya sarankan ambil saja bimbingan seperti ini agar lebih mantap menghadapi tes berbiaya mahal dan tidak bisa diulang ini.

Tapi untuk orang yang bekerja rasanya agak susah untuk melakukan itu. Solusinya adalah otodidak alias belajar sendiri. Ada beberapa metode yang disarankan untuk belajar IELTS secara mandiri.

1. Ada beberapa website yang layak jadi referensi dalam belajar IELTS mandiri, silakan buka ieltsliz.comielts-simon.com, dan akun YouTube-nya Engvid (www.youtube.com/user/engvidenglish). Saya rasa itu cukup, terlalu banyak malah pusing nanti.

2. Silakan download buku IELTS Cambridge edisi 1-12. Kerjakan sebanyak mungkin soal dan catat progres simulasi mandiri dari hari ke hari. Katanya indikasi siap maju ke tes yang sesungguhnya adalah ketika kita sudah secara konsisten bisa dapat nilai 1 poin di atas target. Maksudnya jika kita mentargetkan band score 6.5, pastikan dalam simulasi mandiri ini sudah konsisten dapat band score 7.5 atau lebih. Buku IELTS Cambridge ini dilengkapi kunci jawaban walaupun tetap agak susah mengevaluasi speaking dan writing.

3. Gunakan lembar jawaban official IELTS ketika belajar dan melakukan simulasi. Tujuannya agar familiar dengan metode pengisiannya sekaligus membantu penghitungan jumlah kata pada section writing.

4. Ikuti simulasi IELTS yang diselenggarakan oleh lembaga bimbingan belajar atau semacamnya. Sangat berguna untuk familiarisasi dan biayanya pun relatif murah, antara 100 sampai 150 ribu rupiah.

5. Untuk speaking, latihanlah di depan cermin sambil direkam untuk meningkatkan kepercayaan diri. Banyak tersedia contoh video speaking dengan berbagai band score di YouTube.

6. Jangan lupa metode belajar English yang casual seperti baca buku berbahasa Inggris, nonton film tanpa subtitle, nonton video YouTube berbahasa Inggris tanpa caption. Simpel dan berguna.

Banyak orang yang menulis tips n trick IELTS. Dari saya cukup sekian saja kalau ada pertanyaan bisa tulis di kolom komentar atau via email. InsyaAllah direspon.

Sampai tulisan ini dipublish sebenarnya saya belum tahu berapa band score IELTS saya karena belum 13 hari sejak hari ujian. Nah mengingat menurut hitung-hitungan saya tidak ada lagi kesempatan tes IELTS yang cukup untuk mengejar deadline pendaftaran beasiswa yang saya tuju, saya mengambil plan B dengan mendaftar TOEIC.

Apa itu TOEIC ? Lebih mudah kah daripada IELTS ? Berapa biayanya ? Simak di postingan berikutnya..


Salam,
Chandra


Mengapa berimajinasi itu menyenangkan ?

Karena kita bebas, tidak terbatas ruang dan waktu. Bahkan pikiran pun tidak menjadi batasan karena kita bisa mengimajinasikan bahkan yang kita sadari tidak akan bisa terjadi. Dalam eksperimen pikiran itu, kita punya hak penuh untuk memutuskan salah benar dan baik buruk. Lebih penting lagi, kita tidak perlu peduli tentang omongan orang karena tidak ada manusia lain yang tau apa yang kita pikirkan. Hanya kita dan Allah yang tahu.

Kalau ada yang membatasi imajinasi, itu adalah pengetahuan. Kita tidak bisa membayangkan apa yang masih di luar jangkauan pengetahuan kita. Itulah kenapa belajar menjadi penting.

Begitu indahnya hidup ini dalam alam mimpi dan pikiran.

Masalahnya adalah, manusia tidak punya tools untuk mengeluarkan pikirannya secara sempurna. Imajinasi itu seperti ilmuwan handal yang menghabiskan waktunya di laboratorium kesayangannya menciptakan teori dan penemuan baru namun tidak bisa menulis makalah yang baik. Karyanya mengagumkan tapi orang susah paham apa maksudnya.

Ketika kita coba menyampaikan imajinasi kita secara lisan, otomatis ada informasi yang terdistorsi. Selain karena kemampuan berbicara di depan orang yang berbeda-beda masing-masing individu, pada dasarnya kosa kata yang dimiliki manusia terbatas. Betapa sulitnya kita menemukan padanan kata tunggal eager (sangat ingin) dalam bahasa Indonesia dan sinonim kata musuh dalam bahasa jawa.

Tulisan tidak bekerja dengan lebih baik, bahkan lebih terbatas karena tidak adanya intonasi dalam tulisan. Intonasi, impresi, dan ekspresi sangat penting dalam menyampaikan maksud. Jancuk terdengar buruk di jalanan namun jadi jenaka kalau Mbah Tejo yang mengucapkan. Betapa penting yang namanya ekspresi.

