Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan euforia momen tahun baru. Memang bisa dijadikan check point untuk introspeksi diri. Tapi sebenarnya nggak harus tahun baru. Lebaran bisa, ulang tahun bisa, tanggal tertentu bisa.

Tapi kali ini saya ingin membuat kaleidoskop 2016 yang isinya beberapa postingan favorit blog ini sepanjang 2016. Membuat ini menjadikan saya membuka-buka lagi memori lama. Mungkin ada perbedaan antara saya hari ini dan Januari lalu. Semoga perubahannya mengarah ke arah yang baik. Aamiin

Berikut beberapa koleksi saya :

Januari
Blog ini baru saya mulai akhir januari 2016. Hanya ada 1 post pada bulan itu. Sebenarnya link ini dulu isinya cerita saya tentang semester 6 (perhatikan link-nya) tapi akhirnya saya ubah untuk membuat tulisan perkenalan. Tak usah saya kasih link ya, silakan buka sendiri jika Anda ingin tahu saya hehehe.

Februari - Penyakit Cacar Air pada Orang Dewasa
Awal tahun 2016 saya mengalami penyakit cacar air. Semasa kecil saya memang belum pernah mengalami ini. Dalam tulisan ini saya ceritakan pengalaman cacar air saya mulai dari gejala awal, perjalanan sakitnya, obatnya, dll. Orang dewasa cenderung lebih parah jika sudah terserang. Mungkin tulisan ini akan bermanfaat bila ada yang terserang juga. Karena saya dulu juga browsing-browsing tentang ini.

Maret - Rivalitas Garuda Indonesia
Ini adalah resume tugas kuliah sistem transportasi udara. Kami diminta menganalisis bisnis Garuda Indonesia domestik dan Internasional. Dari sini juga kami mendalami bisnis maskapai-maskapai lain. Jika Anda ingin berdiskusi atau mendapatkan file lengkap bisa hubungi saya :)

April - Sabrang Mowo Damar Panuluh
Saya agak binggung untuk memilih post dari bulan April. Tapi rasanya ini yang jadi favorit. Sabrang adalah putra dari Cak Nun. Dia orang yang berkepribadian menarik, multitalent, dan enak didengar baik ketika nyanyi sebagai vokalis Letto maupun ketika ceramah.

Mei - Winglet Pada MotoGP
Selain sepak bola, MotoGP adalah tontonan yang menarik bagi saya. Saya sendiri juga senang mengendarai motor sport macam itu. Tahun ini ada inovasi di MotoGP berupa winglet (walaupun dilarang di 2017). Winglet adalah istilah yang dipakai pada salah satu komponen sayap pesawat terbang. Kali ini winglet diterapkan pada motor.

Juni - ATM Pecahan 20 Ribu di Bandung
Saya pikir tak ada yang spesial dengan postingan ini. Saya juga menuliskannya hanya karena ingin bercerita bahwa masih ada ATM yang mengeluarkan pecahan 20 ribu. Lokasinya tepat di depan ITB, ATM BNI. Ternyata, ini postingan dengan view paling banyak di 2016.

Juli - Book Review : Meneladani Gajah Mada
Saya masukkan sebuah tulisan berupa book review di daftar ini. Ini adalah review buku novel seri Gajah Mada 1-5. Buku ini berlatar Majapahit dan menceritakan sepak terjang Mahapatih Gajah Mada. Sangat saya rekomendasikan untuk dibaca.

Agustus - Tanpa Visi, Raksasa Bisa Mati
Saya hanya membuat 4 post pada bulan Agustus jadi tidak banyak pilihan untuk dimasukkan daftar ini. Tapi diantara 4 itu ini mungkin yang paling berbobot. Saya menuliskan kenyataan bahwa persaingan di era modern makin kejam. Yang tidak cekatan akan tertinggal !

September - Tarif Parkir ITB Ganesha, Gelo Ieu Mah !
Bulan September terjadi gejolak berkaitan dengan urusan parkir ITB. Tarif parkir motor naik hingga 5000 rupiah. Mahasiswa protes dengan parkir di Gerbang Depan ITB. Urursan perut dan kantong memang efektif untuk mendorong aksi mahasiswa.

Oktober - IDEO : Perusahaan Ide yang Revolusioner
IDEO adalah sebuah perusahaan berbasis di Amerika. Perusahaan ini memiliki kultur kerja yang berbeda dengan kebanyakan perusahaan lain.

November - AOTULE Conference Hong Kong
Tulisan ini adalah cerita saya yang Alhamdulillah berkesempatan mengikuti sebuah konferensi di Hong Kong. Ada beberapa tulisan berkaitan dengan ini. Sebuah pengalaman yang sangat berharga dan sangat saya syukuri.

Desember - Ngobrol Asik dengan Bupati Kulonprogo
Kepulangan singkat saya di pertengahan Desember menjadi sangat berkesan saat saya diajak berkunjung ke Bupati Petahana Kulonprogo, dr. Hasto Wardoyo Sp.OG(K). Kami ngobrol banyak hal dan mendapat banyak wejangan yang sangat berguna dan mengena. Ada juga cerita kunjungan kami ke Pak Iskandar Woworuntu, pimpinan Bumi Langit Institute.


Sekian kilas balik saya, semoga tahun depan akan banyak lagi tulisan-tulisan bermutu. Semoga saya juga tidak bingung lagi tentang "Sebenarnya saya menulis untuk apa ?"

Terima kasih kepada semuanya yang telah mengisi hari-hari saya setahun ke belakang. Barakallah.

Selamat tahun baru 2017. Semoga banyak capaian-capaian baru di tahun yang akan datang.

