Assalamualaikum wr wb

Kali ini saya ingin sedikit lebih serius. Tulisan ini sudah saya rencanakan sejak beberapa waktu yang lalu. Fyi, sekitar 1,5 bulan yang lalu saya menderita cacar air yang lumayan parah. Gejala mulai muncul seminggu sebelum masuk kuliah sehingga membuat saya cukup risau. Untuk gejala demam dan gatalnya alhamdulillah bisa ditolerir, namun yang saya khawatirkan saat itu adalah kemungkinan saya kembali beraktivitas dan bertemu orang-orang dengan penampilan yang kurang bersih.

Pertanyaan yang berkecamuk di pikiran saya adalah, "ini cacar sembuhnya berapa lama ?", "apa akan ada bekasnya ?". Saya banyak mencari tulisan di internet, berharap ada yang pernah mengalami hal serupa dengan saya dan semoga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Tidak bisa dipungkiri, sebagai seorang muda, penampilan adalah hal yang krusial. Oleh karena itu di tulisan ini saya ingin membuat timeline penyakit cacar saya kemarin, semoga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan rekan-rekan yang membutuhkan. Di belakang akan saya sertakan pula tips-tips berdasarkan kejadian yang saya alami.

Semua dalam 2016

2 Januari : saya berinteraksi dengan penderita cacar air, saya kira tidak akan tertular karena saya lihat bekas cacarnya sudah mengering. Belakangan saya tahu bahwa dalam keropeng tersebut masih ada virusnya.

3 - 10 Januari : belum muncul gejala apapun, saya beraktivitas normal. Belakangan saya tahu ini masa inkubasi

11 Januari : di sore hari saya mulai merasa lemas dan letih padahal tidak beraktivitas berat, saya kira saya terkena masuk angin

12 Januari : bangun tidur muncul benjolan berisi cairan di jari tangan kanan, awalnya saya kira digigitu serangga atau semacamnya namun ketika mandi saya menemukan beberapa benjolan serupa di bagian badan. Saya mulai sadar bahwa terkena cacar air. Sore harinya saya periksa ke dokter umum dan diberi salep acyclovir 5% serta obat penghilang rasa sakit.

13 Januari : Saya agak pusing tetapi memutuskan untuk tetap berangkat ke Bandung karena ada agenda perwalian esok harinya.

14 - 18 Januari : Saya di tempat kos sehingga merawat diri sendiri. Cacar menyebar ke seluruh tubuh, urutannya : badan, wajah, tangan, kaki. Yang bisa saya lakukan menjaga kebersihan dan kekebalan tubuh, berharap gelembung-gelembung itu cepat mengering.

18 Januari : Saya periksa di Bumi Medika Ganesha (pusat kesehatan ITB), oleh dokter saya diminta istirahat 5 hari ke depan dan diberi obat termasuk antivirus acyclovir tablet yang diminum 5 kali sehari. Karena istirahat 5 hari artinya bolos seminggu pertama maka saya putuskan membeli tiket kereta dan kembali ke Yogyakarta.

19 - 24 Januari : Saya bedrest di rumah, minum obat teratur. Keropeng di seluruh tubuh mengering dan mengelupas satu-persatu. Bekas mengelupasnya tampak bersih namun ternyata keropeng yang dilepas secara paksa menimbulkan bekas. Jangan ditiru.

25 Januari : Saya masuk kuliah pertama kali. Keropeng di wajah sudah mengelupas tetapi sebagian meninggalkan bekas. Keropeng masih tersisa beberapa di tangan dan kaki. Untuk menghilangkan bekasnya (terutama di wajah) saya membeli salep Mederma di apotik. Lumayan harganya Rp214000 untuk 20gram krim.

Minggu 1-2 Februari : bekas luka makin coklat sehingga semakin jelas,  saya terus gunakan salep itu.

Minggu 3-4 Februari : bekas luka berangsur menghilang dengan pemakaian salep 3 kali sehari

Sekarang, 29 Februari : alhamdulillah bekas luka pudar, saya masih memakai salep tersebut karena belum habis ditambah memakai kri dari dokter kulit langganan di Yogya yang dikirim kemarin.