Kemarin saya mendapat soal IELTS kira-kira begini.
Nowadays, with the development of the internet, people tend to interact with others through the internet instead of face by face. To what extent it becomes a positive or negative development ?
Saya menjawab ini adalah sebuah hal yang positif dengan beberapa alasan selama ada regulasi yang proper untuk membatasi gerak gerik para kriminal cyber. Saya sedikit berbohong karena ada hal yang sebenarnya membuat interaksi non-tatap muka ini menjadi berbahaya, yaitu kemungkinan adanya bias. (saya tidak punya cukup waktu untuk menuliskan soal bias dalam ujian karena penjelasannya pasti panjang)

Betapa banyak perselisihan yang terjadi di twitter atau instagram yang sebenarnya bisa dihindari kalau saja tweet dan komentar itu mengandung ekspresi dan intonasi di dalamnya. Orang coba menambahkan "hahaha", "wkwkw", atau sekedar emoticon untuk menggambarkan suasana hati penulis. Namun itu tidak selalu membantu karena orang bisa punya persepsi yang berbeda tentangnya. Tawa yang kita anggap santun bisa jadi terkesan ofensif bagi seseorang. Masih ada juga orang yang salah pakai emoticon menangis ketawa untuk menyampaikan tangisan duka cita.

Bias adalah kesalahan dalam mencerna informasi, terlalu banyak asumsi sehingga kesimpulan yang didapat melenceng dari apa yang sebenarnya terjadi.

Bukan hanya dalam dunia luas, pada percakapan grup kecil bahkan antara dua individu yang saling mengenal pun bias sangat mungkin terjadi. Pada pembahasan yang sensitif kesalahpahaman bisa muncul jika tidak hati-hati.

Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengeliminasi bias. Saya nggak bicara politik - yang mana sosmed makin panas menjelang pemilu - karena bias bisa muncul di informasi mengenai apa saja. Dominannya asumsi atas informasi mengakibatkan deduksi menjadi tidak akurat. Itu belum termasuk ulah media massa kurang bahan yang suka asal meneruskan berita hanya demi iklan. Berikut contohnya



Yang bisa dilakukan adalah setiap orang harus memahami bahwa masing-masing individu punya pemikiran, ide, dan imajinasi yang berbeda-beda dan mereka berhak menyampaikannya. Oleh karenanya jangan mudah tersulut jika ada propaganda yang berlawanan dengan apa yang kita pahami. Jangan lupa juga untuk terus belajar karena tingginya pengetahuan memperkecil kemungkinan kesalahpahaman.

Pertengkaran akan lebih mudah diatasi jika semua pihak berpikir dirinya punya lebih banyak sisi salah daripada sisi benar. Kerendahan hati untuk tabayyun dan tetap menjaga komunikasi adalah kunci. Kita sering terlambat menyadari bahwa hubungan baik terlalu berharga untuk dikorbankan hanya demi satu dua pendirian yang tidak prinsipil.

Only miss the sun when it starts to snow



Chandra

gambar : pixabay, twitter


Find someone, kalau kamu pikir ini soal mencari jodoh, maaf bukan hehehe

Ini soal sebuah jalan yang biasa dilalui oleh nama-nama besar di internet, TV, berita, dan buku. Mereka bisa datang dari kalangan pemimpin dunia, atlet, selebriti, dokter, engineer, ulama, entrepeneur, penulis, penceramah, dan lain sebagainya, semua profesi basically.

The Rule of 33%

Tai Lopez berkata bahwa kalau mau sukses kita harus membagi hidup kita dalam tiga kelompok pergaulan. Pertama, dengan orang yang lebih muda baik secara usia maupun karier. Kedua, orang yang setara dan sebaya untuk kita jadikan teman. Ketiga, dan yang paling penting, dengan orang yang 10-20 tahun lebih senior, jadikan mereka mentor.

Cristiano Ronaldo menjadi salah satu pesepakbola terbaik dunia karena pada masa mudanya dia ditemukan oleh Sir Alex Ferguson dan dibesarkan dibawah bimbingannya di Manchester. Bahwa selanjutnya dia dilatih oleh Mou, Ancelotti, dan Zidane itu hanya urusan teknis saja. SAF tetap yang paling berjasa dalam karirnya, dialah mentor bagi Ronaldo.

Justin Trudeau, Perdana Menteri Kanada saat ini yang baru berusia 46 tahun dikader oleh ayahnya sendiri Pierre Trudeau yang juga PM Kanada periode 1980-1984. Bung Karno punya HOS Cokroaminoto yang mengasah nasionalismenya, Steve Jobs punya Steve Wozniak dan bersama mendirikan Apple, Albert Einstein punya Heinrich Weber sebagai doctoral advisornya. Hampir semua tokoh-tokoh dunia punya seseorang yang menjadi tempatnya bertanya.

Pemimpin perusahaan multi-billion dollar sekalipun pasti pernah menjadi pegawai (minimal bekerja pada dirinya sendiri). Perasaan pernah diangkat orang lain membuat mereka dengan senang hati membantu junior-juniornya untuk melewati jalan yang sama dengannya. Mereka memberikan petunjuk sehingga si pemuda yang masih buta ini bisa terus maju.

Siapa yang selayaknya dijadikan mentor ?

Mereka yang berada 10, 15, 20 tahun di depan kita. Tidak harus dalam hal usia, tapi carilah orang yang kira-kira 10 tahun yang lalu melewati tempat kita berada sekarang, dalam karier misalnya. Jangan yang terlalu dekat karena sia sia jika sama-sama belum tahu, the blind guiding the blind. Jadikan mereka partner, bukan mentor, seperti hubungan Bill Gates dan Paul Allen di Microsoft.

Bagaimana dengan yang jauh lebih 'tua' ?

Membaca Buku

Tidak semua mentor masih hidup dan bisa ditemui saat ini. Yang masih hidup pun belum tentu bisa dijangkau karena jarak yang terlalu jauh. Tapi kebanyakan dari mereka menulis.

