Saya suka keju, tapi ini bukan soal keju makanan, melainkan dugaan kasus pemerkosaan. Walah..

Sekitar seminggu yang lalu warganet dihebohkan oleh berita dugaan tindak pemerkosaan yang dilakukan oleh sesama mahasiswa KKN asal sebuah perguruan tinggi negeri di Jogja. Kejadiannya sudah cukup lama, yaitu pertengahan tahun 2017 di Maluku. Kasus ini kembali viral setelah diulas oleh salah satu media kampus.


Menanggapi berita ini, orang-orang terbagi menjadi dua kubu. Mayoritas netizen tentu berada di belakang Mbak Agni (ini nama samaran kan ya?), korban yang saat ini terus berusaha mengadvokasi dirinya. Mereka mengutuk perbuatan HS dan bahkan menyamakannya dengan binatang. Kubu kedua adalah pihak-pihak yang menganggap ini bukan semata-mata kesalahan HS tapi juga ada kontribusi dari Agni.

Kubu pertama menganggap yang kedua tidak punya hati dan melakukan victim blamming. Sebaliknya, kubu kedua menganggap netizen melakukan public shaming kepada HS hanya bersumber dari satu tulisan dengan satu sudut pandang. Tawuran online terjadi di banyak media sosial selama beberapa hari.

Tawuran online bagi saya sangat memuakkan. Sudah tahu "aku maunya begini kamu maunya begitu" tapi tetap bales-balesan. Padahal susah tercapai mufakat kalau cuma lewat tulisan. Adu argumen ilmiah masih mending nambah pengetahuan orang yang baca, tapi seringnya cuma adu sindiran sambil berusaha memancing emosi lawan. Lebih menjijikkan lagi kalau ada yang berani beda pendapat langsung rame-rame dibully.

Selain kasus itu, minggu-minggu ini media juga dipenuhi berita kecelakaan pesawat Lion Air JT610 yang rencananya terbang dari Jakarta menuju Pangkal Pinang namun hilang di Perairan Karawang. Turut berduka cita untuk seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Dalam sebuah acara diskusi di TV hadir seorang pengamat penerbangan. Beliau berbicara soal apa yang seharusnya dilakukan oleh berbagai pihak untuk mencegah kecelakaan yang sama kembali terjadi. Beliau adalah Bapak Gerry Soejatman, dari penjelasannya saya jadi punya ide untuk berpendapat soal kasus HS-Agni tadi dengan lebih rapi dan nggak perlu emosi.

Beliau berbicara soal Swiss Cheese Model, yaitu sebuah cara pandang yang menjelaskan bagaimana sebuah kecelakaan terjadi. Biasanya metode ini dilakukan untuk mengukur resiko kegagalan engineering, termasuk dalam dunia penerbangan.



Perhatikan gambar di atas, ada 4 "layer keju berlubang". Pada suatu kondisi ketika keempat lubang itu terletak segaris maka terjadilah kecelakaan yang dimaksud. Lubang-lubang ini boleh jadi tidak bisa ditutup. Setiap produk engineering memiliki margin error, manusia bisa mengantuk dan lalai, manajemen belum tentu berjalan baik, cuaca bisa tidak bersahabat, dan lain sebagainya. Faktor resiko itu selalu ada.

Regulasi, hukum, norma, dan peringatan dibuat agar lubang-lubang tadi - meskipun tidak bisa ditutup - tidak segaris sehingga kecelakaan bisa dihindari. Cuaca boleh kurang baik, tapi jika pilot cakap secara skill dan bugar karena penjadwalan yang longgar maka diharapkan masalah cuaca bisa diatasi dengan baik dan selamat. Itu salah satu contohnya kalau bicara soal dunia penerbangan.

Kembali ke dugaan kasus pemerkosaan. Empat layer keju di atas dapat diterapkan : unsafe actions, preconditions for unsafe actions, weak supervision, dan organizational influence. Secara umum begitu, tapi bisa berbeda tergantung pada apa kasusnya.

Melihat musibah yang menimpa Agni melalui kacamata Swiss Cheese Model memberikan pendangan yang lebih rasional. Mungkin cara ini tidak akan banyak membantu penyelesaikan kasus yang sudah terjadi. Tapi ini membuat kita lebih mudah memahami faktor-faktor yang menyebabkan perkosaan terjadi. Dengan mengetahui hal itu, semoga kejadian serupa dapat dicegah di masa yang akan datang.

Untuk kasus Agni, unsafe actions adalah peristiwa perkosaan itu sendiri. Lalu preconditions for unsafe action adalah menginap, sekamar berdua laki-laki dan perempuan, pergi sendirian di daerah asing, dan latar belakang yang membuat Agni pergi. Sampai sini mulai muncul pertanyaan misalnya kenapa sih harus menginap ? kenapa harus keluar sore-sore ? terlalu penting kah sampai tidak bisa ditunda besok paginya ?

Lalu ketiga masalah weak supervision. Kemana teman-teman KKN yang lain sehingga (1)Agni pergi sendirian, (2) bisa-bisanya hanya berdua di pondokan laki-laki. Tidak ada induk semangnya kah ? Apa tidak ada inisiatif untuk mengantar Agni pulang ke pondokan perempuan daripada harus menginap ?

Keempat, soal organisasi, yaitu kebijakan kampus untuk mengirim KKN ke seluruh Indonesia, sebagiannya di tempat yang masih tertinggal alias pelosok. Ini sebenarnya baik dan bukan sebuah kesalahan. Oleh karenanya tadi saya bilang belum tentu lubang keju bisa ditutup, yang penting tidak segaris.

Sekarang coba bayangkan, jika saja Agni tidak menginap tentu ini tidak terjadi, atau jika di pondokan itu ada orang lain pasti ada yang masih berakal sehat dan mencegah kejadian ini, jika saja sore itu Agni ada kegiatan dengan teman KKN lain, jika saja Agni tidak tergabung dalam kelompok KKN ini, dan jika jika yang lain.

Tapi kok ya ndilalah lubangnya tuh sinkron. Kok ya sore itu keluar sendirian, kok ya nginep, kok ya berdua tok dengan HS, kok pas teman-temannya gak ada yang bareng, kok ya terjadi padahal banyak skenario lain agar kecelakaan ini tidak pernah ada...

Pada akhirnya Swiss Cheese menjelaskan tentang kebetulan yang luar biasa.

Nasi sudah menjadi bubur, semoga semua yang terlibat mendapat keadilannya masing-masing. Tapi setidaknya sekarang kita sudah mempunyai pertanyaan untuk dijawab. Daripada berdebat siapa yang lebih salah mending dirumuskan apa yang harus dilakukan untuk mencegah kejadian yang sama.

Ada usulan dalam satu kelompok KKN dibuat laki-laki saja atau perempuan saja. Ada yang usul KKN di tempat jauh dihapuskan, ada yang bilang dosen pembimbing ditambah dan harus sering berkunjung. Ada juga yang usul KKN dihilangkan saja karena dimana-mana rawan pelecehan oleh sesama mahasiswa atau warga setempat.

Boleh nggak setuju karena toh itu cuma gertakan netizen yang emosi. Tapi perhatikan bahwa pada intinya harus segera dilakukan perbaikan dalam berbagai sisi untuk mencegah lubang tadi segaris lagi.

Entah membaca ini membuat Anda lebih tercerahkan atau malah makin pusing. Tapi kalau ditanya saya akan menjawab dengan cara ini. Mencoba memilah-milah masalah agar lebih jelas apa sebabnya.

Setidaknya hikmah yang dapat diambil dari publikasi balairungpress yang meledak ini adalah orang-orang sadar dan berani menyuarakan tindak pelecehan seksual serta mengutuk pelakunya. Resiko yang diambil Agni untuk menceritakan peristiwa tersebut, walaupun sebagian orang mencacinya, tapi membuat semakin banyak pula pihak yang berdiri di belakangnya. Semoga dengan ini masalah dapat segera diselesaikan dengan seadil-adilnya.