Next : saya akan menghabiskan salep dan krim yang sudah ada dan semoga bekasnya bisa benar-benar hilang. Aamiin


Sebelum ini saya belum pernah menderita cacar air, ini yang pertama. Penyakit ini memberikan pengalaman baru untuk saya karena masa recovery-nya panjang dan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga psikis. Beberapa orang menasehati bahwa pada anak kecil biasanya seminggu sudah sembuh, namun pada orang dewasa memang biasanya lebih parah. Ada beberapa tips yang ingin saya bagi :

1. Jaga kekebalan tubuh dengan makan teratur, olahraga, istirahat cukup, dan bila perlu minum vitamin dan suplemen
2. Walaupun terkena cacar air, tetap harus mandi untuk mencegah infeksi sekunder. Intinya badan harus tetap bersih
3. Gunakan pakaian yang longgar sehingga resiko gelembung pecah kecil
4. Tidur dengan posisi yang nyaman
5. Sebagai bentuk tanggung jawab, hindari kemungkinan menularkan ke orang lain
6. Bedrest mungkin perlu
7. Jika ke dokter, minta obat antivirus, ini berguna untuk saya
8. Jangan digaruk atau melepas keropeng (gelembung kering) secara sengaja, ini akan meninggalkan bekas
9. Jika membekas, setelah luka kering sebaiknya segera hubungi dokter kulit
10. Tetaplah beraktivitas dalam masa penghilangan bekas luka

Mungkin itu yang bisa saya tulis sementara ini, jika ada tambahan akan saya edit kemudian. Bila diantara pembaca ada yang ingin bertanya silakan menulis di kolom komentar.
Terima kasih. Semoga kita senantiasa diberika kesehatan oleh Allah SWT aamiin



-CN-






Musuh terberat adalah diri sendiri. Kita semakin bijak, musuh kita juga semakin bijak. Kita semakin waskita, musuh kita semakin waskita. Terus piye ? Jika musuh kita adalah sampah sebesar lautan, jadilah lalutan yang mampu menampung sampah tersebut. Sehingga kita tidak merugikan orang lain.
Kurang lebih begitu yang disampaikan mas Sabrang a.k.a Noe Letto dalam salah satu forum Kenduri Cinta "Menegakkan Pagar Miring" yang saya tonton di Youtube.

Kata kuncinya adalah 'menampung'. Dengan menjadi sesuatu yang mampu menampung segala masalah, kesibukan, kepenatan hidup, dll artinya kita ikhlas untuk menerima itu semua sebagai dialektika yang Allah ciptakan.

Ketika harus tidur pagi setiap hari karena tugas-tugas dan pekerjaan, mungkin akan terasa lebih ringan bila kita ikhlas karena Allah SWT.

Do what you love, love what you do,
setelah semua yang kita lakukan hari ini, semoga yang kemarin tampak mustahil sekarang menjadi lebih mungkin. Aamiin

Cinta tidak butuh pengorbanan, ketika kamu merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar - Sudjiwotejo...Love what you do.

Kepada teman-teman Unit Rebana ITB dan panitia Grand Festival Rebana Nasional semoga tercapai keinginannya mendatangkan mas Sabrang, atau Letto sekalian


Seminggu sebelum 5 Maret
Masih di sekre URO ITB



Program studi Aerospace Eng. FTMD ITB memiliki konvensi bahwa hari jumat tidak ada perkuliahan. Jadwal kuliah disusun sedemikian sehingga perkuliahan dapat ditumpuk pada hari senin sampai kamis. Hari jumat didedikasikan untuk kegiatan di luar kuliah namun masih aktivitas yang berhubungan dengan kampus. Namun hari jumat kemarin saya dan beberapa teman ke kampus atas undangan dari fakultas. Alhamdulillah kami berkesempatan menjadi student representatives FTMD dalam visitasi akreditasi internasional ASIIN.