Steven Covey tidak bisa lagi dijumpai, tapi bukunya The 7 Habits of Highly Effective People masih bisa kita baca sampai saat ini. Elon Musk tentu sangat sulit dijangkau untuk sekarang, tapi buku biografinya bisa dengan mudah didapatkan. Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan Mohammad Ali (petinju) sudah tidak ada orangnya, tapi wisdomnya masih ada tersebar dimana-mana.

Kisah soal sahabat nabi bisa dijadikan yurisprudensi dalam berbagai aspek kehidupan. Kisahnya banyak tertuang dari hadist hingga buku-buku dari penulis masa kini. Hampir semua mentor bisa kita temui melalui buku. Mereka ada di rak-rak toko buku dan perpustakaan kita.


***

Sesaat menjadi inferior wajar ketika kita berhubungan dengan orang yang jauh lebih tahu dan berpengalaman dari kita. Tapi orang-orang inilah yang berpotensi menarik kita ke jenjang yang lebih tinggi. Sebuah aturan sederhana, semua orang tahu itu tapi tidak semua mau melakukannya.

Hai anak muda, ask someone to be your mentor!



Chandra


gambar : CNBC




Tulisan ini adalah tips dan sharing soal mengurus cek fisik kendaraan lima tahunan di luar kota asal. Saya mengurus motor AB di Samsat Bandung Timur. Semoga bermanfaat

Salah satu kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia yang baik adalah taat bayar pajak. Tidak terkecuali pajak kendaraan bermotor yang sehari-hari kita pakai. Setahun sekali kita bayar pajak dan setelah lima tahun harus cek fisik dan ganti plat nomor. Sejujurnya kesan samsat yang penuh, antri panjang, dan ribet bikin saya agak malas ngurus beginian. Tapi yaa mau gimana lagi, kita pakai fasilitas jalan dan lalu lintas selayaknya sadar kalau infrastruktur dibangun pakai duit.

Saya punya dua motor di Bandung, lebih tepatnya yang satu punya adik yang kuliah di sini. Bulan Juli ini motor yang biasa dipakai adik habis masa berlaku plat nomornya, 07-18. Kalau sudah begitu harus cek fisik dan urus pajak lima tahunan, nanti dapat plat nomor baru yang 07-23.

Masalahnya adalah plat nomor motor itu AB, plat Jogja. KTP yang digunakan sebagai pemilik juga KTP Bantul. Awalnya khawatir apa bisa diurus di sini (di Bandung) perkara lima tahunan ini ?

Ternyata bisa, khusus untuk Cek Fisiknya. Cek fisik bisa dilakukan di luar daerah untuk nanti dokumen cek fisiknya dibawa atau dikirim ke kota asal untuk diurus lebih lanjut masalah pajak dan lain sebagainya. Intinya cek fisik bisa dilakukan di luar daerah apapun keperluan Anda.

Di sini saya mau cerita pengalaman mengurus cek fisik kendaraan di luar daerah, check it out!

Saya tinggal di Bandung, tepatnya daerah Dago. Untuk keperluan cek fisik kemarin saya datang ke Samsat Bandung Timur di daerah Soekarno Hatta. Agak jauh memang, hampir satu jam perjalanan. Lokasinya tepat di samping perempatan Jalan Soetta dan Jalan Kiaracondong. Begini penampakan kantornya :



Begitu masuk gerbang, kita akan disambut gerai Samsat Drive-Thru. Mantap sih ini untuk beberapa urusan bisa dilakukan secara drivethru. Tapi untuk cek fisik tidak bisa, kita harus menuju ke bagian cek fisik, ada jalurnya untuk roda 4 dan roda 2 dengan petunjuk yang cukup jelas. Di sana ada juga petugas yang mengarahkan, jadi kalau bingung tinggal tanya.



Begitu sampai di area cek fisik, kita harus ambil formulir dulu di meja petugas yang masih di area cek fisik. Kita perlu menunjukkan STNK asli, KTP asli, dan BPKB asli, tapi cukup ditunjukkan aja. Namanya formulir yaa harus segera diisi. Kemarin karena datang berdua jadi kami bagi tugas, saya isi formulir dan adik standby antri, hemat waktu. Formulirnya seperti ini :





Setelah isi formulir, kita tinggal nunggu antrian kendaraan digesek. Nah ini masalahnya, antriannya panjang (banget) sedangkan petugasnya cuma 3. Kondisi diperparah kalau ada motor yang nomor rangka dan nomor mesinnya susah dijangkau, jadi lebih lama. Saya kemarin antri hampir sejam -_-



Kira-kira begini cara gesek nomor rangka dan nomor mesin :



Setelah stiker gesek jadi dan ditempel ke formulir, proses cek fisik selesai. Formulir yang sudah diisi dan ditempeli stiket cek fisik siap dibawa ke loket validasi untuk dicap dan ditandatangani. Lokasi loket ini masih di dekat tempat cek fisik. Seperti ini tempatnya :



Untuk menyerahkan formulir ke loket validasi kita harus antri lagi, tapi nggak terlalu lama kok. Yang perlu diserahkan di tempat ini adalah formulir, STNK asli, dan BPKB asli. Setelah menyerahkan dokumen kita akan diberi nomor antrian dan menunggu dipanggil lagi untuk mengambil dokumen yang sudah divalidasi. Total proses di loket ini memakan waktu sekitar 30 menit.

Sampai titik ini, nggak ada biaya yang dikeluarkan sepeser pun, mantaaap

Setelah dokumen cek fisik dicap dan ditandatangani, dokumen siap diproses ke tahap selanjutnya. Untuk kasus saya, dokumen ini akan dibawa ke Bantul, urusan selanjutnya disana, di Bandung cuma cek fisik tok.