Aamiin

Salam,
Chandra

Seorang pengacara kasus korupsi masuk ke sebuah warung kopi. Dengan wajah kusut ia duduk di salah satu sudut. Yang ia inginkan saat itu adalah menjauh dari semrawutya urusan pekerjaan dan mengambil sedikit jeda, semoga cukup untuk membuat pikiran lega dan sejenak lupa dengan urusan perkaranya. Klien yang tidak jujur dan banyak mau serta kenyataan bahwa korupsi itu benar terjadi cukup membuatnya pusing tujuh keliling.

Warung kopi itu adalah milik Yanto. Sesungguhnya ini hanyalah warung kopi sederhana di salah satu gang di sudut kota Jakarta. Sebenarnya tidak cocok dengan profil dan penampilan sang pengacara. Dengan jas dan dasinya dia seharusnya masuk ke kedai kopi di mall-mall yang menyajikan berbagai jenis racikan kopi. Sedangkan warung kopi Yanto hanya menyediakan beberapa merk kopi sachet, gorengan, dan indomie sebagai maincourse-nya.

Bermodal keramahan, Yanto menghampiri sudut meja tempat pak pengacara duduk lalu bertanya.

"Kok saya perhatikan dari tadi ngalamun saja Pak ? Mau dibikinkan kopi ?", tanya Yanto.

"Iya Mas, lagi pusing soal kerjaan ini", jawab pak pengacara.

"Kalau boleh tahu bapak ini kerjanya apa ya ?"

"Saya pengacara"

"Pengacara itu kerjanya ngapain ya Pak ?"

"Yaa begitulah Mas, susah dijelaskan, kerja dengan logika pokoknya"

"Saya ini cuma tukang kopi Pak, mbok bahasanya jangan tinggi-tinggi, logika itu apa ya Pak ?"

"Hmm..gini aja saya contohkan. Saya lihat disitu ada akuarium tuh, pasti kamu penyayang binatang, kemungkinan di rumah punya kucing atau anjing".

"Oh iya Pak betul, saya punya kucing, dua kucing saya".

"Oke, kalau sayang binatang harusnya kamu sayang keluarga juga. Kalau dilihat umurnya harusnya sudah punya anak, betul ?"

"Wah betul Pak, anak saya satu perempuan"

"Kalau begitu pasti sudah menikah"

"Ya jelaslah Pak, mosok belum"

"Kalau gitu bisa saya simpulkan kamu bukan LGBT"

"Astaga, jelas bukan lah Pak, amit-amit. Wuuh hebat dari akuarium bisa tahu kalau saya nggak LGBT. Jadi itu kerjaan logika yaa Pak, terima kasih saya paham."

"Sudah sana, bikinkan saya kopi"

Pembicaraan yang seru ini mengundang perhatian dua pengunjung lain warung kopi tersebut, Salah satu dari mereka bertanya.

"Ngobrolin apa eh Pak kok kayak serius banget ?", tanya dua orang itu.

"Logika le"

"Wah..logika itu apa Pak ?"

"Susah, kalian nggak akan paham", kata Yanto dengan nada guyon.

"Gini, tak kasih contoh aja", kata Yanto melanjutkan,"kalian punya akuarium nggak di rumah ?"

"Enggak", jawab kedua orang itu sambil agak bingung.

dengan lantang Yanto menjawab, "berarti kalian homoo!!!"

***

Kisah di atas terinspirasi dari sebuah sharing session di Youtube. Ada dua hal yang bisa kita petik dari cerita tersebut.

Pertama, betapa seringnya kita terburu-buru mengambil kesimpulan atas sesuatu yang kita tidak tahu ada apa di baliknya. Kita terbiasa pegang satu ujung dan langsung loncat ke ujung yang lain, tanpa merunut satu-satu apa yang ada di antaranya.

Kita terlalu malas untuk membaca paragraf-paragraf berita sehingga membagikannya begitu saja di media sosial. Kita juga merasa sibuk dan tidak punya waktu untuk menonton video di YouTube sampai akhir dan langsung berkomentar pedas hanya bermodal membaca judul dan melihat thumbnail-nya.

Entah itu faktor budaya literasi yang rendah, kebiasaan sekolah yang mementingkan tahu daripada paham, atau memang secara genetik kita punya tingkat rasa ingin tahu yang kurang. Hmm mungkin yang terakhir itu salah, rasa ingin tahu kita tinggi, tapi sering ditempatkan pada hal-hal yang tidak begitu penting.

Kedua, dalam cerita itu Yanto melihat dengan begitu sempit hubungan antara akuarium dan (maaf kalau tabu) orientasi seksual. Pak pengacara menyambungkan dua hal itu untuk memberikan ilustrasi yang mudah dipahami, tapi tentu hubungannya tidak sesederhana dan sesempit itu.

Dalam banyak hal kita memandang sesuatu dari lubang kunci. Perspektif kita sangat sempit sehingga mudah menyalahkan, mudah marah, dan selalu ingin menghakimi. Kita tidak bisa melihat alasan-alasan lain yang menjadi latar belakang terjadinya sesuatu. Kita mencaci orang yang ugal-ugalan di jalan karena kita tidak terima disalip, tapi siapa tahu dia sebenarnya sedang buru-buru ke rumah sakit karena ada saudaranya yang kecelakaan.

Orang disebut dewasa jika sudah bisa menemukan posisi salahnya pada setiap kejadian. Atau setidaknya dia bisa memaklumi dan memahami posisi benarnya orang lain.

Sekian cerita dari warung kopi, semoga punya arti.

-Chandra-


Apple saat ini merupakan salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia dengan brand value mencapai 300bn USD. Pendapatan Apple naik dari 8bn USD pada 2004 menjadi 230bn USD pada 2015, luar biasa. Salah satu produknya, iPhone, terjual lebih dari 200 juta unit pada tahun 2017 di seluruh dunia. Tapi, flashback ke tahun 1997an, sekitar dua puluh tahun yang lalu, Apple adalah perusahaan yang hampir bangkrut.

Eksklusivitas sudah menjadi roh Apple sejak dilahirkan. Sederhananya, mereka menjual hardware dan software secara bundling, berbeda dengan Microsoft yang melepas softwarenya untuk dapat digunakan pada hardware manapun dan membuat produsen hardware saling jotos sementara Microsoft foya-foya dengan besarnya marketshare mereka.

Ekskusivitas ini membuat dari dulu hingga sekarang harga perangkat komputer Apple mahal. Pada tahun 1997 ketika hampir bangkrut itu harga Apple tidak sesuai dengan keinginan orang-orang dimana komputer kebanyakan digunakan untuk bisnis dan perkantoran. Microsoft menguasai 90% pengguna komputer.

Timpangnya jumlah user Microsoft dan Apple membuat pengembang perangkat lunak seringkali mendesain produknya kompatibel dengan OS Microsoft saja, tidak bisa dijalankan di Mac. Kondisi ini membuat penjualan komputer Apple semakin lesu. Apa gunanya membeli komputer kalau tidak ada program yang dapat dijalankan di dalamnya. Nilai saham Apple anjlok. Pada satu titik mereka punya cadangan cash yang cukup untuk bernapas hanya selama 90 hari. 

Pada saat-saat sulit ini, Steve Jobs yang sebelumnya sempat didepak ditarik lagi sebagai leader. Menghadapi persoalan perusahaan terancam bubar, tanpa berlama-lama petinggi Apple mengambil keputusan yang sangat mengejutkan. Bahkan orang-orang Apple sendiri pun banyak yang tidak percaya.

Mereka mencari investor untuk mendapatkan dana segar. Banyak pihak dihubungi untuk ditawari kerjasama. Namun, kesepakatan akhirnya tercapai justru dengan rival abadi mereka : Microsoft.