FTMD alias FMAE (Faculty of Mechanical and Aerospace Engineering) sedang mengusahakan akreditasi bagi 3 prodi sarjana yang ada di dalamnya yaitu S1 Teknik Mesin, S1 Aeronotika & Astronotika, dan S1 Teknik Material. Pada hari jumat kemarin dilaksanakan rapat koordinasi yang mempertemukan tim akreditasi FTMD, Satuan Penjaminan Mutu (SPM) ITB, Dosen FTMD, dan wakil mahasiswa. Pada pertemuan itu dilaksanakan pemaparan dari SPM ITB mengenai teknis visitasi yang akan dilakukan assessor. SPM ITB adalah badan terlisensi untuk menangani akreditasi internasional di ITB. Sejauh ini, sudah lebih dari 20 program studi di ITB mendapat akreditasi internasional diantaranya berupa ABED dan ASIIN (tepatnya 23 kalau tidak salah).

Visitasi akan dilaksanakan tanggal 8, 9, 10 Maret 2016. Agak sedikit mengganggu karena, as you know, tanggal 9 itu tanggal merah…tapi ikhlas kok. Agenda assessor diantaranya melakukan diskusi dengan rektor, wakil rektor, dekan, SPM, wakil dekan, kepala program studi, dan mahasiswa. Selain itu, assessor juga melakukan peninjauan langsung ke fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh FMAE.    


Mohon doanya agar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB berhasil mendapatkan akreditasi internasional ini dan ‘perubahan budaya’ yang diharapkan berjalan secara baik untuk menghasilkan lulusan yang makin kompetitif pada skala global. Aamiin

Semoga tulisan ini dibaca juga oleh para pencari tempat kuliah tahun ini. Pesan dari saya, sekarang FTMD sangat progresif.


27 Februari 2015
di sekre Unit Robotika ITB
Alhamdulilah...
Satu beban berkurang setelah terlaksananya Seminar Managerial Skill Development (SMSD) Unit Robotika ITB (URO ITB). Sebuah acara yang diamanahkan dalam bentuk proker kepada Divisi Manajemen Lomba BP URO 2015/2016. Acaranya memang tidak begitu besar, tetapi waktu yang tersedia untuk persiapan juga minim, itu yang membuat saya dan teman-teman cukup sibuk akhir-akhir ini.

Unit Robotika ITB adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa di lingkungan Institut Teknologi Bandung. Unit ini masih cukup muda, baru terbentuk pada 2008 yang tujuannya adalah mewadahi mahasiswa-mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi di bidang robotika. Sebelumnya, mahasiswa ITB yang ingin mengikuti kompetisi terpecah-pecah dan kurang terorganisir. Penyatuan tim-tim ini menjadikan perwakilan ITB lebih terorganisir, mendapat dana dan SDM yang sesuai, serta lebih siap menghadapi lomba-lomba.

Fokus kegiatan URO ITB adalah untuk mengikuti kompetisi-kompetisi robotika. Kru (sebutan untuk anggota) URO dipastikan memiliki skill dasar di bidang robotika karena telah melewati proses kaderisasi dan seleksi selama kurang lebih 6 bulan. Setelah masuk ke URO dan tim pun, masih ada masa pembelajaran bagi pada kru baru. Oleh karena itu, skill teknis robotika mayoritas kru URO bisa dianggap cukup baik. 

Namun, seiring berjalannya waktu URO sadar bahwa ada faktor lain yang dapat menjadi penentu berhasil tidaknya suatu tim meraih prestasi, yaitu kemampuan manajerial. Proses persiapan lomba membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu diperlukan effort untuk memaintain keberjalanan proyek. Selain itu, di samping hal-hal teknis, sebuah proyek robot juga berkaitan dengan pendanaan, fasilitas, akomodasi, dll. Hal-hal inilah yang memicu pemikiran untuk meningkatkan kemampuan manajerial kru.

Kembali ke SMSD
Seminar ini menghadirkan orang-orang yang mempunyai ilmu dan pengalaman dalam mengatur organisasi, proyek, dan pencarian sponsorship. Seminar terbagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama diisi oleh 2 orang mahasiswa Teknik Industri ITB. Sementara, sesi kedua diisi oleh pembicara dari PT T&E Simulation 

1. Remigius Mulyo Mardito (Dito), Ketua Pabrik MTI 2014
Dito menyampaikan tentang pentingnya manajemen sumber daya manusia dan tips-tips untuk mengoptimalkan SDM yang tersedia. Manusia adalah modal bagi suatu perusahaan atau tim. Dito menyampaikan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk membentuk suatu organisai yang produktif dan efisien.