Selamat malam, selamat tahun baru :)


Chandra
Bandung Bantul, 31 Desember 2016, 23:23

Sampai stasiun kereta
Pukul setengah dua
Duduk aku menunggu
Tanya loket dan penjaga
Kereta tiba pukul berapa ?
Biasanya kereta terlambat
Dua jam mungkin biasa

Penggalan lirik di atas berasal dari lagu milik Iwan Fals berjudul 'Kereta Tiba Pukul Berapa'. Seperti pada banyak lagu-lagunya yang lain, Iwan Fals gemar menyuarakan kritik sosial. Lagu ini ditujukan sebagai kritik kepada penyedia layanan kereta api di Indonesia. Sedikit-sedikit saya masih ingat bahwa memang dulu ketika saya masih kecil seperti ada kesepakatan tak tertulis bahwa kereta akan tiba/berangkat sekian menit atau sekian jam setelah jadwal yang terpampang di papan.

Tapi, itu adalah beberapa tahun yang lalu. Sebagai langganan kereta api, saya dengan bangga mengatakan bahwa layanan kereta api saat ini sudah jauh lebih baik. Kereta terlambat, pengantar masuk peron, padagang asongan masuk gerbong, stasiun gelap, jam-jam kuno, antrian panjang di loket, toilet menjijikkan hanyalah masa lalu di dunia kereta api Indonesia.

Kereta Api Indonesia is improving rapidly. Kereta api sekarang sangat tepat waktu, kalupun ada keterlambatan mungkin hanya 15 menit, berdasarkan pengalaman saya. Kereta berangkat tepat pada waktunya. Tepat waktu berangkat dari stasiun awal adalah hal yang wajar. Namun saat ini hampir bisa dipastikan dari stasiun transit pun tepat waktu. 

Meskipun mengejar ketepatan waktu, KAI tetap memedulikan pelayanan. Pernah saya mengalami sendiri dan melihat orang lain mengalami kejadian memalukan : nyaris ketinggalan kereta. Saat itu saya naik kereta Lodaya Malam dari Stasiun Yogyakarta menuju Bandung. Karena jalanan dari rumah macet, ketika saya di drop-off sudah ada pengumuman "Kereta Api Lodaya Malam dengan tujuan akhir Stasiun Bandung siap diberangkatkan". Spontan saya langsung lari menyusuri tunnel stasiun Yogyakarta menuju jalur 4. Pintu kereta sudah ditutup kala itu namun alhamdulillah petugas masih membukakan salah satu pintu gerbong.

Selang beberapa waktu, saya menyaksikan kejadian itu dialami orang lain. Baru saya tahu sebelum melepas kereta dengan membunyikan peluitnya ternyata petugas berkomunikasi dulu menggunakan HT dengan bagian check in, menanyakan apakah masih ada penumpang yang baru check in. Jika masih ada maka akan ditunggu. Lebih hebat lagi, karena penumpangnya kala itu adalah seorang wanita seorang petugas berlari menjemput dan membawakan kopernya.

Itu tadi soal jadwal dan berhasilnya KAI menghapus keterlambatan. Revolusi selanjutnya adalah mekanisme penjualan tiket dan check in. Dulu kalau ingin naik kereta seolah-olah harus mengantri panjang di loket stasiun. Namun nampaknya perkembangan internet dan dunia digital dimanfaatkan dengan sangat baik oleh KAI. PT KAI mendorong penggunanya untuk membeli tiket secara online maupun di channel-channel di luar stasiun. Membeli online jauh lebih nyaman dan mudah. Loket-loket stasiun pun tidak ramai-ramai amat walaupun pengguna jasanya semakin banyak.

Selain pembelian tiket, proses check in juga diotomatisasi. Pernah saya dengar mengenai kajian transportasi (studi kasus pesawat terbang sih) bahwa penumpang lebih senang urusannya terotomatisasi daripada berurusan dengan petugas. Saat ini, di setiap stasiun tersedia komputer-komputer yang digunakan untuk mendapatkan boarding pass. Jumlah komputer cukup sehingga jarang terjadi antrian berlebihan.

Meminjam istilah Malcolm Gladwell, agaknya KAI melakukan yang namanya teori broken window. Alih-alih melakukan perubahan besar dan mahal misal mengganti armada atau renovasi stasiun, KAI justru melakukan perubahan-perubahan sederhana. Mereka mulai melarang pengantar masuk peron, melarang pedagang masuk ke gerbong, dan mencegah antrian panjang di loket. Dengan begitu, lingkungan kereta api menjadi tampak jauh lebih teratur.

Sekarang orang tak bertiket tidak bisa lagi masuk peron, apalagi naik kereta. Penyakit jaman dulu, naik tanpa tiket dan bayar sogokan ke petugas, tidak bisa lagi dilakukan. Sebaliknya, petugas diiming-imingi tunjangan kinerja sesuai bagaimana dia bekerja. Akibatnya terjadi perubahan budaya. Petugas tidak lagi mengharap sogokan, mereka menunjukkan kinerja yang baik jika ingin mendapat tunjangan kinerja. Efek dominonya, layanan kereta makin baik, penumpang makin banyak, masyarakat bersedia membayar lebih mahal, profil KAI makin banyak. Saya dapat pengetahuan tentang bisnis di kereta api dari dosen yang pernah menjadi konsultan bisnis KAI.

Kereta api seperti telah keluar dari persaingan dengan bus antar provinsi (tidak termasuk bus carteran) - yang masih begitu-begitu aja. Masyarakat bersedia membayar lebih bukan hanya untuk kenyamanan, tapi juga profesionalitas. Kelebihan bus yang saya ketahui mungkin hanya kemungkinan mendapat tiket go-show jauh lebih besar.