Di Macworld Boston Steve Jobs berdiri di panggung. Bukan untuk merilis produk terbaru Apple, melainkan  mengumumkan kerja sama dengan Microsoft. Tidak semua orang setuju. Ketika Steve berkata bahwa Microsoft Office akan dijalankan di Mac butuh waktu beberapa detik untuk orang percaya dan mulai bertepuk tangan. Bahkan ketika dikatakan bahwa Internet Explorer akan menjadi browser standar di Mac lebih banyak yang bersorak huuuu.

Dengan riwayat panjang mengenai perseturuan soal hak paten, petinggi Apple pasti sadar bahwa keputusan ini tidak akan dengan mudah diterima oleh setiap orang di Apple. Pasti ada orang yang secara personal 'membenci' Microsoft. Persaingan Apple dan Microsoft sama seperti Nike vs Adidas, Rossi vs Marquez, atau fans Barcelona vs fans Real Madrid.

Tapi setelah dua puluh tahun, terbukti bahwa keputusan yang diambil Apple saat itu untuk menerima investasi dari Microsoft sangatlah tepat. Kini Apple menjadi perusahaan raksasa dengan brand yang sangat prestisius. Ada beberapa hal yang dapat dipelajari dari shocking deal antara Apple dan Microsoft ini

Pertama, bahwa pada semua level tolong menolong itu perlu. Steve Jobs dan Bill Gates tahu hal itu, maka kerjasama ini tercapai. Nampaknya memang dalam kasus ini Microsoft menyelamatkan Apple, namun faktanya Apple juga menyelamatkan Microsoft dari tuntutan hukum yang mengancamnya disebabkan dugaan kecurangan bisnis dan monopoli. Kelangsungan hidup Apple adalah angin segar juga bagi Microsoft karena persaingan tetap berjalan. Jika orang sekeras Steve Jobs dan Bill Gates saja saling menyelamatkan, kenapa kita saling menjatuhkan ?

Kedua, idiom mundur satu langkah untuk maju tiga langkah memang nyata adanya. Bahkan dalam kasus ini Apple seperti mundur beberapa langkah dengan menerima Microsoft sebagai partner. Petinggi Apple pasti tahu akan ada gejolak di intern mereka. Tapi pahit pun harus diambil untuk menghidari keburukan yang lebih besar.

Ketiga, memang Steve Jobs jago negosiasi. Kepemilikan saham Apple oleh Microsoft senilai 150 juta USD adalah berupa non-voting stocks. Artinya walaupun memegang saham, Microsoft tidak akan ikut campur urusan rumah tangga Apple. Apple dapat tumbuh sesuai yang mereka inginkan. Eksklusivitas tetap mereka pertahankan hingga sekarang dan menjadi alasan orang-orang mau membeli walaupun harga produknya tinggi. Apple tidak dijajah oleh Microsoft. Maka tetap jadilah dirimu sendiri.

Mengikuti cerita Apple dan Microsoft tidak akan ada habisnya. Dua kubu ini akan terukir dalam sejarah sebagai The Innovators, punya peran sangat besar dalam kemajuan teknologi digital pada khususnya dan kemajuan peradaban pada umumnya karena Microsoft + Apple (+ Linux) = 99.99% penggunaan komputer dunia. 


Judul : Mengukir Peradaban
Penulis : Fahmi & Zahra
Penerbit : CV. Masyhida
Tahun : 2018

Buku ini ditulis oleh dua orang teman saya, sepasang suami istri, Khoirul Fahmi dan Zahratul Iftikar. Tahun lalu mereka melangsungkan pernikahan yang cukup mengundang perhatian dan apresiasi karena selain keberanian mereka untuk menikah pada usia yang relatif muda, kisah perkenalan dan proses menuju pernikahannya juga unik dan inspiratif. Saya pikir kisah mereka ini memang layak untuk dibukukan untuk memberikan paradigma baru soal pernikahan bagi banyak orang. Jadi ketika Fahmi dan Zahra menulis dan menerbitkan buku ini saya termasuk orang yang penasaran seperti apa isinya.

Saya membeli buku ini pada periode open order yang kedua. Penulisnya menyebut ini edisi kedua tetapi sepertinya ini adalah penyempurnaan dari buku sebelumnya yang berjudul sama. Saya pikir lebih sesuai disebut cetakan kedua (?), entahlah pasti ada pertimbangan sendiri dari penulis dan tim. Tapi intinya kalau mau beli buku ini bisa cek instagram Catatan Fahmi Zahra. Setahu saya pembeliannya bisa dilakukan dengan COD untuk kota tertentu dan melalui Bukalapak. Saya sendiri kemarin nitip pada seorang teman untuk COD di Jogja saja, lebih gampang dan tanpa ongkir. Terima kasih Nourma mau dititipi.

Masuk ke intinya, menurut saya buku ini adalah gabungan dari tiga komponen utama yang saling berhubungan. Pertama adalah kisah pertemuan dan persiapan menikah yang dijalani oleh Fahmi dan Zahra itu sendiri, yang tadi saya sebut inspiratif. Penulisannya menjadi menarik karena dalam buku ini secara bergantian keduanya menulis cerita dari sudut pandangnya masing-masing. Seolah-olah mereka menulis sendiri-sendiri tanpa berkoordinasi namun pada akhirnya bertemu di satu titik peristiwa, menarik sekali.

Komponen kedua dari buku ini adalah penjelasan mengenai persiapan menuju pernikahan dari sisi spiritual seperti bagaimana meluruskan niat dan paradigma, merancang life plan dan life goal, serta bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang seringkali mengundang kegalauan. Ketiga, masih soal persiapan pernikahan juga, namun dari segi teknis. Ini meliputi apa saja yang dilakukan dan perlu dipersiapkan dalam melaksanakan acara atau prosesi khitbah, akad, walimah, hingga pasca menikah.

Ada 3 persiapan yang membuat karakter orang berubah drastis : persiapan perang, persiapan kematian, dan persiapan menuju pernikahan - fahmizahranotes.com

Sama seperti tulisan-tulisan yang secara rutin mereka tuangkan di blog, buku ini mengandung banyak sekali nasehat yang berguna bagi siapapun yang membacanya. Buku ini layak dibaca oleh siapapun, namun mengingat pembahasannya didominasi soal persiapan pernikahan, mungkin yang paling nyambung secara konteks adalah pemuda pemudi yang berada pada usia menjelang menikah serta orang tua-orang tua yang memiliki anak pada usia tersebut.

Satu saja pesan saya, sesudah membaca buku ini alahkah baiknya jangan ujug-ujug terobsesi untuk cepat-cepat menikah dan mengikuti metode yang sama seperti yang dilakukan Fahmi dan Zahra. Kita perlu memahami kesiapan pribadi dan keluarga masing-masing. Memang sebaiknya segera, tapi segera dan buru-buru itu berbeda. 

Sekian review buku Mengukir Peradaban, semoga bermanfaat bagi yang membaca. Buku ini adalah sebuah terobosan yang sangat baik untuk memberikan gambaran yang gamblang tentang apa-apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menyongsong pernikahan, tentu dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami anak muda. Semoga penulis senantiasa diliputi kebaikan.

Salam,
Chandra

Tulisan ini adalah bagian kedua dari cerita soal ujian bahasa Inggris. Sebelum membaca ini, supaya nyambung, pastikan baca bagian pertamanya dulu di sini (IELTS).

Buat jaga-jaga andaikata pahitnya nilai IELTS saya nggak cukup tinggi untuk mendaftar beasiswa yang saya tuju, saya memutuskan ambil tes TOEIC (Test of English for International Communication). Lembaga yang menyelenggarakan TOEIC ini salah satunya adalah ITC (itc-indonesia.com). Ada beberapa alasan mengapa TOEIC ini perfect dijadikan sebagai Plan B.

Pertama, tidak seperti IELTS dimana peserta harus mengikuti semua section listening, reading, writing, dan speaking, untuk TOEIC kita bisa memilih untuk mengambil antara TOEIC Listening-Reading atau TOEIC Writing-Speaking. Saya sangat menyarankan untuk mengambil yang listening-reading saja karena menurut saya lebih mudah (sifatnya pasif) dan yang jelas lebih murah. Selanjutnya pembahasan pada tulisan ini berlaku untuk TOEIC Listening-Reading(LR) ya.