2. Theo Renaldo (Theo), Ketua Panitia 7th IECOM 2016
Theo banyak sharing mengenai pengalamannya dalam mengadakan lomba tingkat internasional yang diselenggarakannya. Paparan mengenai pencarian sponsorship menjadi hal menarik dan penting bagi kru URO. Selain itu, Theo menyampaikan tentang pengaturan timeline proyek yang tujuannya mendorong tim untuk tetap pada track dan mampu menyelesaikan proyek pada waktu yang diinginkan.

3. Muhammad Taufik Tirtosudiro, Software Development Manager PT T&E Simulation
Bapak Taufik juga merupakan lulusan ITB, jurusan fisika teknik angkatan 2001. Pada seminar SMSD beliau menyampaikan profil perusahaan dan pengalaman beliau di bidang project management di T&ES. Banyak tips-tips yang diberikan beliau mengenai bagaimana mengatur proyek beserta tahap-tahap yang perlu dilalui sehingga proyek dapat berjalan sebagai mana seharusnya. Pengalamannya di industri membuat presentasi yang disampaiakan bersumber dari fakta-fakta di perusahaan.

Seminar hari ini memberikan banyak manfaat, setidaknya bagi diri saya. Banyak tips-tips praktis yang bisa diterapkan di URO dan kasus-kasus yang bisa menjadi bahan studi bagi unit kegiatan kami ini. 

Secara pribadi, saya menangkan sebuah quote dari Pak Taufik bahwa salah satu hall yang perlu dilakukan untuk mencapai keberhasilan adalah "developing awards-winning recipes". Artinya, untuk menjadi orang atau tim yang juara dan terpadang, kita harus mempunyai langkah-langkah yang dijalani secara konsisten dan istiqomah. Hmmm...saya akan buat malam ini juga


-CN-


Hari-hari ini sosial media Indonesia bahkan dunia dihebohkan dengan kepastian pemuda Indonesia Rio Haryanto menjadi rookie di ajang Formula 1. Di bidang lain, anak muda Indonesia yang lain Joey Alexander mendapat standing ovation dalam penampilannya di Grammy Award. Saat ini pula Kota Bandung tempat saya berada dipimpin oleh seorang pemimpin muda, Bapak Ridwan Kamil.

Pembalap muda Rio Haryanto, saya mengikuti berita tentang pembalap ini sejak lama. Tanpa banyak disorot media kariernya terus meningkat. Beberapa tahun di GP2 dia berhasil meraih banyak prestasi. Statusnya sebagai warga negara Indonesia sempat menjadikannya dipandang sebelah mata. Misalnya ketika di GP Turki panitia tidak menyediakan bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya sehingga ketika Rio juara terpaksa digunakan bendera Polandia yang dibalik. Kini terbukti pada usia yang cukup muda dia berhasil masuk ke kelas F1. Selamat dan sukses ! Be the next Michael Schumacher...

Di dunia politik yang tampak rumit, Ridwan Kamil membuat gebrakan dengan menjadi Walikota Bandung, salah satu kota metropolitan Indonesia. Walaupun merupakan pendatang baru di dunia politik, beliau mampu meraih 45,44% suara ketika ada 8 pasangan calon di Pilkada Bandung 2013 kala itu. Keluar dari dunia profesional yang mapan adalah keputusan beresiko mengingat usia kariernya yang masih panjang. Jika gagal sebagai walikota maka kariernya secara keseluruhan terancam. Kini hingga memasuki tahun ke-3, kepercayaan masyarakat masih tinggi bahkan masyarakat luar Kota Bandung banyak yang berandai-andai Kang Emil adalah pimpinan daerahnya.

Piramida penduduk Indonesia saat ini sangat mirip dengan Jepang tahun 50-an dan Korea tahun 70-an (Akhyari Hananto). Penduduk usia muda dan produktif Indonesia sangat besar jumlahnya. Orang-orang di atas adalah contoh individu yang persistent pada bidangnya sehingga mampu menorehkan prestasi. Di tangan generasi muda yang produktif, masa depan bangsa dan negara Indonesia cerah.