Setelah sekitar dua jam berurusan di Samsat Bandung Timur, urusan cek fisik beres. Ada beberapa tips yang bisa membantu teman-teman yang kendaraannya butuh di-cak fisik:

  1. Siapkan fotokopian semua dokumen yang mungkin diperlukan, fotokopian di samsat rame parah. Bawa juga pulpen sendiri biar nggak usah beli di samsat.
  2. Dokumen yang perlu dibawa : STNK asli dan fotokopi, BPKB asli dan fotokopi, KTP asli dan fotokopi.
  3. Ajak teman atau kakak/adik supaya bisa bagi tugas, satu isi formulir satu antri misalnya.
  4. Datang pagi banget atau agak siang sekalian, jangan datang di jam nanggung karena pasti rame dan antri panjang. Perhatikan jam buka samsat di daerah masing-masing. 
  5. Tertib antri dan hargai petugas dan sistem layanan samsat. Kalau bingung jangan malu untuk tanya.
  6. Jangan pakai calo, just don't.
Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman ngurus cek fisik motor di Samsat Bandung Timur pada Rabu, 18 Juli 2018. Kondisi bisa berbeda di tempat atau waktu yang lain. Semoga bermanfaat 


Chandra




Masuk ke dunia kerja, mau tidak mau menjadikan saya banyak bergaul dengan orang yang lebih dewasa (atau tua). Sebagian dari mereka sudah berkeluarga dan sudah ngomah di Bandung. Mereka punya atau ngontrak rumah di sini, anak-anaknya juga sekolah di kota ini. Live happily and settled lah pokoknya.

Lupakan soal adaptasi bahasa sunda, dinginnya udara lembang, dan pola kerja. Sembilan bulan di sini cukup lah untuk menyesuaikan diri. Tapi ada satu hal yang memang agak susah untuk disamakan.

Seperti yang saya bilang tadi, sebagian besar pegawai di sini sudah berkeluarga. Umur juga banyak yang sudah kepala tiga. Apalagi ada bapak-bapak eks IPTN yang sudah relatif sepuh. Artinya apa ? Memang bagi banyak pegawai pilihan terbaiknya adalah bekerja di sini sampai datang masa pensiun. 

Umur membatasi seseorang untuk pindah kerja karena rasanya tidak banyak lowongan yang terbuka kalau sudah berumur 35 tahun ke atas. Ada memang, tapi biasanya posisi berlabel 'senior' yang mensyaratkan pengalaman kerja dan referensi yang excelence. Jadi intinya kurang ideal untuk lompat dari satu kantor ke kantor lain kalau sudah berumur.

Belum lagi beliau-beliau yang senior biasanya sudah berkeluarga. Berkeluarga artinya income yang stabil itu penting. Agak beresiko untuk melepas pekerjaan jika sudah ada tanggungan

Di sisi lain, saya pribadi sejak awal sudah menyampaikan pada atasan bahwa saya nggak akan disini dalam jangka panjang. Alasannya karena punya keinginan untuk sekolah lagi. Saya nggak sendiri, tapi bagaimanapun hanya sedikit rekan disini yang punya pikiran seperti itu. 

Dulu di kampus punya cita-cita jadi Master hunter adalah hal yang biasa, mayoritas kawan di ITB gitu. Tapi sekarang saya berada pada kondisi dimana kebanyakan orang di sekitar sudah pada masa ingin hidup yang stabil, nggak ingin coba-coba. Seolah saya gedabikan sendiri di tengah orang-orang yang anteng.

Saya nggak bilang anteng itu jelek. Kalau sudah seumur para senior itu juga saya nggak akan sehiperaktif ini. Soal waktu dan kondisi saja.

Orang kalau kumpul dengan kelompok yang cita-citanya serupa, majunya cepet. Tapi kalau kebetulan berada di lingkungan yang orientasi umumnya berbeda butuh beberapa adjusment supaya tetap bisa bergaul sekaligus rencana terjaga.

Sebagai contoh, sebenarnya sangat memungkinkan bagi saya untuk tidak langsung pulang selepas kerja. Bahkan menginap pun ada tempatnya. Tapi ketika beberapa rekan bersantai di kantor sampai malam saya nggak bisa karena harus pulang ada yang perlu dikerjakan di rumah, yaa nggak jauh dari urusan menyiapkan studi lanjut. 

Hal yang sederhana memang, tapi ketika pilihan dan godaan semacam itu hadir hampir setiap hari butuh energi yang besar juga untuk tetap istiqomah. Lebaran kemarin ketemu dan ngobrol dengan beberapa teman jaman sekolah dan kuliah, dari sana saya menyimpulkan bahwa cukup banyak yang mengalami hal serupa. Bukannya nggak bahagia, tapi karena lebih banyak hal yang meminta fokus dan waktu, jadi lebih exhausting aja kita. 



***

Dua minggu yang lalu saya ketemu sama seorang bapak asal Semarang waktu nonton Indonesia Open di Senayan. Beliau datang sendirian jadi akhirnya ikut rombongan saya dan teman-teman. Waktu ngobrol-ngobrol sambil nunggu antrian masuk Istora, beliau kasih nasehat :

Kuncinya salat subuh dan sunah 2 rakaat sebelumnya. Dah pokoke mau apa aja modal itu bisa tercapai

Jangan merasa susah, banyak orang hidupnya lebih berat.


Chandra

gambar : Pixabay


Semua pasti setuju kalau saya bilang bulan Syawal ini banyak banget yang nikah. Weekend ini aja saya menerima beberapa undangan tapi nggak bisa datang dan cuma nitip amplop karena terlanjur punya acara.