Alasan kedua, soal biaya yang lebih murah. Biaya untuk tes TOEIC resmi hanya 675 ribu rupiah. Lumayan sih, tapi jauh lebih murah daripada IELTS yang 2,9 juta. Biaya itu sudah meliputi biaya tes dan selembar Score Report. Score Report berbeda dengan sertifikat ya. Jika ingin mencetak sertifikat dikenakan biaya tambahan 220 ribu rupiah per lembar. Jadi total biaya TOEIC adalah 895 ribu. Tapi pencetakan sertifikat ini sifatnya tidak wajib, jika nilai belum sesuai target sebaiknya jangan cetak sertifikat dulu, tes lagi dan kalau sudah sesuai baru cetak.

Ketiga, hasil tes TOEIC ini sudah bisa dilihat 2 hari setelah tes. Setelah 2 hari nilai sudah bisa dilihat secara online di http://www.itc-indonesia.co.id/itcosv/logintaker.php dan score report sudah bisa diambil di tempat ujian atau dikirim via JNE. Tapi waktu 2 hari ini hanya berlaku untuk tes di Jakarta ya, cabang lain memakan waktu 7-14 hari. Berhubung saya kemarin ambil tes di Kelapa Gading Jakarta, dalam tempo 2 hari saya sudah tahu dapat skor berapa dan pada hari ketiga score report sudah mendarat di rumah atas bantuan JNE YES, ongkir dibayar peserta tes tentu saja.

Keempat, menurut saya pribadi TOEIC lebih gampang daripada IELTS. Selain cakupan tesnya yang lebih sempit (listening dan reading saja), soal TOEIC relatif lebih sederhana. Tidak banyak rumus yang perlu dipegang, belajar English secara casual dari baca artikel, buku, dan nonton video berbahasa Inggris saya rasa cukup.

Berbeda dengan IELTS, kebanyakan peserta TOEIC (yang saya temui) adalah golongan profesional yang mengambil tes ini untuk keperluan rekrutmen, naik jabatan, akreditasi, atau untuk mengikuti event tertentu di tempatnya bekerja. Kebanyakan peserta sudah berumur, bapak-bapak ibu-ibu gitu lah, ada ekspatriat juga.

Kesimpulannya, kalau Anda belum yakin untuk mengambil IELTS, TOEIC ini bisa jadi alternatif yang lebih friendly, lagipula beasiswa seperti LPDP menerima sertifikat TOEIC. Walaupun tidak semua universitas di luar negeri mempersilakan calon mahasiswanya menggunakan tes ini.

Ini adalah tes TOEIC kedua saya setelah dulu pernah mengambilnya waktu SMP. Tapi bisa dianggap ini yang pertama karena dulu saya belum paham esensi tes bahasa Inggris dan sudah lupa sama sekali kontennya. Saya nyaris tidak belajar TOEIC secara khusus karena terlalu repot dengan persiapan IELTS. Meski begitu karena ujiannya berupa listening dan reading belajarnya bisa dianggap paralel dengan IELTS. Dengan itu alhamdulillah saya mendapat skor di kisaran 9xx.

Tips dari saya pribadi, jangan lupa mempersiapkan diri dalam hal penggunaan LJK (lembar jawab komputer). Saya yang terakhir menggunakan LJK sekitar 5 tahun yang lalu sempat agak kesulitan untuk menghitamkan jawaban dengan cepat. Hal ini sangat merugikan karena waktu ujian sangat terbatas.

Silakan jika ada pertanyaan bisa tulis di kolom komentar atau via email chandranrhmn@gmail.com, InsyaAllah direspon


Salam,
Chandra


Ini adalah tulisan soal pengalaman saya mengambil tes IELTS alias International English Language Testing System. Mahasiswa atau alumni yang lagi bernafsu ingin daftar beasiswa ke luar negeri (for example LPDP) pasti tahu dan sebagian diantaranya galau karena : (1) biayanya lumayan mahal, (2) soalnya terkenal agak susah, (3) tidak ada kesempatan mengulang kalau nilainya kurang dari target, uang yang sudah dibayar hilang.

Akibatnya tidak sedikit yang berkali-kali ikut simulasi tapi ragu untuk mendaftar tes yang sesungguhnya, termasuk saya yang akhirnya mau tidak mau harus ambil tes bulan ini dengan harapan dapat band score diatas ambang batas dan bisa langsung digunakan untuk daftar beasiswa bulan September nanti. Ini ceritanya.

Lembaga yang resmi menyelenggarakan tes IELTS di Indonesia diantaranya British Council (indonesia.ielts.britishcouncil.org) dan IDP (www.idp.com). Silakan pilih salah satu lembaga diantara itu. Saya nggak tahu apakah ada lembaga resmi lain tapi dari sekian banyak teman saya yang ambil tes IELTS biasanya akan memilih antara BC atau IDP.

Saya berdomisili di Bandung dan kemarin mengambil tes melalui IDP. Alasannya simpel, karena ketika saya berusaha mencari kantor British Council Bandung nggak ketemu walaupun sudah mengikuti apa kata Google Maps. Alhasil saya meluncur ke IDP Bandung yang terletak di Jalan Naripan. Sebenarnya nggak perlu datang ke kantor begini karena toh semua proses pendaftarannya online. Tapi berhubung ini pertama kalinya saya ambil IELTS, saya merasa perlu bertanya beberapa hal.

Apa itu IELTS ?

IELTS sekarang ini jadi salah satu english testing system paling populer di dunia. Kebanyakan universitas di luar negeri mensyaratkan nilai IELTS tertentu untuk calon mahasiswa overseas. Mengingat beberapa universitas menjadikan IELTS sebagai kriteria utama (bahkan mengesampingkan the legendary TOEFL), popularitas IELTS kian meroket.

Tes IELTS terdiri dari 4 bagian yang semuanya harus dilalui oleh peserta : Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Listening terdiri dari 40 soal dan dikerjakan dalam waktu kira-kira 40 menit. Reading punya jumlah soal yang sama dengan waktu 60 menit.

Untuk writing peserta akan diberi 2 tugas (Task 1 dan Task 2). Task 1 biasanya berupa perintah untuk mendeskripsikan grafik, tabel, peta, gambar, proses, bagan, dll. Sedangkan untuk Task 2 peserta diminta menguraikan pendapatnya tentang suatu isu secara tertulis. Speaking, seperti namanya, berbentuk seperti interview selama 13-15 menit, bersama native speaker.

Pendaftaran

Semua proses registrasi IELTS dilakukan secara online. Silakan buka link BC atau IDP di atas untuk info lebih lanjut sekaligus mendaftar tes. Pilih lokasi dan waktu yang cocok sesuai domisili dan kesibukan masing-masing. Baik BC maupun IDP punya cabang di beberapa kota besar di Indonesia dengan jadwal tes masing-masing. Perlu diingat bahwa sertifikat IELTS akan keluar 13 hari setelah tes jadi pemilihan waktu tes jangan mepet deadline submission beasiswa atau apapun keperluan Anda.

Kemarin di IDP Bandung ada salah satu peserta yang berasal dari Yogyakarta. Waktu saya tanya kenapa ambil tes di Bandung dia jawab karena di Jogja sudah penuh kuotanya dan pendaftaran sudah ditutup. Jadi, buat yang mau ambil tes IELTS daftarnya jangan mepet-mepet ya...

Proses pendaftaran IELTS tidak susah, ikuti saja petunjuk di website. Jika ada kesulitan bisa kontak customer service BC atau IDP, pasti dibantu. Jangan lupa untuk menyiapkan identitas berupa KTP atau paspor. KTP atau paspor asli ini harus dibawa ketika tes, yang asli ya.

Biaya IELTS adalah $215. Karena kurs rupiah terhadap dollar terus berubah maka biaya yang harus dibayarkan dalam rupiah juga berubah. Tapi biayanya direview dalam periode satu bulanan kok, jadi nggak tiap hari fluktuasi. Bulan Agustus ini angkanya di 2,9 juta. September nanti bisa naik, tetap, atau turun tergantung kurs rupiah. Pembayarannya via transfer ya.