Mari kita bangun optimisme. Salut kepada tim Good News From Indonesia (GNFI) dan Pak Akhyari Hananto yang senantiasa menyampaikan sisi-sisi baik bangsa yang membuat orang yang mengetahuinya bersyukur dan makin mencintai Indonesia. 


Cangkul, Pedang, dan Keris - istilah Cak Nun (Emha Ainun Najib) yang saya dengar melalui Youtube ketika beliau berbicara dalam forum Kenduri Cinta. Terminologi cangkul, pedang, keris dapat diadaptasikan ke dalam banyak hal. Kali ini saya ingin mengaitkannya dengan kegiatan belajar sebagai aktivitas utama saya saat ini.

Cangkul, adalah alat yang digunakan untuk bekerja mencari nafkah. Pendidikan dengan orientasi cangkul pada jangka panjang artinya apa yang sekarang dilakukan sarat dengan motif ekonomi yaitu untuk menjadi orang kaya di masa yang akan datang. Dalam jangka pendek, uang disini bisa dianalogikan dengan nilai. Artinya, baik sistem pendidikan atau individu pembelajarnya menjadikan nilai ujian sebagai tujuan akhir. Akibat jangka pendek mencari cangkul : mencontek >> kemalasan >> tidak percaya diri >> serba tertinggal.

Pedang, identik dengan kekuasaan. Orang yang belajar demi pedang memiliki tujuan suatu saat nanti dapat mengatur sebanyak mungkin orang. Tidak masalah jika tujuan yang mendasarinya adalah tujuan baik. Tapi ada piranti yang lebih lengkap dari ini, yaitu ..

Keris. Keris tidak bisa digunakan untuk mencari uang.  Keris juga tidak efektif digunakan untuk berperang, harus orang sangat hebat untuk bisa berperang menggunakan keris. Keris adalah akumulasi nilai-nilai positif dari cangkul dan pedang. Keris adalah integritas. Orang yang belajar untuk mencari keris dan menjaga nilai-nilai kebaikan serta integritas dalam dirinya, mungkin tidak tampak seperti orang yang nilainya sempurna atau sangat kaya raya, dan di sisi lain juga need of powernya tidak norak. Tidak ada jalan instan untuk pencapaian yang baik, harus dilalui dengan kerja keras, diselimuti doa, dan mungkin diwarnai air mata.

Untuk menyimpulkan, saya ambil quote Cak Nun dalam forum itu :
"Anak Indonesia ketika SD SMP SMA hebat-hebat, juara olimpiade internasional, tapi ketika kuliah mulai berpikir mencangkul mencangkul, yang lain punya pedang ikut punya pedang"
Semoga penulis dan pembaca sekalian senantiasa istiqomah untuk mencari KERIS . aamiin

Mengisi waktu sebelum kuliah
Cisitu Indah VI 271
Saya tidak sebaik yang saya tulis di sini atau dimana pun.
Yang saya tulis adalah seperti apa 'saya' yang saya inginkan.
Jika saya menulis tentang manfaat sikat gigi malam itu karena saya masih sering malas melakukannya, itu contoh

Saya punya banyak kekurangan, tapi saya tidak ingin menyisipkan keluhan di dalamnya. Saya ingin menciptakan katalis untuk berubah yang akan lebih berguna untuk memacu perbaikan.

Salam

 
Dalil 'rumput tetangga selalu lebih hijau' berlaku di sini. Orang cenderung menilai orang lain lebih baik daripada dirinya. Menariknya, ini bisa berlaku dua arah. Si A menilai B lebih unggul daripada dia, sebaliknya si B melihat A lebih sempurna. Hal ini wajar karena A tahu kelebihan dan kekurangannya tetapi dari si B HANYA tahu kelebihannya saja, sebab kekurangan orang biasanya tertutupi.

TIdak ada orang yang sempurna. Membandingkan kekurangan kita dengan kelebihan orang lain adalah hal yang sangat tidak perlu. Sama dengan tidak fair-nya membandingkan kelebihan kita dengan hal yang orang lain belum ahli. Sama-sama membandingkan kelebihan atau kekurangan juga tidak oke karena kualitas diri dipengaruhi kebaikan dan keburukan sekaligus.