Perubahan yang dilakukan oleh kereta api memberikan harapan bahwa di Indonesia, dengan segala keruwetannya, perubahan ke arah yang baik, dalam waktu singkat, masih mungkin dilakukan. Semoga dicontoh oleh sektor-sektor lain.

Peron Stasiun Yogyakarta

Ruang tunggu Stasiun Yogyakarta
Lapak makanan, rapi dan ramah, pedagang tidak teriak-teriak
Toilet kotor, no way
Anda Puas ?

Sebagian ditulis di kereta Lodaya
Salam,
Chandra

Bicara tentang football fans , tim favorit saya adalah Liverpool dan Juventus. Kalau ditanya pemain idola saya akan jawab Steven Gerrard dan Ale Del Piero. Tapi saat ini, pemain yang benar-benar membuat saya kagum adalah Gianluigi 'Gigi' Donnarumma, youngster AC Milan.

Saat ini Donnarumma baru berusia 17 tahun dan sudah menjalani debut bersama tim senior AC Milan dan tim nasional Italia, yang bahkan masih dihuni Gianluigi Buffon. Donnarumma menjalani debut di Serie A pada usia 16 tahun 242 hari, termuda kedua. Selanjutnya Donnarumma memecahkan rekor sebagai pemain U-21 Itali termuda pada usia 17 tahun 28 hari. Tidak cukup sampai disitu, dia juga menjadi kiper termuda timnas senior Itali pada usia 17 tahun 189 hari.

Donnarumma digadang-gadang akan menjadi penerus kiper legendaris Itali, Dino Zoff dan Gianluigi Buffion. Buffon nyaris tak tergantikan sebagai penjaga gawang Itali selama bertahun-tahun. Tapi sepertinya Donnarumma sebentar lagi akan menggantikannya.

Dino Zoff

Donnarumma baru saja mempersembahkan gelar Supercoppa Italia 2016 pada AC Milan beberapa hari yang lalu. Bukan sekedar sebagai pemanis, Donnarumma adalah penentu kemenangan AC Milan atas tim raksasa Juventus.

Saat itu AC Milan dan Juventus bermain imbang 1-1 hingga 90 menit berakhir, gol dicetak oleh Chiellini (Juventus) dan Bonaventura (AC Milan). Babak perpanjangan waktu tidak menghasilkan gol. Akibatnya, pertandingan diselesaikan melalui adu penalti. Pertarungan Buffon vs Donnarumma

Buffon dan Donnarumma, the present and the future of Italy

Dari empat penendang pertama kedua tim, 3 berhasil mencetak gol. Penendang kelima Juventus, Paulo Dybala gagal menjalankan tugasnya setelah tendangannya berhasil ditepis dengan spektakuler oleh Donnarumma. Simak videonya disini : Donnarumma saves , penendang ke lima Milan berhasil memasukkan bola dan Milan meraih trofi setelah beberapa tahun tanpa gelar.

Usianya baru 17 tahun, calon pemain besar
Gianluigi Donnarumma







Baru saja saya pulang dari Bakso Boedjangan Dipati Ukur, Bandung. Ini pertama kalinya saya makan disana. Bukan sekedar makan, ini adalah dalam rangka syukuran tim Argentavis E-Glider.

Dari kuliah Manajemen Industri saya mendapat pengertian bedanya kelompok dan tim. Kelompok adalah sekumpulan orang yang kebetulan disatukan dan ditugasi untuk melakukan sesuatu. Sedangkan tim adalah sekumpulan orang yang memiliki spesialisasi tertentu dan berkumpul untuk mencapai suatu tujuan. Dulu saya menyebut ini sebagai kelompok perancangan, tapi bagi saya sekarang ini adalah sebuah tim.

Kami disatukan dalam kuliah AE4160 Desain Pesawat Udara, biasa disapa kuliah Perancangan. Sebuah kuliah berkredit 3 sks yang menjadi momok bagi mahasiswa teknik penerbangan sejak generasi 80an hingga sekarang. Sampai sekarang pun dosen masih ada yang suka curcol tentang kisah perancangannya dulu. 

Kuliah ini memang hanya 3 sks tapi bebannya lebih dari itu. Jika sekedar mengerjakan mungkin masih masuk akal. Tapi sebagai kuliah yang open problem maka selalu diminta hitung lagi, optimasi, cari alternatif, variasikan, dll. Itu yang membuat prosesnya jadi lebih rumit. Ditambah lagi, di akhir semester ada pameran dan seminar yang harus dilewati. Pameran diselenggarakan tanggal 5 Desember kemarin di Aula Barat ITB, terbuka untuk umum. Seminar (banyak yang menganggapnya hari pembantaian) baru kemarin tanggal 21 Desember.

Kami mengemban misi mendesain sebuah pesawat layang (glider) bermesin berkapasitas 2 orang. Untuk tahu apa itu glider, silakan baca di sini. Nama Argentavis sendiri diambil dari nama salah satu burung purba raksasa. Lebar bentang sayapnya mencapai 7 meter. Burung ini juga tidak bisa terbang langsung dari darat, harus lari dulu seperti pesawat lepas landas. Banyak kemiripan antara burung Argentavis dan konsep glider modern. 

Perjalanan perancangan tidak mudah. Sejak awal semester kami melaporkan progress tiap minggu kepada dosen pemimbing. Pembimbing kami adalah Bapak Dr. Taufiq Mulyanto, sangat berpengalaman dalam desain pesawat, alumni ISAE Supaero Perancis, sekaligus orang yang berperan dalam program glider nasional yang saat ini sedang berjalan.