Itu baru yang mengundang, lebih banyak lagi kalau digabung dengan yang tidak. Kakak tingkat yang agak jauh, kenalan jaman sekolah, dan teman yang nggak begitu dekat biasanya saya tahu kabar pernikahannya dari media sosial saja.

Dari semua yang menikah, kalau dicermati setiap pasangan punya cara dan ceritanya masing-masing hingga sampai ke jenjang pelaminan. Ada yang sudah bisa diduga karena sudah pacaran sejak lama dan selalu update di sosial media. Ada yang ujug-ujug nyebar undangan di grup yang mana calon mempelai putra dan putrinya berasal dari grup itu juga (seangkatan). Ada teman sekelas jaman SMA yang sudah dekat sejak dulu tapi saya baru tahu. Ada adik tingkat yang baru sidang kemarin langsung nyebar undangan. Ada cerita pasangan yang persiapan nikahnya kilat, sebulan tok. Ada yang lama nggak ada kabar tahu-tahu menutup beberapa medsosnya, ternyata mau nikah juga. Macem-macem lah kisahnya.

Kesimpulan dari itu semua adalah tidak ada cara pasti bagaimana kita akan bertemu jodoh. Bahkan jika pun kita fokuskan pada golongan anti pacaran saja. Anti pacaran seolah sudah sebuah pendirian keras, tapi ternyata di dalamnya masih banyak variasi cerita. Seperti yang dicontohkan tadi, ada pasangan yang adalah teman seangkatan dan sudah kenal selama 4 tahun (tapi tidak ada apa-apa), ada juga yang memang baru kenal sebulan dua bulan sebelumnya.

Pemahaman dan pilihan soal mana cara yang kita pilih pasti berubah seiring berjalannya waktu. Manusia dibekali dengan kemampuan belajar sekaligus ingatan. Semakin mendewasa semakin banyak pula insight yang diterima. Di sisi lain ingatan yang terbatas membuat kita lupa dengan yang sudah lama. Ingatan lama yang sudah nggak relevan diganti dengan pemahaman baru. Banyak hal dari masa lalu yang menjadi tidak menarik lagi.

Contoh paling gampang barangkali malah pada remaja putri seusia saya. Jaman usia awal-awal SMP mungkin mereka membaca teenlit dan impressed dengan kisah percintaan remaja yang ada di dalamnya. Tapi bayangkan kalau mereka membacanya sekarang, pasti dianggap kekanak-kanakan. Mereka sudah hijrah dalam arahnya masing-masing. Mereka tidak akan kagum lagi.

Bertanya pada orang soal cara mana yang dia sukai sebenarnya antara bisa dan tidak bisa. Kenapa ? Karena pemahaman tentang itu bisa berubah dalam hitungan bulan, minggu, bahkan hari. Jadi daripada merisaukan bagaimana pilihan orang lain, lebih baik perbarui terus referensi kita.

Karena logikanya, dengan ini otomatis jodoh terseleksi,

kenapa ?

Karena pernikahan selalu berpasangan, sedangkan dua orang bisa jadi berpasangan jika dan hanya jika mereka bersepakat menjadi pengikut dari cara yang sama.

yang baik untuk yang baik, penjagaan diri itu penting

-chandra-

gambar : YouTube : Awakening Record

Masa libur lebaran kemarin saya manfaatkan salah satunya untuk cek kesehatan. Untuk suatu keperluan saya butuh surat keterangan sehat, bebas TBC, dan bebas narkoba. Bicara rumah sakit pemerintah urusannya lebih gampang di Bantul daripada RSHS jadi sekalian periksa mumpung di rumah.

Atas bantuan budhe yang seorang dokter di RSUD Bantul, surat-surat itu alhamdulillah bisa didapat sebelum layanan tutup libur lebaran...

Surat keterangan sehat cleared, udah sering lah ya tes ini

Bebas narkoba cleared, tes urin aman, pertama kali masuk poli jiwa lancar

Bebas TBC, suratnya dapat karena memang tes rontgen dan dahak menyatakan bebas TBC. Tapi ada catatan.



Saya memang bebas TBC alhamdulillah. Tapi dari hasil foto x-ray malah baru tahu kalau ternyata punya bronkitis. Selama ini nggak pernah ada keluhan berkaitan dengan pernapasan jadi walaupun kondisinya masih ringan tetep agak kaget. Apalagi saya bukan perokok. Tapi dokter juga nggak terlalu khawatir sebenarnya.

Saya tidak merokok, tapi memang lumayan sering terpapar asap rokok di kantor. Selain itu sering meremehkan asap kendaraan di jalan. Kalau cuma dekat biasanya malas pakai masker.

Menurut alodokter.com,
Bronkitis adalah infeksi pada saluran pernapasan utama dari paru-paru atau bronkus yang menyebabkan terjadinya peradangan atau inflamasi pada saluran tersebut. Bronkitis akut biasanya akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu, jadi terkadang tidak diperlukan pengobatan untuk bronkitis. Selagi menunggu penyakit ini berlalu, Anda disarankan minum banyak cairan dan juga banyak istirahat. Pada beberapa kasus, gejala bronkitis bisa bertahan lebih lama.

Jadi ternyata bukan cuma perokok yang beresiko punya masalah paru-paru. Orang yang terpapar asap rokok dan asap kendaraan bisa menghadapi ancaman yang sama berbahayanya, atau bahkan lebih besar. Sekarang saya berusaha jauh-jauh dari perokok dan selalu pakai masker kalau di jalan.