Kesimpulannya, tidak valid membandingkan diri sendiri dengan orang lain apalagi yang tidak betul-betul kita kenal. Lebih baik kita gunakan diri kita 'yang kemarin' sebagai pembanding. Jika hari ini lebih baik dari kemarin, kita beruntung. Jika hari ini sama saja dengan kemarin, kita rugi. Jika hari ini lebih buruk dari kemarin, kita celaka.


sambil mencicil tugas minggu ke-5 semester 6
Cisitu Indah VI 271, Bandung
21:21 WIB

Ditulis untuk melengkapi tugas mata kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi 
Setahun yang lalu


            Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda adalah suatu wilayah yang berada sekitar 7 km di utara Kota Bandung. Tahura Djuanda adalah sebuah kawasan seluas 590 hektare yang dimanfaatkan sebagai wilayah konservasi terpadu antara alam sekunder dan hutan tanaman. Tahura Djuanda terletak di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan dan berada pada ketinggian antara 770 mdpl hingga 1330 mdpl. Selain sebagai daerah konservasi, Tahura Djuanda juga dibuka bagi masyarakat umum yang ingin menikmati konsep wisata alam yang menarik dan komplit. Tahura Djuanda bisa menjadi opsi destinasi bagi Anda yang ingin menyegarkan pikiran sambil berolahraga dan menambah wawasan.
            Taman Hutan Raya Djuanda dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi seperti mobil dan motor serta kendaraan umum misal taksi atau angkot. Jika ingin merasakan sensasi wisata sambil berolahraga, Anda bisa menggunakan sepeda atau berjalan kaki. Saya adalah salah satu orang yang memilih berjalan kaki untuk sampai ke tempat ini.
Saat memasuki pintu masuk komplek Taman Hutan Raya Djuanda saya disambut oleh Plaza Tahura yang di tengahnya berdiri patung Ir. H. Djuanda sekaligus prasasti peresmian kawasan ini menjadi Taman Hutan Raya. Taman Hutan Raya Djuanda diresmikan pada … oleh Presiden Republik Indonesia kala itu yaitu Presiden Soeharto. Sebelumnya, kawasan ini diresmikan sebagai kebun wisata pada 23 Agustus 1969 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu yaitu Brigjen Mashudi yang ditandai dengan penanaman sebuah pohon beringin yang masih ada hingga sekarang.  Di sekitar pintu masuk ada pula panggung terbuka, taman bermain, museum, dan fasilitas umum.
            Jika Anda berkunjung ke Tahura Djuanda hanya untuk menikmati museum, taman, dan monumen yang ada di depan, saya pikir Anda akan berubah pikiran. Seperti yang saya alami, niat awal hanya ingin bersantai dan mencari udara sejuk di taman, pandangan saya tergoda dengan adanya papan penunjuk arah yang menunjukkan jalan ke beberapa situs lengkap dengan jaraknya. Papan tersebut menunjukkan jalan yang akan membawa pengunjung ke arah Gua Jepang, Gua Belanda, Curug Koleang, Penangkaran Rusa, Batu Batik, Curug Kidang, Curug Lalay, dan Curug Omas Maribaya. Papan menunjukkan jarak ke Gua Jepang 700 meter hingga yang paling jauh Curug Omas Maribaya sejauh 4,8 km. Penasaran dengan tempat-tempat tersebut, akhirnya saya melangkah menyusuri jalan setapak kombinasi paving blok dan tanah hingga satu per satu tempat saya kunjungi dan sampailah saya di Curug Omas Maribaya yang menjadi pusat daya tarik.