Oh ya, tim kami beranggotakan 5 orang, saya diamanahi menjadi ketua sekaligus analis bagian kestabilan pesawat dan initial sizing, Agastya sebagai perancang roda pendarat, interior, dan drafter (pembuat gambar teknik), Rowi sebagai analis prestasi terbang dan biaya, Randhy sebagai analis aerodinamika dan biaya, serta Fatuh sebagai perancang struktur. 

Alhamdulillah semua anggota mempunyai kapabilitas yang cukup di bidangnya masing-masing dan yang lebih penting mampu bekerja sama. Hampir tidak ada clash antar anggota sepanjang perjalanan tim ini. Itulah yang akhirnya membawa kami lolos dari seminar tanpa dibantai dan alhamdulillah berhasil memenangkan penghargaan 1st best poster pameran. Hadiahnya kami pakai untuk makan-makan tadi. Nilai belum keluar, tapi semoga berbuah A. Aamiin...

Pembagian tugas menjadi kunci di tim ini. Saya bahkan tidak paham airfoil apa yang dipakai pada sayap karena saya tahu sudah diurus Randhy. Di sisi lain saya mengatur distribusi berat untuk mendapatkan pesawat yang stabil yang tidak dipahami oleh yang lain. Begitu pula analisis-analisis yang lain. Meminjam istilah Malcolm Gladwell, kami memiliki transactional memory yang besar dan berkualitas. Setiap orang bertugas menyelesaikan bagiannya dengan baik sambil mempercayakan bagian lainnya kepada yang lain.

Saya sungguh menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman ini. 

Sekarang kuliah Perancangan sudah mendekati akhir, tinggal mengumpulkan laporan akhir yang deadlinenya kamis depan. Rasanya saya sebagai pribadi dan Argentavis sebagai tim perlu mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Taufiq Mulyanto sebagai dosen pembimbing yang banyak sekali memberikan ilmu tentang desain pesawat dan pesawat layang.

2. Bapak Rais Zain sebagai koordinator mata kuliah AE4160 yang telah memperluas wawasan kami mengenai pesawat terbang.

3. Bapak Sigit P Santosa sebagai dosen penguji dalam seminar, terima kasih atas masukan-masukannya yang sangat berguna.

4. Bapak Luthfi Imam Nurhakim yang membantu Pak Rais mengkoordinir kuliah ini, yang telah mengurus pameran dan seminar.

5. Mbak penjaga perpus yang mengampuni keterlambatan saya dalam mengembalikan buku referensi perancangan.

6. Bapak Imin sebagai pegawai TU AE yang telah sangat membantu dalam hal pengumpulan laporan progres.

7. Tim Avion PPW17 (Fikri, Anto, Rachmat, Inggi), sebagai partner pendesain pesawat glider. Semoga start-up kalian di dunia glider lancar dan sukses aamiin. Juga semoga segera mendapat pendamping wisuda (PPW17 : Pencari Pendamping Wisuda 2017, silakan yang minat).

8. Teman-teman Aeronotika dan Astronotika (AE) angkatan 2013 yang senasib sepenanggungan.

Ini adalah beberapa potret kami dalam masa masa perancangan

Semoga nggak lama-lama memboedjang...minus Rowi yang kedatangan ortunya hari ini
Alhamdulillaaah

2 tim perancang glider, akur kan hahaha

"Coba fotonya dari agak bawah", Pak Taufiq
Stand Argentavis E-Glider

Alhamdulillah best poster euy, poster by Agas
Glider is sooo romantic...
Salam,
Chandra - Argentavis E-Glider





Hari ini, 20 Desember 2016, Facebook membuat reminder pertemanan antara saya dan Budi Azhari. Agak alay sepertinya kalau dishare di FB, fotonya juga tidak bagus-bagus amat. Jadi saya tulis saja di sini.

Tanpa mengecilkan peran teman-teman yang lain, memang si Budi ini teman yang saya banyak belajar darinya. Saat ini dia adalah mahasiswa master Teknik Elektro UGM.

Saya kenal dengan Budi sejak kelas 6 SD. Waktu itu ada lomba di SMP N 1 Bantul. Kalau tidak salah namanya Lomba 4 Mapel. Mungkin ini lomba dengan peserta terbanyak di Bantul. Dulu tahun 2007 (kami kelas 6) pesertanya sekitar 1200 kalau tidak salah. Karena ruangan di SMP tidak cukup panitia sampai meminjam ruangan SMA N 2 Bantul yang lokasinya berdekatan. Ini lomba yang saya dapat infonya dari iklan di Kedaulatan Rakyat dan salah satu cara Allah menunjukkan jalan saya sampai saat ini ada di Bandung.

Pengurutan ruangan saat itu dilakukan berdasarkan abjad nama. BU dan CH dekat. Kami waktu itu satu ruangan. Kami belum bertegur sapa juga sebenarnya sampai akhirnya pengerjaan soal lomba selesai. Setelah istirahat selama 1 jam, waktu yang juga digunakan untuk koreksi jawaban, pengawas masuk kembali ke ruangan.

"Saya akan membacakan peringkat adek-adek, tapi untuk peserta nomor xxx dan xxx (saya sudah lupa) silakan menuju lab biologi untuk mengikuti babak selanjutnya", kira-kira begitu yang dikatakan pengawas.

Alhamdulillaah, ternyata kami masuk 20 besar dan berhak ikut babak final. Saat itu barulah kami berkenalan karena memang cuma 2 orang dari ruangan kami.

Time flies, akhirnya kami sama-sama masuk kelas RSBI SMP N 1 Bantul. Waktu itu RSBI dibina dengan luar biasa bagus. Kurikulum plus plus, fasilitas lengkap, banyak kegiatan, dibiasakan bahasa Inggris, dll. Alhamdulillah. Tiga tahun kami sekelas plus dolan bareng, ngantin bareng, dll, bersama kawan-kawan lain juga.