Tubuh bukan barang sewaan yang bisa dikembalikan kalau rusak, jadi mari kita jaga baik-baik

Salah satu penyebab saya jarang ngepost kalau lagi liburan di Bantul adalah terbatasnya koneksi internet. Bisa sih bikin draft offline di laptop, tapi tetep kurang marem kalau nggak langsung di editor Blogger. Faktor kebiasaan sih. Tapi juga kalau offline jadi susah kalau mau cari-cari bahan atau gambar di internet.

Rumah kami agak jauh dari kota jadi wajar kalau koneksi internet kurang sip. Bapak Ibuk yang pakai internet sekedar untuk chat WA, baca berita, baca blog anaknya, dan kadang-kadang YouTube nggak masalah dengan ini. Mereka sudah terbiasa. Tapi saya yang terlanjut terbiasa internet-active suka geregetan.

Kondisinya memang berbeda dengan ketika saya di Bandung sehari-harinya. Karena kebetulan di kota jadi internet provider apapun 4G banter. Ketika pagi masuk kantor atau ketika sore pulang ke kosan juga semua gadget langsung terhubung wifi.

Entah kenapa ketika pulang ke Bantul saya seperti kehilangan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang biasanya ada dalam genggaman jadi tidak ada, atau lebih tepatnya kadang ada kadang tidak. Ya sesimpel koneksi internet. Saya kecanduan internet ? mungkin, tapi kayaknya banyak yang begitu hehe. Lain waktu bahas soal kecanduan internet deh, InsyaAllah.

Saya pikir-pikir, kenapa ya sampai merasa begitu ? Di sisi lain petani-petani di kampung yang hp-nya belum tentu bisa buat internetan baik-baik saja. Dulu orang tua kita juga tumbuh dewasa tanpa internet dan bisa menjadi seperti sekarang. Berarti masalahnya bukan pada tidak adanya internet, tapi pada perubahan dari ada menjadi tidak ada.

Saya mengalami shock  ketika pindah dari tempat yang internet-rich ke tempat yang internet-rare. Yang membuat saya merasa kehilangan adalah karena sebelumnya terlanjur terbiasa dengan internet tahu-tahu perlu strugle untuk dapat sinyal 4G banter. Coba kalau di Bandung saya jarang pakai internet, pasti nggak ada masalah berarti. Atau andai saya lebih lama libur di Bantul-nya, pasti lama-lama terbiasa dan menjadi baik-baik saja.

Perubahan dari punya menjadi tidak punya lebih menyesakkan daripada tidak punya itu sendiri.

Mari kita bicara hikmah mumpung masih Syawal. Kita perlu bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah pada kita. Tapi saya jadi mikir, apa-apa yang kita pengen dan belum kesampaian untuk memilikinya, jangan-jangan itu karena Allah tahu kita belum siap andaikan nanti kehilangannya ? Manusia itu tahu sedikit tentang yang sekarang, gampang lupa dengan yang lalu-lalu, dan totally nggak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Kedua, kehilangan sesuatu akan meninggalkan ruang kosong. Bisa ruang fisik, misal kehilangan kendaraan atau perabot rumah. Bisa 'ruang' waktu ketika seseorang kehilangan pekerjaannya. Bisa ruang batin kita seseorang kehilangan sesuatu yang dicintainya, kucing kesayangan mati misalnya. Susah untuk nggak bersedih, tapi jangan lupa bahwa ruang yang kosong itu bisa diisi hal yang baru. Kalau kamu sedang pada posisi itu, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik dan lebih gampang kita menemukan syukur atasnya. Aamiin.

Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya - Letto

Sekian. Saya baik-baik saja kok alhamdulillah tidak sedang kehilangan sesuatu. Cuma sebagai pengingat saja bahwa ada dua cara sesuatu hilang. Pertama, memang diambil dari kita. Kedua, kita yang memutuskan untuk meninggalkannya. 


Chandra



Kenapa Idul Fitri di Indonesia rame ? Selain jumlah umat muslim Indonesia yang segunung, juga karena lebaran adalah saat dimana uang sedang beredar banyak-banyak di masyarakat. Vendor pengisi ATM siaga penuh. Nafsu belanja lagi tinggi-tingginya. Nikmat orang yang berpuasa selain waktu berbuka adalah datangnya lebaran.

Beberapa hari terakhir ramadhan sekaligus beberapa hari menjelang lebaran, orang berbondong-bondong berbelanja mulai dari kue kering untuk suguhan, bahan masak opor, pakaian untuk tampil, gadget, emas/perhiasan, sampai kendaraan. Terpantau populasi kendaraan ‘plat putih’ meningkat menjelang lebaran.

Mulai dari kios sembako di pojok Pasar Ngangkruk sampai outlet produk branded di Hartono Mall meriah menjelang dan sesudah lebaran. Mungkin hanya 1 syawal aja yang agak sepi karena orang-orang masih sibuk berbahagia dengan keluarga, sisanya adalah primetime buat golongan orang yang suka belanja dan pengusaha yang ingin memanfaatkannya.

Lebaran boros. Apa-apa ingin dibeli. Belum lagi ponakan yang jumlahnya berlipat dan tuntutan angpaonya nambah terus. THR nggak nutup katanya. Banyak yang jebol katanya.

Tapi apa benar hobi belanja dan jajan (makan) itu jelek ? menurut saya nggak selalu.