            Tahura Djuanda sangat cocok jika dijelajahi dengan berjalan kaki atau bersepeda. Dengan berjalan kaki seperti yang saya lakukan, pengunjung bisa menikmati segarnya udara di sana dan mengunjungi satu per satu obyek yang ditawarkan. Tidak perlu khawatir kelelahan atau kehausan, di beberapa titik sepanjang perjalanan tersedia warung-warung yang siap mengisi kembali tenaga Anda setelah menempuh perjalanan alam ini. Warung-warung tersebut menjajakan beberapa jenis makanan seperti nasi kebuli, pop mie, jagung bakar, dan gorengan, serta aneka jenis minuman dingin atau hangat. Tetapi jika Anda ingin lebih cepat dan tidak lelah, ada jasa ojek yang bisa dimanfaatkan untuk sampai ke Curug Omas Maribaya.
            Taman Hutan Raya Djuanda bukan sekedar tempat wisata atau hanya sebagai paru-paru Kota Bandung. Tetapi Tahura Djuanda adalah suatu sistem alami yang menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lain di Bandung,  Pulau Jawa, bahkan Indonesia. Sepanjang perjalanan saya sering berhenti untuk membaca papan interpretasi yang terpasang di beberapa titik. Papan interpretasi adalah sebuah papan berisi tulisan dan gambar ilustrasi yang menjelaskan situs-situs yang ada di Tahura Djuanda beserta perannya bagi ekosistem dan kehidupan manusia. Berdasarkan papan interpretasi,  saya memahami jasa-jasa Tahura Djuanda misalnya menyediakan air bersih bahan baku PDAM, pemasok air bagi PLTA Bengkok, konservasi flora dan fauna, serta konservasi situs sejarah.
            Tidak ada air tidak ada kehidupan, itulah sebabnya posisi Tahura Djuanda bagi kehidupan manusia sangat penting. Keberadaan Tahura Djuanda tidak bisa dipisahkan dari aliran sungai Ci Kapundung yang mengalir sepanjang kawasan Tahura Djuanda. Kombinasi bentang alam tahura dan sungai Ci Kapundung menjadikannya bagaikan urat nadi kehidupan. Singai Ci Kapundung mengalir sepanjang wilayah Tahura Djuanda mulai dari Curug Omas Maribaya hingga bagian depan tahura. Di bagian tengahnya terdapat Bendungan Bantar Awi yang membagi aliran air menjadi tiga. Aliran pertama adalah aliran Sungai Ci Kapundung yang diteruskan ke Kota Bandung. Aliran kedua adalah aliran yang dialirkan dan diolah untuk memasok air bagi PLTA Bengkok. Aliran ketiga dialirkan untuk memasok kebutuhan PDAM dan Pakar mini plant.
            Jasa lain dari Taman Hutan Raya Djuanda adalah sebagai tempat konservasi flora dan fauna. Sepanjang jalan menuju Curug Omas Maribaya, saya menemui banyak jenis tumbuhan terutama pohon-pohon besar yang tumbuh subur. Pohon-pohon yang ada di sana tidak hanya berasal dari Indonesia tetapi ada pula yang berasal dari Benua Afrika dan Benua Amerika. Di sana saya menikmati Pohon Pinus Meksiko, Pohon Sosis, Pohon Mahoni Uganda, Pohon Angsana, Pohon Kuray Anggur, Pohon Kayu Manis, dan Pohon Hantap Paray. Daun-daun dari pohon-pohon tersebut mampu menjadi kanopi yang melindungi pengunjung dari panas dan gerimis. Selain tumbuhan, ada pula binatang yang hidup dengan nyaman di habitatnya maupun di penangkaran. Terdapat penangkaran rusa dan lebah di Tahura Djuanda. Di sepanjang jalan saya beberapa kali menemui monyet ekor panjang yang hidup bebas dan sering turun ke area sekitar pengunjung.
           