Beberapa kali pula kami diikutkan lomba bareng. Salah satu yang paling berkesan adalah Lomba RSBI Nasional dimana 120 SMP RSBI berlomba di Jakarta diwakili 4 orang untuk 4 mapel : Matematika, Biologi, Fisika, English. Saya dan Budi sama-sama suka matematika. Tapi memang dasar dia jenius dan mulai termakan hasutan untuk menjadi dokter jadi biologi juga dia jago, akhirnya saya ikut math dia ikut bio. Alhamdulillah sama-sama membawa pulang penghargaan waktu itu. Kami juga tinggal sekamar, berempat waktu itu, bersama Askar (sekarang T.Kimia ITB) dan Habib (kayanya T.Elektro ITS).

SMA kami berbeda sekolah. Dia masuk SMA N 3 Yogya untuk mengejar cita-citanya menjadi dokter. Sedangkan saya tidak diijinkan sekolah di kota karena dibilang terlalu jauh jaraknya. Dia masuk kelas akselerasi sehingga kuliahnya 1 angkatan di atas saya. Dia ternyata banting stir, nggak jadi masuk kedokteran, dia masuk teknik elektro UGM, ambil fast track, makanya sekarang sudah S2.

Sekarang agak jarang kami bertemu. Terakhir ketemu waktu lebaran kemarin karena kami bersama teman-teman memang ada agenda tahunan silaturahmi ke beberapa guru SMP. Sempat ada buka bersama juga kemarin.

Saya banyak belajar dari dia. Memang dari SMP sudah temuwa diantara kami semua. Sekarang pun sekolahnya 1 tahun lebih di atas. Yah walaupun begitu saya tidak pernah memanggilnya 'mas' atau 'kak' karena memang sudah akrab sejak dulu. haha

Semangat Bud, semoga cita-cita sama-sama tercapai. See you on top. Ayok dolan meneh !


Salam,
Chandra


Sesuai janji saya sebelumnya, kali ini saya akan menulis tentang matematika.

Di ITB, ada yang namanya Bumi Medika Ganesha (BMG). BMG adalah salah satu UPT di ITB yang tugasnya memberikan layanan kesehatan kepada civitas akademika ITB dan umum. Jika berobat di klinik ini, biayanya dipukul rata 20 ribu rupiah. 

Saya lupa dalam forum apa tepatnya, tapi pernah saya dengar bahwa ada saat-saat tertentu dimana pasien BMG tiba-tiba melonjak. Saat-saat tersebut adalah ketika musim ujian mahasiswa tingkat satu, tingkat tahap persiapan bersama (TPB). Kabarnya pasien BMG melonjak ketika tiba jadwal ujian Matematika Dasar, Fisika Dasar, dan Kimia Dasar.

Sistem ujian mahasiswa TPB ITB agak berbeda. Mereka tidak ada minggu ujian atau semacamnya. Semua ujian diletakkan pada hari sabtu. Jadi yang terjadi misalnya sabtu ini ujian kimia, sabtu minggu berikutnya matematika, lalu sabtunya lagi fisika. Pada saat-saat seperti ini lah BMG tiba-tiba ramai.

Materi kuliah yang sulit dan tekanan yang besar tampaknya menimbulkan anxiety parah di kalangan mahasiswa. Jika diperparah dengan manajemen diri yang kurang baik di perantauan dan musim yang kurang bersahabat maka penyakit lebih mudah menjangkit. 

Jadi, ada 2 musim dimana mahasiswa ITB banyak sakit, yaitu musim pancaroba dan musim ujian.

Problemnya adalah, ketika mendengar kata matematika, kita langsung membayangkan angka dan itung-itungan. Padahal matematika bukan tentang itu. Pada tingkat yang lebih tinggi proses menghitung bisa diambil alih oleh otomasi komputer. Alasan yang seharusnya mengapa kita belajar matematika adalah untuk mengasah logika dan kemampuan melihat pola.

Matematika adalah ilmu yang paling bersih karena kita tidak memberikan pengaruh di dalamnya. Kita sedang sedih 2 + 2 = 4. Kita sedang jatuh cinta tetap 2 + 2 = 4.

Matematika juga bukan ilmu pasti, tapi kesepakatan. Hitungan kita terjadi seperti yang biasa kita lakukan karena kita sepakat menggunakan bilangan persepuluhan (desimal). Semua akan berbeda bila dunia sepakat menggunakan bilangan biner atau heksadesimal.

Tapi yang lebih penting dari itu adalah kita perlu memahami matematika sebagai bahasa. Matematika memang terlihat hanya berisikan angka dan notasi-notasi, kalaupun ada kata-kata hanya pelengkap. Tapi sebenarnya notasi-notasi itu adalah kata-kata dalam bahasa matematika. 

Contoh jika kita punya kalimat :
Budi sudah mandi dan sarapan, sekarang dia siap berangkat sekolah.

Kalimat tersebut bisa diubah menjadi :
X + Y = Z
dengan
X : Budi sudah mandi
Y : Budi sudah sarapan
Z : Budi siap berangkat sekolah.

Itu adalah sebuah contoh sederhana. Yang lebih rumit banyak. Dulu di SD kita juga sudah diajarkan notasi macam < (berarti lebih kecil), > (lebih besar), dll. Kita menganggap itu hanya untuk mengerjakan soal ujian pertidaksamaan. Padahal itu salah satu awalan untuk mengajarkan matematika sebagai bahasa.