Oh ya, kebanyakan tes IELTS diselenggarakan di akhir pekan.

Persiapan Tes IELTS

Seiring pertumbuhan jumlah peserta tes IELTS, makin banyak pula lembaga yang menyelenggarakan bimbingan belajar internsif persiapan IELTS. Kalau kamu kamu punya waktu saya sarankan ambil saja bimbingan seperti ini agar lebih mantap menghadapi tes berbiaya mahal dan tidak bisa diulang ini.

Tapi untuk orang yang bekerja rasanya agak susah untuk melakukan itu. Solusinya adalah otodidak alias belajar sendiri. Ada beberapa metode yang disarankan untuk belajar IELTS secara mandiri.

1. Ada beberapa website yang layak jadi referensi dalam belajar IELTS mandiri, silakan buka ieltsliz.comielts-simon.com, dan akun YouTube-nya Engvid (www.youtube.com/user/engvidenglish). Saya rasa itu cukup, terlalu banyak malah pusing nanti.

2. Silakan download buku IELTS Cambridge edisi 1-12. Kerjakan sebanyak mungkin soal dan catat progres simulasi mandiri dari hari ke hari. Katanya indikasi siap maju ke tes yang sesungguhnya adalah ketika kita sudah secara konsisten bisa dapat nilai 1 poin di atas target. Maksudnya jika kita mentargetkan band score 6.5, pastikan dalam simulasi mandiri ini sudah konsisten dapat band score 7.5 atau lebih. Buku IELTS Cambridge ini dilengkapi kunci jawaban walaupun tetap agak susah mengevaluasi speaking dan writing.

3. Gunakan lembar jawaban official IELTS ketika belajar dan melakukan simulasi. Tujuannya agar familiar dengan metode pengisiannya sekaligus membantu penghitungan jumlah kata pada section writing.

4. Ikuti simulasi IELTS yang diselenggarakan oleh lembaga bimbingan belajar atau semacamnya. Sangat berguna untuk familiarisasi dan biayanya pun relatif murah, antara 100 sampai 150 ribu rupiah.

5. Untuk speaking, latihanlah di depan cermin sambil direkam untuk meningkatkan kepercayaan diri. Banyak tersedia contoh video speaking dengan berbagai band score di YouTube.

6. Jangan lupa metode belajar English yang casual seperti baca buku berbahasa Inggris, nonton film tanpa subtitle, nonton video YouTube berbahasa Inggris tanpa caption. Simpel dan berguna.

Banyak orang yang menulis tips n trick IELTS. Dari saya cukup sekian saja kalau ada pertanyaan bisa tulis di kolom komentar atau via email. InsyaAllah direspon.

Sampai tulisan ini dipublish sebenarnya saya belum tahu berapa band score IELTS saya karena belum 13 hari sejak hari ujian. Nah mengingat menurut hitung-hitungan saya tidak ada lagi kesempatan tes IELTS yang cukup untuk mengejar deadline pendaftaran beasiswa yang saya tuju, saya mengambil plan B dengan mendaftar TOEIC.

Apa itu TOEIC ? Lebih mudah kah daripada IELTS ? Berapa biayanya ? Simak di postingan berikutnya..


Salam,
Chandra


Mengapa berimajinasi itu menyenangkan ?

Karena kita bebas, tidak terbatas ruang dan waktu. Bahkan pikiran pun tidak menjadi batasan karena kita bisa mengimajinasikan bahkan yang kita sadari tidak akan bisa terjadi. Dalam eksperimen pikiran itu, kita punya hak penuh untuk memutuskan salah benar dan baik buruk. Lebih penting lagi, kita tidak perlu peduli tentang omongan orang karena tidak ada manusia lain yang tau apa yang kita pikirkan. Hanya kita dan Allah yang tahu.

Kalau ada yang membatasi imajinasi, itu adalah pengetahuan. Kita tidak bisa membayangkan apa yang masih di luar jangkauan pengetahuan kita. Itulah kenapa belajar menjadi penting.

Begitu indahnya hidup ini dalam alam mimpi dan pikiran.

Masalahnya adalah, manusia tidak punya tools untuk mengeluarkan pikirannya secara sempurna. Imajinasi itu seperti ilmuwan handal yang menghabiskan waktunya di laboratorium kesayangannya menciptakan teori dan penemuan baru namun tidak bisa menulis makalah yang baik. Karyanya mengagumkan tapi orang susah paham apa maksudnya.

Ketika kita coba menyampaikan imajinasi kita secara lisan, otomatis ada informasi yang terdistorsi. Selain karena kemampuan berbicara di depan orang yang berbeda-beda masing-masing individu, pada dasarnya kosa kata yang dimiliki manusia terbatas. Betapa sulitnya kita menemukan padanan kata tunggal eager (sangat ingin) dalam bahasa Indonesia dan sinonim kata musuh dalam bahasa jawa.

Tulisan tidak bekerja dengan lebih baik, bahkan lebih terbatas karena tidak adanya intonasi dalam tulisan. Intonasi, impresi, dan ekspresi sangat penting dalam menyampaikan maksud. Jancuk terdengar buruk di jalanan namun jadi jenaka kalau Mbah Tejo yang mengucapkan. Betapa penting yang namanya ekspresi.

Kemarin saya mendapat soal IELTS kira-kira begini.
Nowadays, with the development of the internet, people tend to interact with others through the internet instead of face by face. To what extent it becomes a positive or negative development ?
Saya menjawab ini adalah sebuah hal yang positif dengan beberapa alasan selama ada regulasi yang proper untuk membatasi gerak gerik para kriminal cyber. Saya sedikit berbohong karena ada hal yang sebenarnya membuat interaksi non-tatap muka ini menjadi berbahaya, yaitu kemungkinan adanya bias. (saya tidak punya cukup waktu untuk menuliskan soal bias dalam ujian karena penjelasannya pasti panjang)

Betapa banyak perselisihan yang terjadi di twitter atau instagram yang sebenarnya bisa dihindari kalau saja tweet dan komentar itu mengandung ekspresi dan intonasi di dalamnya. Orang coba menambahkan "hahaha", "wkwkw", atau sekedar emoticon untuk menggambarkan suasana hati penulis. Namun itu tidak selalu membantu karena orang bisa punya persepsi yang berbeda tentangnya. Tawa yang kita anggap santun bisa jadi terkesan ofensif bagi seseorang. Masih ada juga orang yang salah pakai emoticon menangis ketawa untuk menyampaikan tangisan duka cita.

Bias adalah kesalahan dalam mencerna informasi, terlalu banyak asumsi sehingga kesimpulan yang didapat melenceng dari apa yang sebenarnya terjadi.

Bukan hanya dalam dunia luas, pada percakapan grup kecil bahkan antara dua individu yang saling mengenal pun bias sangat mungkin terjadi. Pada pembahasan yang sensitif kesalahpahaman bisa muncul jika tidak hati-hati.

Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengeliminasi bias. Saya nggak bicara politik - yang mana sosmed makin panas menjelang pemilu - karena bias bisa muncul di informasi mengenai apa saja. Dominannya asumsi atas informasi mengakibatkan deduksi menjadi tidak akurat. Itu belum termasuk ulah media massa kurang bahan yang suka asal meneruskan berita hanya demi iklan. Berikut contohnya



Yang bisa dilakukan adalah setiap orang harus memahami bahwa masing-masing individu punya pemikiran, ide, dan imajinasi yang berbeda-beda dan mereka berhak menyampaikannya. Oleh karenanya jangan mudah tersulut jika ada propaganda yang berlawanan dengan apa yang kita pahami. Jangan lupa juga untuk terus belajar karena tingginya pengetahuan memperkecil kemungkinan kesalahpahaman.