Chandra Nurohman
13613001


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (kbbi.web.id , 8 Februari 2016, 18.50), primordialisme artinya perasaan kesukuan yang berlebihan. Contoh gampangnya, ketika kita berkumpul dengan orang-orang yang berasal dari berbagai daerah, masing-masing dengan bangganya bercerita mengenai daerah masing-masing. Tentu Anda pernah mengalaminya, right ?
Kita sering melakukannya walaupun tahu itu kadang kurang menarik bagi pendengarnya karena toh orang lain tidak kenal apa yang diceritakan. Agak mending kalau orang ini mengajak kita main ke daerahnya, dengan akomodasi full..

Dalam arti yang lebih luas, primordialisme tidak melulu tentang suku atau daerah, tetapi bisa juga menyangkut sekolah, kampus, tempat kerja, pengalaman hidup, atau keahlian. Sebagai mahasiswa yang sering berinteraksi dengan sesama teman yang sedang belajar - entah di kampus sendiri atau kampus lain, saya kadang mengalami awkward moment karena primordialisme akademik masing-masing. Misal, saya ngobrol dengan teman yang belajar natural science, dia bercerita tentang virus, jamur, dll yang saya tak mengerti, sebaliknya saya menjelaskan tentang bedanya Boeing dan Airbus yang mungkin bagi dia tak terbayang. Not a good conversation. Akan berakhir dengan, 'oo gitu', 'I see', 'menarik..'

Saya pikir primordialisme macam ini sulit dihindari sebagai orang yang sedang belajar, tapi sebaiknya dikurangi supaya tidak bikin pusing orang lain hehe. Saya sering mengaku jurusan teknik mesin daripada teknik penerbangan, karena teknik mesin lebih familiar di masyarakat dan saya malas menjelaskan lebih jauh. Tetapi satu kali saya pernah agak terkejut karena ada teman non-teknik (cewek lagi) yang paham apa itu Boeing dan Airbus, tahu juga bahwa penerbangan Bandung-Yogya dilayani Wings Air dengan pesawat ATR. Wow


Sekian
Cisitu Indah, Bandung
  


Ke Jakarta aku kan kembali
Walaupan apa yang kan terjadi.. - Koes Plus

Tunggulah aku
di Jakartamu
Tempat labuhan semua mimpiku - Sheila On 7

Baru kemarin saya dan beberapa teman kost ke Jakarta menghadiri undangan pernikahan dari salah satu 'alumni' kost (Happy wedding buat Mas Faizi dan Mbak Okky). Berangkat dari Bandung sekitar pukul 7.30 dengan asumsi jalan macet, ternyata masuk Jakarta masih jam 10an, padahal undangan jam 11.00. Alhasil muter-muter dulu di sekitar tempat acara dan menunggu beberapa saat di parkiran..

Jam 12.00 kami keluar gedung. Mumpung sedang di luar kota (dan libur, ini langka) kami putuskan untuk keliling-keliling Jakarta dulu (dalam rombongan nggak ada orang Jakarta). Tujuan pertama adalah Masjid Istiqlal sekalian salat Dzuhur. Dari Istiqlal kami ke kawasan Kota Tua, sayang tidak banyak yang bisa dinikmati disana karena museum-museum sudah tutup, Tujuan selanjutnya sebenarnya Ancol tetapi karena beberapa alasan akhirnya batal dan langsung menuju Bandung. Setelah sempat terjebak hujan extrem sampai harus masuk rest area di km 88, alhamdulillah kami sampai di Bandung dengan selamat.

Perjalanan ini lebih banyak habis di jalan karena sulitnya bermufakat tentang tujuan, 'yang penting jalan dulu'. Akhirnya lumayan banyak yang saya lihat dari Jakarta. Mulai dari gedung-gedung kawasan perkantoran elit hingga daerah kumuh bersampah. Mulai dari jalanan kota yang lebar mulus sampai sungai hitam menjijikkan. Dari semua itu entah kenapa dalam benak saya muncul pikiran 'suatu saat saya harus hidup di Jakarta, this city is attractive'.

Jakarta banyak diidentikkan dengan macet, banjir, sampah, dll. Tapi di mata saya Jakarta adalah kota yang produktif, maju, cepat, efisien, punya segalanya, dan sangat menarik ! Setiap kota punya kelebihan, kekurangan, sifat, karakter, dan wajahnya masing-masing. Tapi ada banyak hal dari Jakarta yang belum saya temukan di Yogyakarta (asal saya) atau Bandung (tempat saya beraktivitas sekarang). I love Yogya, Bandung, .... and Jakarta.

Entah ini euforia sesaat atau apa tetapi bahwa saya ingin tinggal dan beraktivitas di Jakarta suatu saat adalah fakta. Toh sejauh ini saya punya banyak kenangan manis tentang Jakarta, masa kecil, SMP, SMA..

Sekian

Chandra Nurohman
Cisitu Indah, Bandung
sambil mengerjakan analisis perancangan struktur pesawat



Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home