Penurunan rumus legendaris E = mc2 atau persamaan Navier Stokes adalah hasil otak-atik ribuan persamaan (kalimat) matematika. Orang matematika menghasilkan persamaan-persamaan itu sama saja seperti seorang penulis menulis novel. Keduanya memiliki kesamaan yaitu proses berantai mengolah sesuatu. Jika novelis mengolah kata menjadi kalimat dan paragraf, matematikawan mengolah angka, simbol, dan notasi menjadi persamaan.

Pernahkah Anda memaksa otak Anda untuk memunculkan kalimat dan kata mutiara ? Sebenarnya saat itu Anda sedang membuat otak-atik matematis di kepala Anda. Anda menghubungkan pengalaman masa lalu, kondisi sekarang, apa yang pernah didengar dan dilihat, dll. Muncullah sebuah kalimat (persamaan) hasil dari otak-atik kalimat (persamaan) yang banyak itu.

Mungkin agak sulit membayangkan dan menerima konsep matematika sebagai bahasa. Tapi sebenarnya tanpa sadar kita menggunakan matematika setiap hari. Contohnya ketika pulang kantor atau kampus, kita memilih jalan tertentu karena kita sudah bisa mengelompokkan pola kemacetan jalan. Kemampuan melihat pola adalah salah satu fungsi matematika.

Contoh lain, kita memakai sabuk pengaman karena kemungkinan untuk celaka di jalan lebih sedikit. Misal ada data yang menyatakan hal ini. Sense tentang kemungkinan dan statistik juga dibangun oleh matematika.

Dalam diri kita sudah ada software yang mengambil keputusan menggunakan cara berpikir matematika. Menurut saya, salah satu orang yang sangat pintar mentranslate bahasa kata menjadi bahasa matematika adalah Sabrang Mowo Damar Panuluh

Matematika adalah ilmu yang sangat baik untuk mengasah logika dan penalaran. Gampangnya matematika perlu dipelajari supaya kita jadi orang yang gampang paham terhadap apapun. Sayang sekali sejak tingkat dasar kita sudah diajarkan bahwa matematika adalah ilmu (untuk) menghitung. Untuk menentukan apakah jawaban yang benar a,b,c,d, atau e.

Pemahaman matematika sebagai cara untuk menghitung sesuatu menjadikannya sangat kaku dan menakutkan. Yaa memang ketika ujian kita harus menghitung, tapi ujian itu kan hanya sesaat. Kalau mau memahami matematika secara lebih menyenangkan maka kita perlu paham matematika sebagai sebuah bahasa dan seni berlogika.

Sabar yaa adek-adek. Matematika itu indah kok. Jangan takut

Ada sebuah quote, diolah dari dalam kepala mahasiswa matematika ITB yang gagal lulus, Sujiwo Tejo : "Cinta nggak ada karena-karena, yang ada karena-karena adalah kalkulasi bukan cinta".

Sekian pemikiran saya tentang matematika. Semoga mudah dipahami. Tinggalkan pesan jika ingin berdiskusi :)


Salam,
Chandra




Allah SWT berfirman dalam QS Al-Insyirah 5-6 :
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Entah kenapa kemarin sore hati saya nggak enak dan malah terpikir diagram ini. Sebuah himpunan (set) berisi problem-problem terhubung dengan himpunan solution. Himpunan solution adalah himpunan bagian (subset) dari himpunan pertolongan Allah yang ukurannya tak hingga.

Kurang lebih cara membaca diagram itu adalah :
1. Untuk setiap problem, pasti sudah ada solusinya. Pemikiran ini akibat kata-katanya 'bersama'.
2. Tidak masalah jika kita sudah bisa mendefinisikan problemnya dan mengetahui kandidat solusinya. Tinggal diterapkan.
3. Tapi tanpa tahu solusinya atau bahkan tanpa bisa mendefinisikan masalahnya pun, kalau kita merasa ada yang tidak benar pasti selalu ada pertolongan Allah.

Sebenarnya saya tidak pede menasehati, merasa belum siap jika diuji dengan nasehat itu sendiri. Tapi semoga poin pikiran saya tersampaikan. Aamiin
.
.
.
.
Di samping pesan itu, sebenarnya saya ingin menunjukkan bahwa bahasa arab bisa ditranslate ke bahasa matematika. Saya ingin mengenalkan pendekatan matematika sebagai bahasa. Semoga bisa mengubah pandangan orang (minimal saya sendiri) tentang matematika dan menghilangkan math anxiety di benak adik-adik kita.
InsyaAllah next time saya akan menulis tentang itu lebih panjang.


Salam,
Chandra


"Hardskill harus paripurna, softskill juga harus punya" - dr Hasto

Perjalanan ke Bumi Langit berlanjut. Tidak tanggung-tanggung, agendanya ketemu Bupati Kulonprogo yang sekarang maju nyalon lagi, tidak lain adalah dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). Pertemuan ini dirancang oleh teman-teman Kongkow Medika. Sebuah komunitas, perkumpulan, atau geng berisi mahasiswa-mahasiswa aktif, berprestasi, kritis, banyak ide dan tenaga, visioner, tapi anomali di lingkungannya, yang berasal dari cluster medika UGM.

Siapa saya ni ? jangankan medika, mahasiswa UGM saja bukan. Tapi ajakan berkumpul dengan orang-orang baik tidak bisa ditolak. Akhirnya bukan hanya saya outsider-nya, ada 2 mahasiswa FEB juga.

Khoirul Fahmi, mahasiswa FK UGM yang hafidz 30 juz membuat janji dengan dr. Hasto. Tak disangka ternyata responnya cepat bahkan mendadak. Alhasil teman-teman kongkow medika banyak yang berhalangan. Supaya lebih pantas, nggak dikit-dikit amat yang ikut maka diajaklah kami oleh Zahra karena pagi sampai siangnya sudah sama-sama ke Bumi Langit.