Pertengkaran akan lebih mudah diatasi jika semua pihak berpikir dirinya punya lebih banyak sisi salah daripada sisi benar. Kerendahan hati untuk tabayyun dan tetap menjaga komunikasi adalah kunci. Kita sering terlambat menyadari bahwa hubungan baik terlalu berharga untuk dikorbankan hanya demi satu dua pendirian yang tidak prinsipil.

Only miss the sun when it starts to snow



Chandra

gambar : pixabay, twitter


Find someone, kalau kamu pikir ini soal mencari jodoh, maaf bukan hehehe

Ini soal sebuah jalan yang biasa dilalui oleh nama-nama besar di internet, TV, berita, dan buku. Mereka bisa datang dari kalangan pemimpin dunia, atlet, selebriti, dokter, engineer, ulama, entrepeneur, penulis, penceramah, dan lain sebagainya, semua profesi basically.

The Rule of 33%

Tai Lopez berkata bahwa kalau mau sukses kita harus membagi hidup kita dalam tiga kelompok pergaulan. Pertama, dengan orang yang lebih muda baik secara usia maupun karier. Kedua, orang yang setara dan sebaya untuk kita jadikan teman. Ketiga, dan yang paling penting, dengan orang yang 10-20 tahun lebih senior, jadikan mereka mentor.

Cristiano Ronaldo menjadi salah satu pesepakbola terbaik dunia karena pada masa mudanya dia ditemukan oleh Sir Alex Ferguson dan dibesarkan dibawah bimbingannya di Manchester. Bahwa selanjutnya dia dilatih oleh Mou, Ancelotti, dan Zidane itu hanya urusan teknis saja. SAF tetap yang paling berjasa dalam karirnya, dialah mentor bagi Ronaldo.

Justin Trudeau, Perdana Menteri Kanada saat ini yang baru berusia 46 tahun dikader oleh ayahnya sendiri Pierre Trudeau yang juga PM Kanada periode 1980-1984. Bung Karno punya HOS Cokroaminoto yang mengasah nasionalismenya, Steve Jobs punya Steve Wozniak dan bersama mendirikan Apple, Albert Einstein punya Heinrich Weber sebagai doctoral advisornya. Hampir semua tokoh-tokoh dunia punya seseorang yang menjadi tempatnya bertanya.

Pemimpin perusahaan multi-billion dollar sekalipun pasti pernah menjadi pegawai (minimal bekerja pada dirinya sendiri). Perasaan pernah diangkat orang lain membuat mereka dengan senang hati membantu junior-juniornya untuk melewati jalan yang sama dengannya. Mereka memberikan petunjuk sehingga si pemuda yang masih buta ini bisa terus maju.

Siapa yang selayaknya dijadikan mentor ?

Mereka yang berada 10, 15, 20 tahun di depan kita. Tidak harus dalam hal usia, tapi carilah orang yang kira-kira 10 tahun yang lalu melewati tempat kita berada sekarang, dalam karier misalnya. Jangan yang terlalu dekat karena sia sia jika sama-sama belum tahu, the blind guiding the blind. Jadikan mereka partner, bukan mentor, seperti hubungan Bill Gates dan Paul Allen di Microsoft.

Bagaimana dengan yang jauh lebih 'tua' ?

Membaca Buku

Tidak semua mentor masih hidup dan bisa ditemui saat ini. Yang masih hidup pun belum tentu bisa dijangkau karena jarak yang terlalu jauh. Tapi kebanyakan dari mereka menulis.

Steven Covey tidak bisa lagi dijumpai, tapi bukunya The 7 Habits of Highly Effective People masih bisa kita baca sampai saat ini. Elon Musk tentu sangat sulit dijangkau untuk sekarang, tapi buku biografinya bisa dengan mudah didapatkan. Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan Mohammad Ali (petinju) sudah tidak ada orangnya, tapi wisdomnya masih ada tersebar dimana-mana.

Kisah soal sahabat nabi bisa dijadikan yurisprudensi dalam berbagai aspek kehidupan. Kisahnya banyak tertuang dari hadist hingga buku-buku dari penulis masa kini. Hampir semua mentor bisa kita temui melalui buku. Mereka ada di rak-rak toko buku dan perpustakaan kita.


***

Sesaat menjadi inferior wajar ketika kita berhubungan dengan orang yang jauh lebih tahu dan berpengalaman dari kita. Tapi orang-orang inilah yang berpotensi menarik kita ke jenjang yang lebih tinggi. Sebuah aturan sederhana, semua orang tahu itu tapi tidak semua mau melakukannya.

Hai anak muda, ask someone to be your mentor!



Chandra


gambar : CNBC




Tulisan ini adalah tips dan sharing soal mengurus cek fisik kendaraan lima tahunan di luar kota asal. Saya mengurus motor AB di Samsat Bandung Timur. Semoga bermanfaat

Salah satu kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia yang baik adalah taat bayar pajak. Tidak terkecuali pajak kendaraan bermotor yang sehari-hari kita pakai. Setahun sekali kita bayar pajak dan setelah lima tahun harus cek fisik dan ganti plat nomor. Sejujurnya kesan samsat yang penuh, antri panjang, dan ribet bikin saya agak malas ngurus beginian. Tapi yaa mau gimana lagi, kita pakai fasilitas jalan dan lalu lintas selayaknya sadar kalau infrastruktur dibangun pakai duit.

Saya punya dua motor di Bandung, lebih tepatnya yang satu punya adik yang kuliah di sini. Bulan Juli ini motor yang biasa dipakai adik habis masa berlaku plat nomornya, 07-18. Kalau sudah begitu harus cek fisik dan urus pajak lima tahunan, nanti dapat plat nomor baru yang 07-23.

Masalahnya adalah plat nomor motor itu AB, plat Jogja. KTP yang digunakan sebagai pemilik juga KTP Bantul. Awalnya khawatir apa bisa diurus di sini (di Bandung) perkara lima tahunan ini ?

Ternyata bisa, khusus untuk Cek Fisiknya. Cek fisik bisa dilakukan di luar daerah untuk nanti dokumen cek fisiknya dibawa atau dikirim ke kota asal untuk diurus lebih lanjut masalah pajak dan lain sebagainya. Intinya cek fisik bisa dilakukan di luar daerah apapun keperluan Anda.

Di sini saya mau cerita pengalaman mengurus cek fisik kendaraan di luar daerah, check it out!

Saya tinggal di Bandung, tepatnya daerah Dago. Untuk keperluan cek fisik kemarin saya datang ke Samsat Bandung Timur di daerah Soekarno Hatta. Agak jauh memang, hampir satu jam perjalanan. Lokasinya tepat di samping perempatan Jalan Soetta dan Jalan Kiaracondong. Begini penampakan kantornya :



Begitu masuk gerbang, kita akan disambut gerai Samsat Drive-Thru. Mantap sih ini untuk beberapa urusan bisa dilakukan secara drivethru. Tapi untuk cek fisik tidak bisa, kita harus menuju ke bagian cek fisik, ada jalurnya untuk roda 4 dan roda 2 dengan petunjuk yang cukup jelas. Di sana ada juga petugas yang mengarahkan, jadi kalau bingung tinggal tanya.



Begitu sampai di area cek fisik, kita harus ambil formulir dulu di meja petugas yang masih di area cek fisik. Kita perlu menunjukkan STNK asli, KTP asli, dan BPKB asli, tapi cukup ditunjukkan aja. Namanya formulir yaa harus segera diisi. Kemarin karena datang berdua jadi kami bagi tugas, saya isi formulir dan adik standby antri, hemat waktu. Formulirnya seperti ini :





Setelah isi formulir, kita tinggal nunggu antrian kendaraan digesek. Nah ini masalahnya, antriannya panjang (banget) sedangkan petugasnya cuma 3. Kondisi diperparah kalau ada motor yang nomor rangka dan nomor mesinnya susah dijangkau, jadi lebih lama. Saya kemarin antri hampir sejam -_-



Kira-kira begini cara gesek nomor rangka dan nomor mesin :



Setelah stiker gesek jadi dan ditempel ke formulir, proses cek fisik selesai. Formulir yang sudah diisi dan ditempeli stiket cek fisik siap dibawa ke loket validasi untuk dicap dan ditandatangani. Lokasi loket ini masih di dekat tempat cek fisik. Seperti ini tempatnya :



Untuk menyerahkan formulir ke loket validasi kita harus antri lagi, tapi nggak terlalu lama kok. Yang perlu diserahkan di tempat ini adalah formulir, STNK asli, dan BPKB asli. Setelah menyerahkan dokumen kita akan diberi nomor antrian dan menunggu dipanggil lagi untuk mengambil dokumen yang sudah divalidasi. Total proses di loket ini memakan waktu sekitar 30 menit.