Waktu 10 tahun yang lalu ada krisis ekonomi, para ahli bilang bahwa yang menyelamatkan perekonomian Indonesia adalah kegiatan ekonomi akar rumput. Kenapa ? karena mereka membeli dari sesamanya, nglarisi dulur

Aktivitas ekonomi di pedesaan berpusat di pasar tradisional dimana pembeli dan penjualnya adalah orang sekitar pasar itu. Kalau mau lebih lengkap paling swalayan yang pemiliknya juga orang setempat, bukan jaringan mart-mart itu. Butuh daging ayam ? beli di pasar. Telur asin ? kampung sebelah ada yang bikin. Servis motor ? keluar pinggir jalan raya ada bengkel. Es kepal milo ? deket rumah ada tetangga jualan.

Seorang anak yang baru dapat angpao ke konter pulsa beli paket data untuk main mobile legend. Pemilik konter bisa ke pasar beli sepeda untuk anaknya. Penjual sepeda beli bakso. Pegawai warung bakso gajian, bisa beli alat tulis dan sepatu untuk tahun ajaran baru. Pegawai yang lain bisa renovasi rumah biar cakep pas banyak tamu waktu lebaran, dia minta tolong tetangganya untuk ngecat. Tetangganya bisa beli . . beli apa ya . . bisa beli khong guan buat suguhan misalnya. Yagitu, muter terus, itulah kenapa namanya “memutar roda perekonomian”.

Ada sebuah daerah di Amerika yang dulu memiliki budaya yang ketat mengatur kalau beli apa-apa dari tetangga atau saudaranya. Efeknya, ketahanan terhadap gejolak ekonominya luar biasa. Yang deket ada juga, salah satu komunitas dalam Islam di Indonesia mempraktekkan hal serupa.

Semua orang punya andil dalam perputaran ekonomi ini dengan perannya masing-masing. Posisi dan besarnya juga sendiri-sendiri.

Yang jadi masalah adalah ketika kita memaksakan untuk mendayung dengan dayung yang terlalu berat sampai kita sendiri tidak mempu mengangkatnya. Kalau mesin kita 110cc ya nggak usah memaksakan menggerakkan Harley. Kita sering nggak sadar sampai spending ini jadi nggak sehat. Boros ini yang buruk. Ini yang bikin jebol. Betapa penting yang namanya proporsional.

Ketika old money liat brosur Juke dan dua hari kemudian sudah ready di garasi, apakah itu buruk ? Enggak jika dilihat nilainya karena itu kecil bagi dia. Tapi perlu dicek juga apakah ada unsur kesia-siaan ? Kalau sia-sia ya nggak bagus juga.

Ada beberapa komponen penunjang pertumbuhan ekonomi. Tahu nggak apa yang signifikan untuk Indonesia ? Yang membantu Indonesia jumawa punya angka selalu lebih tinggi dari Jerman. Itu adalah konsumsi. Siapa yang paling berperan dalam konsumsi ? Kelas menengah. Kita-kita ini.

Kita ini yang ribut ingin ini itu. Ingin nonton bioskop, makan donut JCO, es kepal milo, paket internet, baju lebaran, kosmetik, sepatu, setrika, TV, Iphone buat selfie-depan-cermin, hingga beli motor sampai jumlah motor lebih banyak daripada jumlah orang di rumah. Duitnya muter muter muter muter terus. Sehat negara ini. Merdeka!

Nggak usah sok bicara revolusi, demo, ganti presiden, tetap jokowi, ngancam golput, dll. Just shup up and go spend your money di warung tetangga.


Chandra









Allah kalau kasih hujan nggak peduli pohon itu tinggi atau pendek, semua basah. Jadi tidak usah dibanding-bandingkan, kalau pohon kelapa lebih tinggi dari yang lain itu karena pohon kelapa ya begitu itu, pohon yang lain ya begitu itu. Sama, kalau Allah kasih hidayah tidak memandang umurnya, apakah dia tua atau muda, umurnya berapa, semua dapat.

Kira-kira begitu kata-kata Cak Nun dalam salah satu forum Kenduri Cinta.

***

Pasalnya saya baru terkesima nemu blog milik seorang adik*. Usianya beda kira-kira 3 tahun lebih muda dari saya. Dia sudah menulis sejak 2010 (dan gak gonta-ganti blog), waktu itu mungkin baru lulus SD. Awkward sendiri kalau ingat dulu waktu usia segitu ngapain sehari-harinya.

Kalau saya baca tulisan tahun 2018 berarti itu karyanya pada usia sekitar 20 tahun, sama dengan saya waktu tahun 2015. Tahun 2017 dia ekuivalen dengan 2014 saya, 2016 dia dengan 2013 saya, 2015 dia dengan 2012 saya, dst sampai 2010 dengan 2007. . .

Saya jadi berada diantara malu dan kagum. Malu karena blog ini belum seberapa umurnya tapi udah banyak omong. Kagum karena orang yang hanya baca tulisannya tanpa kenal dengan orang dibaliknya pasti salah menebak usia penulis. Pemikiran, ide, dan cita-citanya sama sekali bukan seperti anak kelahiran 1998. Sangat dewasa.

Tulisannya memang nggak banyak, tapi bobotnya jangan ditanya. Banyak inspirasinya. Dia menuliskan dalam catatan blognya :
"Apa-apa yang ditulis diharapkan menjadi media pengingat juga bahan renungan bagi penulis pribadi sebenarnya"
Percayalah dik, kamu bisa menginsipirasi banyak orang melalui tulisanmu. Proud of it.