Kami sampai di RSKIA Sadewa di Babarsari, tempat dr. Hasto praktek sekitar pukul 4 sore. Tapi kami harus menunggu sekitar 1 jam sampai pasiennya habis. Ini bukan kampanye, tapi saya ingin menginformasikan saja bahwa selama menjadi bupati beliau tetap praktek 2-3 kali seminggu. Setiap hari dibatasi hanya 40 pasien tapi konsultasi dan tindakan GRATIS.

Masuk ke ruang prakteknya kami bertanya dan minta saran karena sebagai mahasiswa tingkat akhir mungkin ada hal-hal yang perlu untuk disiapkan. Kami disuguhi jawaban yang membuat speechless. Beliau benar-benar ramah dan dengan sepenuh hati memberikan nasehatnya kepada kami yang masih sangat junior.

dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K)

Menurut dr. Hasto, ketika lulus hardskill harus dikuasai secara penuh dan paripurna. Tapi softskill juga harus dimiliki. Jangan sakit hati bila di dunia kerja nanti ada orang ber-hardskill pas-pasan tapi softskill jempolan lebih berhasil daripada yang hardskill bagus tapi kurang bisa berkomunikasi dan kurang memanusiakan manusia. Hal ini lebih krusial lagi bagi teman-teman medika yang berhadapan person to person dengan pasien.

Masih menurut dr. Hasto, orang yang sukses adalah orang yang mudah di-iya-kan banyak orang. Pendekatan ini digunakan beliau selama menjadi Bupati, jabatan yang sebenarnya tidak straight forward dengan keilmuannya. Kesuksesan orang dipengaruhi salah satunya oleh penggunaan waktunya. Beliau menjelaskannya menggunakan analogi melipat kertas.

Bayangkan ada kertas sepanjang 12 cm yang mewakili waktu setahun, 1 bulan 1 cm. Banyak orang menggunakannya sebagaimana adanya jadi hanya punya kontribusi sebanyak 12 cm. Tapi orang yang hebat melipat kertas sepanjang 10 meter menjadi 12 cm. Dia tidur lebih sedikit, bekerja lebih banyak, berkegiatan dan berkontribusi sejak bangun tidur hingga larut malam. Hasilnya kontribusi sebanyak orde meter-an bisa dilakukan dalam jangka waktu yang sama, 12 bulan. Cara seperti itu menjadikan banyak orang seusia memiliki kualitas kontribusi yang berbeda. Untuk menjadi seperti itu, carilah banyak kegiatan yang relevan dan bisa dilakukan beriringan. Bila tampak tidak relevan, cari relevansinya.

Menyimak dengan hangat, obrolan berbobot tapi santai

Beliau menjelaskan bedanya orang terampil, orang bijak, dan orang arif. Orang terampil adalah yang bisa menangkap ikan dengan cepat, dapat banyak, tapi airnya jadi keruh. Orang bijak adalah orang yang bisa menangkap ikan dengan cepat, dapat banyak, dan airnya tetap bening. Sementara orang arif adalah orang yang tidak perlu ke kolam, ikannya datang sendiri.

dr. Hasto mencontohkan sosok seorang pejuang kemanusiaan. Jika menemui rintangan yang sulit maka pikirkan, "risiko terburuknya apa ?", lalu ikhlaskan. Untuk menjadi siap, kita harus punya ilmu. Mengabdi di bidang kesehatan, ekonomi, maupun teknik harus didasari ilmu yang cukup karena bertanggung jawab kepada orang banyak.

Setelah tahu saya dari Teknik Penerbangan, dr. Hasto sempat bicara tentang ground handling. Agaknya urusan bandara Kulonprogo cukup menjadi bahan pikiran beliau. hehehe

Adzan maghrib berkumandang dan kami pamitan. Berharap bisa ketemu lagi dengan beliau. Saya pribadi berharap ketemu tokoh-tokoh keren lagi dan mengisi waktu mudik dengan hal-hal super berbobot.

Dari RSKIA Sadewa kami menuju UGM, mengantar Rahma dan Erlin. Lalu kembali ke Banguntapan, makan, lalu pamitan pulang ke rumah.

Terima kasih banyak Zahra, Fahmi, Iqbal, Rahma, Erlin, Rofaidah atas perjalanannya. Nice to see amazing people like kalian. Sampai ketemu lagi.

Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah

Salam,
Chandra




Manusia diturunkan di bumi untuk menjadi khalifah. Oleh karena itu sudah selayaknya ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan manusia dan alam. Kurang lebih pemikiran demikian yang dibawa oleh Bumi Langit Institute



Alhamdulillah kepulangan kali ini sangat berbobot. Walaupun baru 2 hari tapi isinya luar biasa. Setelah kemarin quality time dengan keluarga, hari ini (10/12) saya mendapat buaanyak sekali inspirasi.

Dengan agak dadakan, saya diajak Zahra Iftikar untuk ikut meng-guide mahasiswa exchange dari Norway. Agendanya adalah berkunjung ke Bumi Langit Institute di Imogiri Bantul. Sebelumnya belum pernah saya dengar nama itu. Setelah googling ternyata soooo interesting. Langsung lah saya iyakan ajakan itu.

Rute yang  dilewati tadi pagi : Rumah – Banguntapan – UGM – Seturan – Imogiri. Setelah agak tersendat karena traffic Alhamdulillah kami sampai di Bumi Langit sekitar pukul 11.