Sampai titik ini, nggak ada biaya yang dikeluarkan sepeser pun, mantaaap

Setelah dokumen cek fisik dicap dan ditandatangani, dokumen siap diproses ke tahap selanjutnya. Untuk kasus saya, dokumen ini akan dibawa ke Bantul, urusan selanjutnya disana, di Bandung cuma cek fisik tok.

Setelah sekitar dua jam berurusan di Samsat Bandung Timur, urusan cek fisik beres. Ada beberapa tips yang bisa membantu teman-teman yang kendaraannya butuh di-cak fisik:

  1. Siapkan fotokopian semua dokumen yang mungkin diperlukan, fotokopian di samsat rame parah. Bawa juga pulpen sendiri biar nggak usah beli di samsat.
  2. Dokumen yang perlu dibawa : STNK asli dan fotokopi, BPKB asli dan fotokopi, KTP asli dan fotokopi.
  3. Ajak teman atau kakak/adik supaya bisa bagi tugas, satu isi formulir satu antri misalnya.
  4. Datang pagi banget atau agak siang sekalian, jangan datang di jam nanggung karena pasti rame dan antri panjang. Perhatikan jam buka samsat di daerah masing-masing. 
  5. Tertib antri dan hargai petugas dan sistem layanan samsat. Kalau bingung jangan malu untuk tanya.
  6. Jangan pakai calo, just don't.
Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman ngurus cek fisik motor di Samsat Bandung Timur pada Rabu, 18 Juli 2018. Kondisi bisa berbeda di tempat atau waktu yang lain. Semoga bermanfaat 


Chandra




Masuk ke dunia kerja, mau tidak mau menjadikan saya banyak bergaul dengan orang yang lebih dewasa (atau tua). Sebagian dari mereka sudah berkeluarga dan sudah ngomah di Bandung. Mereka punya atau ngontrak rumah di sini, anak-anaknya juga sekolah di kota ini. Live happily and settled lah pokoknya.

Lupakan soal adaptasi bahasa sunda, dinginnya udara lembang, dan pola kerja. Sembilan bulan di sini cukup lah untuk menyesuaikan diri. Tapi ada satu hal yang memang agak susah untuk disamakan.

Seperti yang saya bilang tadi, sebagian besar pegawai di sini sudah berkeluarga. Umur juga banyak yang sudah kepala tiga. Apalagi ada bapak-bapak eks IPTN yang sudah relatif sepuh. Artinya apa ? Memang bagi banyak pegawai pilihan terbaiknya adalah bekerja di sini sampai datang masa pensiun. 

Umur membatasi seseorang untuk pindah kerja karena rasanya tidak banyak lowongan yang terbuka kalau sudah berumur 35 tahun ke atas. Ada memang, tapi biasanya posisi berlabel 'senior' yang mensyaratkan pengalaman kerja dan referensi yang excelence. Jadi intinya kurang ideal untuk lompat dari satu kantor ke kantor lain kalau sudah berumur.

Belum lagi beliau-beliau yang senior biasanya sudah berkeluarga. Berkeluarga artinya income yang stabil itu penting. Agak beresiko untuk melepas pekerjaan jika sudah ada tanggungan

Di sisi lain, saya pribadi sejak awal sudah menyampaikan pada atasan bahwa saya nggak akan disini dalam jangka panjang. Alasannya karena punya keinginan untuk sekolah lagi. Saya nggak sendiri, tapi bagaimanapun hanya sedikit rekan disini yang punya pikiran seperti itu. 

Dulu di kampus punya cita-cita jadi Master hunter adalah hal yang biasa, mayoritas kawan di ITB gitu. Tapi sekarang saya berada pada kondisi dimana kebanyakan orang di sekitar sudah pada masa ingin hidup yang stabil, nggak ingin coba-coba. Seolah saya gedabikan sendiri di tengah orang-orang yang anteng.

Saya nggak bilang anteng itu jelek. Kalau sudah seumur para senior itu juga saya nggak akan sehiperaktif ini. Soal waktu dan kondisi saja.

Orang kalau kumpul dengan kelompok yang cita-citanya serupa, majunya cepet. Tapi kalau kebetulan berada di lingkungan yang orientasi umumnya berbeda butuh beberapa adjusment supaya tetap bisa bergaul sekaligus rencana terjaga.

Sebagai contoh, sebenarnya sangat memungkinkan bagi saya untuk tidak langsung pulang selepas kerja. Bahkan menginap pun ada tempatnya. Tapi ketika beberapa rekan bersantai di kantor sampai malam saya nggak bisa karena harus pulang ada yang perlu dikerjakan di rumah, yaa nggak jauh dari urusan menyiapkan studi lanjut. 

Hal yang sederhana memang, tapi ketika pilihan dan godaan semacam itu hadir hampir setiap hari butuh energi yang besar juga untuk tetap istiqomah. Lebaran kemarin ketemu dan ngobrol dengan beberapa teman jaman sekolah dan kuliah, dari sana saya menyimpulkan bahwa cukup banyak yang mengalami hal serupa. Bukannya nggak bahagia, tapi karena lebih banyak hal yang meminta fokus dan waktu, jadi lebih exhausting aja kita. 



***

Dua minggu yang lalu saya ketemu sama seorang bapak asal Semarang waktu nonton Indonesia Open di Senayan. Beliau datang sendirian jadi akhirnya ikut rombongan saya dan teman-teman. Waktu ngobrol-ngobrol sambil nunggu antrian masuk Istora, beliau kasih nasehat :

Kuncinya salat subuh dan sunah 2 rakaat sebelumnya. Dah pokoke mau apa aja modal itu bisa tercapai

Jangan merasa susah, banyak orang hidupnya lebih berat.


Chandra

gambar : Pixabay


Semua pasti setuju kalau saya bilang bulan Syawal ini banyak banget yang nikah. Weekend ini aja saya menerima beberapa undangan tapi nggak bisa datang dan cuma nitip amplop karena terlanjur punya acara.

Itu baru yang mengundang, lebih banyak lagi kalau digabung dengan yang tidak. Kakak tingkat yang agak jauh, kenalan jaman sekolah, dan teman yang nggak begitu dekat biasanya saya tahu kabar pernikahannya dari media sosial saja.

Dari semua yang menikah, kalau dicermati setiap pasangan punya cara dan ceritanya masing-masing hingga sampai ke jenjang pelaminan. Ada yang sudah bisa diduga karena sudah pacaran sejak lama dan selalu update di sosial media. Ada yang ujug-ujug nyebar undangan di grup yang mana calon mempelai putra dan putrinya berasal dari grup itu juga (seangkatan). Ada teman sekelas jaman SMA yang sudah dekat sejak dulu tapi saya baru tahu. Ada adik tingkat yang baru sidang kemarin langsung nyebar undangan. Ada cerita pasangan yang persiapan nikahnya kilat, sebulan tok. Ada yang lama nggak ada kabar tahu-tahu menutup beberapa medsosnya, ternyata mau nikah juga. Macem-macem lah kisahnya.

Kesimpulan dari itu semua adalah tidak ada cara pasti bagaimana kita akan bertemu jodoh. Bahkan jika pun kita fokuskan pada golongan anti pacaran saja. Anti pacaran seolah sudah sebuah pendirian keras, tapi ternyata di dalamnya masih banyak variasi cerita. Seperti yang dicontohkan tadi, ada pasangan yang adalah teman seangkatan dan sudah kenal selama 4 tahun (tapi tidak ada apa-apa), ada juga yang memang baru kenal sebulan dua bulan sebelumnya.