*adik sepupu, baru ketemu lebaran ini setelah sekian lama

***

Selamat Idul Fitri 1439H
Taqabbalallahu minna waminkum
Mohon maaf lahir dan batin



Some people now think there are six salahs : Fajr, Dhuhr, Ashr, Maghrib, Isya, and Mohamed (Salah) - Mufti Menk
Saya agak kaget ketika beberapa teman yang selama ini nggak ngikutin kabar sepakbola dunia tahu-tahu bicara soal Liverpool. Usut punya usut ternyata mereka membaca soal Mohamed Salah

Ketika sepakbola dunia 10 tahun terakhir adalah soal Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, tiba-tiba muncul pemain bola asal Mesir, bermain di Liverpool, yang menjadi pemain terbaik dan top scorer Liga Inggris plus memecahkan rekor gol terbanyak dalam satu musim, membawa Mesir ke Piala Dunia 2018, dan mengantar Liverpool ke Final Liga Champions.

Kalau Salah berasal dari Jerman atau Spanyol, atau bermain di klub kelas satu dunia (Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen) mungkin efeknya tidak sebesar ini. Tapi Salah berasal dari Mesir, negara yang tidak tiap empat tahun masuk World Cup. Lalu dia bermain di Liverpool, tim yang walaupun terakhir juara liga sudah 26 tahun yang lalu tapi saya tetep suka.



Salah memulai karir di Eropa bersama FC Basel di Swiss, lalu pindah ke Liga Inggris setelah dibeli Chelsea. Sayangnya dia gagal bersinar di Chelsea. Jarang dimainkan dan hanya mencetak sedikit gol, 2 kalau gak salah. Dua musim gagal di Chelsea dia dipinjamkan ke Fiorentina (Italia) lalu hijrah ke AS Roma. Di Roma Salah mulai bersinar, di musim terakhirnya Salah bermain 31 kali dan mencetak 15 gol. Jurgen Klopp (manajer Liverpool) merekrutnya. and BOOM!!

Salah langsung jadi bintang di musim pertamanya di Liverpool. Total 44 gol dalam semusim menyamai rekor Ian Rush dan mengalahkan Roger Hunt, Robbie Fowler, dan Fernando Torres. Di liga saja, catatan 32 gol adalah yang terbaik dalam sejarah liga 38 pertandingan. Rekor sebelumnya dipegang Alan Shearer, Cristiano Ronaldo, dan Luis Suarez dengan 31 gol. Edan.

Fans Liverpool sampai membuat chants untuk mengapresiasi Mohamed Salah


Tadi malam saya nggak tidur sampai Subuh. Nunggu pertandingan final Liga Champions 2018 antara Liverpool melawan Real Madrid. David vs Goliath. Madrid juara 3 kali dalam 4 tahun terakhir. Sementara Liverpool tidak punya satu pemain pun yang pernah bermain di final Liga Champions hingga tadi malam.

Sayang malang tak dapat ditolak. MoSalah sebagai silver bullet-nya Liverpool menangis terduduk di menit 30 akibat cedera bahu setelah insiden dengan Sergio Ramos. Salah keluar dan rencana yang sudah disusun kacau. Ditambah dua blunder dari kiper Karius (plis musim depan beli kiper yang proper), pertandingan selesai dan Liverpool kalah 3-1. Heartbreaking. Ini pengalaman nonton bola paling menguras emosi seumur-umur.

Walau gagal menutup musim dengan trofi Liga Champions, tapi Salah telah melakukan hal yang luar biasa musim ini. Tidak banyak yang bisa melakukan apa yang sudah dia lakukan. Demam Salah menjalar ke seluruh dunia.

Lebih dari sejuta pemilih Mesir 'nyontreng' Salah, lebih dari salah satu calon...

Bicara soal Salah sebagai seorang muslim, komunitas dan tokoh-tokoh muslim menjadikannya kebanggaan. Seorang muslim yang taat bermain di Eropa, di tempat yang selama ini cukup dekat dengan Islamophobia. Dia menjadi pusat perhatian. Media-media memberitakan karena itulah berita yang laku dijual. Nama 'Mohamed' menyebar ke seluruh dunia.

Kehidupan Salah juga mulai disorot. Istrinya yang berhijab jauh dari rata-rata WAGs (wife and girlfriends) pemain bola yang biasanya adalah artis atau model seksi. Selebrasi andalannya dengan sujud mulai menjadi trend. Salah benar-benar tampak berbeda dari figur-figur yang ada saat ini.

Di Indonesia, beberapa ustadz memasukkan nama Mohamed Salah sebagai salah satu teladan bahwa di era modern dakwah harus dilakukan dengan cara yang disukai orang banyak dan menjadi magnet bagi media untuk menyiarkan. Untuk saat ini Salah adalah sosok paling fenomenal dan sesuai untuk penggambaran itu. Beberapa yang saya lihat videonya adalah Ustadz Adi Hidayat dan Ustadz Bachtiar Nasir, juga Mufti Menk dengan quote di atas.

What if Sujud celebration becomes trend in Europe ? in frame : Salah and Mane (Senegal)

Sampai-sampai ada fans yang bilang, "kalau Salah bikin gol lagi saya akan jadi muslim", "Salah turns me into moslem".

Saya sendiri, sebagai muslim sekaligus fans Liverpool sejak pertama ngerti bola, sedang berada pada masa bangga-bangganya jadi fans. Liverpool is getting better and bigger in all aspecs. Waiting for amazing plays next season onwards.

Mo Salah Mo Salah Mo Salah
Running down the wing
Salah lah lah lah lah
Egyptian King

Don't stop running, Mo!

Chandra
Previous PostOlder Posts Home