Bumi Langit terletak di pinggir jalan Imogiri – Mangunan, Bantul. Lokasinya tidak jauh dari Makam Raja-raja Imogiri. Di tanah seluas 3 ha berdiri sebuah sistem pengelolaan lingkungan yang terintegrasi, nyaris zero waste, dan sangat ramah lingkungan. Bumi Langit ingin mandiri, mereka menggunakan listrik dari solar panel dan diesel, air ambil dari tanah sekitarnya, memasak pakai biogas (restoran kompornya banyak, LPJ masih ada saya lihat)

Bumi Langit Institute digagas oleh Bapak Iskandar Woworuntu. Beliau adalah seorang muslim keturunan bapak Indo – Belanda dan ibu Yahudi. Berdasarkan nilai-nilai Islam dan idealismenya, beliau mendirikan tempat ini untuk mengembalikan hubungan yang seimbang antara manusia dan alam serta untuk kebaikan diri dan orang-orang di sekitarnya. Pak Iskandar sangat concern dengan makanan yang masuk ke perut karena itulah sumber segala hal termasuk perilaku. Pak Iskandar tinggal bersama anak istri dan relawan Bumi Langit di sana.

Rumah Pak Iskandar sekaligus tempat Permaculture Design Course (PDC)
Bumi Langit Institute ingin mempopulerkan permaculture farming dan food forest. Sebenarnya saya tidak begitu paham apa itu permaculture (or permanent culture (?) ). Tapi yang saya lihat disana adalah sekumpulan kegiatan berbasis lingkungan yang saling terkait, dari alam untuk alam, kebaikannya dimanfaatkan manusia pada porsi yang pas untuk tujuan kebaikan berdasarkan Islam.

Disana ada sistem pengelolaan grey water yang mengubah limbah cair rumah dan Warung Bumi menjadi air yang bisa digunakan untuk menyiram tanaman dan membuat kolam ikan. Tanaman yang ada sangat bervariasi dan dimanfaatkan untuk keperluan rumah dan tamu. Ikan hasil kolam untuk dimakan.

Pak Sugiyo namanya

Ada pula ternak sapi, kambing, ayam, cacing, kelinci dll. Kotoran hewan (dan manusia) dimanfaatkan menjadi biogas. Saya sempat mengintip ke dapurnya, memang mereka menggunakan biogas untuk memasak. Ampas pembuatan biogas dimanfaatkan untuk pupuk dan ternak cacing. Cacing digunakan untuk obat dan limbah ternaknya berupa cairan (disebut kencing cacing) dipakai sebagai pupuk cair.


Ternak cacing, relawan Bumi Langit kalau badan kurang sehat ambil cacing dari sini langsung masuk mulut katanya

Masih banyak hal-hal menarik yang bisa dilihat disana. Perjalanan muter-muter kebun, tanpa alas kaki, melihat ternak dari dekat, dll menjanjikan pengalaman baru terutama bagi Anda yang hidup di kota. Cobalah, saaangat berkesan.

Mas Yogi si Pemandu, urang Bandung, alumni Ilmu Tanah Unpad
Kebutuhan memasak diambil dari kebun sendiri

Setelah berkeliling, kami duduk-duduk di Warung Bumi. Warung Bumi adalah bangunan berbentuk Joglo (bangunan khas Yogyakarta) yang difungsikan sebagai restoran. Harap harap cemas, tepat ketika akan pulang akhirnya kami bertemu Pak Iskandar. Cita-cita untuk ngobrol-ngobrol dengan beliau Alhamdulillah kesampaian.

Beliau menyampaikan banyak inspirasi. Beliau prihatin dengan tatanan hidup modern yang tampak hebat tapi sebenarnya merusak. Makanan sebagai faktor pendukung kehidupan diproduksi dalam skala industri dengan beberapa bahan yang sintetis. Padahal makanan adalah sesuatu yang masuk ke tubuh dan pasti berpengaruh. Pengaruh pada kesehatan memasukkan manusia ke jebakan berikutnya : obat (ini bapaknya lho yang ngomong). Lebih parah, selain memengaruhi hardware (tubuh) makanan juga bisa mengotak atik software kita.

Allah telah menciptakan segalanya secara berimbang. Manusia boleh memanfaatkan alam pada porsi tertentu. Jika lebih dari itu maka manusia salah sebagai khalifah. Menurut Pak Iskandar, cara hidup konsumtif dan konsep kapitalisme adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan Islam. Melalui Bumi Langit Institute beliau ingin memperkenalkan sekaligus memfasilitasi masyarakat yang :
- Secara fisik memiliki ketertarikan dengan Permakulture dan Sustainable Environment
- Memiliki kesadaran untuk mengembalikan interaksi seimbang manusia - alam

Sebagai anak muda yang masih berada (dan belum bisa meninggalkan) sistem kota modern, kami disadarkan bahwa time is running out, harus ada yang melakukan perubahan. Sebagai muslim (si mahasiswa Norway juga muslim) kita punya tanggung jawab untuk menjadi khalifah dan harus berhasil. 

"When someone find a wisdom, the wisdom choose him/her", kata Pak Iskandar. Maaf tidak banyak-banyak amat yang saya ingat dari percakapan dengan beliau. Tapi InsyaAllah banyaak sekali nilai-nilai yang saya ambil dan teringat karena jleb menusuk dalam hati dan pikiran. Mungkin nanti www.zhriftikar.com akan menuliskan dengan lebih lengkap karena dia yang nyatat hehehe.

Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Iskandar sekeluarga, Mas Yogi yang telah memandu kami berkeliling, seluruh keluarga besar Bumi Langit, Zahra, Rahma, Erlin, dan Rofaida. Terima kasih sudah mengajak saya kesini.



Salam,
Chandra

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Eiiits masih ada lanjutannya...
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home