Pemahaman dan pilihan soal mana cara yang kita pilih pasti berubah seiring berjalannya waktu. Manusia dibekali dengan kemampuan belajar sekaligus ingatan. Semakin mendewasa semakin banyak pula insight yang diterima. Di sisi lain ingatan yang terbatas membuat kita lupa dengan yang sudah lama. Ingatan lama yang sudah nggak relevan diganti dengan pemahaman baru. Banyak hal dari masa lalu yang menjadi tidak menarik lagi.

Contoh paling gampang barangkali malah pada remaja putri seusia saya. Jaman usia awal-awal SMP mungkin mereka membaca teenlit dan impressed dengan kisah percintaan remaja yang ada di dalamnya. Tapi bayangkan kalau mereka membacanya sekarang, pasti dianggap kekanak-kanakan. Mereka sudah hijrah dalam arahnya masing-masing. Mereka tidak akan kagum lagi.

Bertanya pada orang soal cara mana yang dia sukai sebenarnya antara bisa dan tidak bisa. Kenapa ? Karena pemahaman tentang itu bisa berubah dalam hitungan bulan, minggu, bahkan hari. Jadi daripada merisaukan bagaimana pilihan orang lain, lebih baik perbarui terus referensi kita.

Karena logikanya, dengan ini otomatis jodoh terseleksi,

kenapa ?

Karena pernikahan selalu berpasangan, sedangkan dua orang bisa jadi berpasangan jika dan hanya jika mereka bersepakat menjadi pengikut dari cara yang sama.

yang baik untuk yang baik, penjagaan diri itu penting

-chandra-

gambar : YouTube : Awakening Record

Masa libur lebaran kemarin saya manfaatkan salah satunya untuk cek kesehatan. Untuk suatu keperluan saya butuh surat keterangan sehat, bebas TBC, dan bebas narkoba. Bicara rumah sakit pemerintah urusannya lebih gampang di Bantul daripada RSHS jadi sekalian periksa mumpung di rumah.

Atas bantuan budhe yang seorang dokter di RSUD Bantul, surat-surat itu alhamdulillah bisa didapat sebelum layanan tutup libur lebaran...

Surat keterangan sehat cleared, udah sering lah ya tes ini

Bebas narkoba cleared, tes urin aman, pertama kali masuk poli jiwa lancar

Bebas TBC, suratnya dapat karena memang tes rontgen dan dahak menyatakan bebas TBC. Tapi ada catatan.



Saya memang bebas TBC alhamdulillah. Tapi dari hasil foto x-ray malah baru tahu kalau ternyata punya bronkitis. Selama ini nggak pernah ada keluhan berkaitan dengan pernapasan jadi walaupun kondisinya masih ringan tetep agak kaget. Apalagi saya bukan perokok. Tapi dokter juga nggak terlalu khawatir sebenarnya.

Saya tidak merokok, tapi memang lumayan sering terpapar asap rokok di kantor. Selain itu sering meremehkan asap kendaraan di jalan. Kalau cuma dekat biasanya malas pakai masker.

Menurut alodokter.com,
Bronkitis adalah infeksi pada saluran pernapasan utama dari paru-paru atau bronkus yang menyebabkan terjadinya peradangan atau inflamasi pada saluran tersebut. Bronkitis akut biasanya akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu, jadi terkadang tidak diperlukan pengobatan untuk bronkitis. Selagi menunggu penyakit ini berlalu, Anda disarankan minum banyak cairan dan juga banyak istirahat. Pada beberapa kasus, gejala bronkitis bisa bertahan lebih lama.

Jadi ternyata bukan cuma perokok yang beresiko punya masalah paru-paru. Orang yang terpapar asap rokok dan asap kendaraan bisa menghadapi ancaman yang sama berbahayanya, atau bahkan lebih besar. Sekarang saya berusaha jauh-jauh dari perokok dan selalu pakai masker kalau di jalan.

Tubuh bukan barang sewaan yang bisa dikembalikan kalau rusak, jadi mari kita jaga baik-baik

Salah satu penyebab saya jarang ngepost kalau lagi liburan di Bantul adalah terbatasnya koneksi internet. Bisa sih bikin draft offline di laptop, tapi tetep kurang marem kalau nggak langsung di editor Blogger. Faktor kebiasaan sih. Tapi juga kalau offline jadi susah kalau mau cari-cari bahan atau gambar di internet.

Rumah kami agak jauh dari kota jadi wajar kalau koneksi internet kurang sip. Bapak Ibuk yang pakai internet sekedar untuk chat WA, baca berita, baca blog anaknya, dan kadang-kadang YouTube nggak masalah dengan ini. Mereka sudah terbiasa. Tapi saya yang terlanjut terbiasa internet-active suka geregetan.

Kondisinya memang berbeda dengan ketika saya di Bandung sehari-harinya. Karena kebetulan di kota jadi internet provider apapun 4G banter. Ketika pagi masuk kantor atau ketika sore pulang ke kosan juga semua gadget langsung terhubung wifi.

Entah kenapa ketika pulang ke Bantul saya seperti kehilangan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang biasanya ada dalam genggaman jadi tidak ada, atau lebih tepatnya kadang ada kadang tidak. Ya sesimpel koneksi internet. Saya kecanduan internet ? mungkin, tapi kayaknya banyak yang begitu hehe. Lain waktu bahas soal kecanduan internet deh, InsyaAllah.

Saya pikir-pikir, kenapa ya sampai merasa begitu ? Di sisi lain petani-petani di kampung yang hp-nya belum tentu bisa buat internetan baik-baik saja. Dulu orang tua kita juga tumbuh dewasa tanpa internet dan bisa menjadi seperti sekarang. Berarti masalahnya bukan pada tidak adanya internet, tapi pada perubahan dari ada menjadi tidak ada.

Saya mengalami shock  ketika pindah dari tempat yang internet-rich ke tempat yang internet-rare. Yang membuat saya merasa kehilangan adalah karena sebelumnya terlanjur terbiasa dengan internet tahu-tahu perlu strugle untuk dapat sinyal 4G banter. Coba kalau di Bandung saya jarang pakai internet, pasti nggak ada masalah berarti. Atau andai saya lebih lama libur di Bantul-nya, pasti lama-lama terbiasa dan menjadi baik-baik saja.

Perubahan dari punya menjadi tidak punya lebih menyesakkan daripada tidak punya itu sendiri.

Mari kita bicara hikmah mumpung masih Syawal. Kita perlu bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah pada kita. Tapi saya jadi mikir, apa-apa yang kita pengen dan belum kesampaian untuk memilikinya, jangan-jangan itu karena Allah tahu kita belum siap andaikan nanti kehilangannya ? Manusia itu tahu sedikit tentang yang sekarang, gampang lupa dengan yang lalu-lalu, dan totally nggak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Kedua, kehilangan sesuatu akan meninggalkan ruang kosong. Bisa ruang fisik, misal kehilangan kendaraan atau perabot rumah. Bisa 'ruang' waktu ketika seseorang kehilangan pekerjaannya. Bisa ruang batin kita seseorang kehilangan sesuatu yang dicintainya, kucing kesayangan mati misalnya. Susah untuk nggak bersedih, tapi jangan lupa bahwa ruang yang kosong itu bisa diisi hal yang baru. Kalau kamu sedang pada posisi itu, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik dan lebih gampang kita menemukan syukur atasnya. Aamiin.

Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya - Letto

Sekian. Saya baik-baik saja kok alhamdulillah tidak sedang kehilangan sesuatu. Cuma sebagai pengingat saja bahwa ada dua cara sesuatu hilang. Pertama, memang diambil dari kita. Kedua, kita yang memutuskan untuk meninggalkannya. 


Chandra
Previous PostOlder Posts Home