Bumi Langit Institute, Berbicaralah dengan Alam

Manusia diturunkan di bumi untuk menjadi khalifah. Oleh karena itu sudah selayaknya ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan manusia dan alam. Kurang lebih pemikiran demikian yang dibawa oleh Bumi Langit Institute



Alhamdulillah kepulangan kali ini sangat berbobot. Walaupun baru 2 hari tapi isinya luar biasa. Setelah kemarin quality time dengan keluarga, hari ini (10/12) saya mendapat buaanyak sekali inspirasi.

Dengan agak dadakan, saya diajak Zahra Iftikar untuk ikut meng-guide mahasiswa exchange dari Norway. Agendanya adalah berkunjung ke Bumi Langit Institute di Imogiri Bantul. Sebelumnya belum pernah saya dengar nama itu. Setelah googling ternyata soooo interesting. Langsung lah saya iyakan ajakan itu.

Rute yang  dilewati tadi pagi : Rumah – Banguntapan – UGM – Seturan – Imogiri. Setelah agak tersendat karena traffic Alhamdulillah kami sampai di Bumi Langit sekitar pukul 11.

Bumi Langit terletak di pinggir jalan Imogiri – Mangunan, Bantul. Lokasinya tidak jauh dari Makam Raja-raja Imogiri. Di tanah seluas 3 ha berdiri sebuah sistem pengelolaan lingkungan yang terintegrasi, nyaris zero waste, dan sangat ramah lingkungan. Bumi Langit ingin mandiri, mereka menggunakan listrik dari solar panel dan diesel, air ambil dari tanah sekitarnya, memasak pakai biogas (restoran kompornya banyak, LPJ masih ada saya lihat)

Bumi Langit Institute digagas oleh Bapak Iskandar Woworuntu. Beliau adalah seorang muslim keturunan bapak Indo – Belanda dan ibu Yahudi. Berdasarkan nilai-nilai Islam dan idealismenya, beliau mendirikan tempat ini untuk mengembalikan hubungan yang seimbang antara manusia dan alam serta untuk kebaikan diri dan orang-orang di sekitarnya. Pak Iskandar sangat concern dengan makanan yang masuk ke perut karena itulah sumber segala hal termasuk perilaku. Pak Iskandar tinggal bersama anak istri dan relawan Bumi Langit di sana.

Rumah Pak Iskandar sekaligus tempat Permaculture Design Course (PDC)
Bumi Langit Institute ingin mempopulerkan permaculture farming dan food forest. Sebenarnya saya tidak begitu paham apa itu permaculture (or permanent culture (?) ). Tapi yang saya lihat disana adalah sekumpulan kegiatan berbasis lingkungan yang saling terkait, dari alam untuk alam, kebaikannya dimanfaatkan manusia pada porsi yang pas untuk tujuan kebaikan berdasarkan Islam.

Disana ada sistem pengelolaan grey water yang mengubah limbah cair rumah dan Warung Bumi menjadi air yang bisa digunakan untuk menyiram tanaman dan membuat kolam ikan. Tanaman yang ada sangat bervariasi dan dimanfaatkan untuk keperluan rumah dan tamu. Ikan hasil kolam untuk dimakan.

Pak Sugiyo namanya

Ada pula ternak sapi, kambing, ayam, cacing, kelinci dll. Kotoran hewan (dan manusia) dimanfaatkan menjadi biogas. Saya sempat mengintip ke dapurnya, memang mereka menggunakan biogas untuk memasak. Ampas pembuatan biogas dimanfaatkan untuk pupuk dan ternak cacing. Cacing digunakan untuk obat dan limbah ternaknya berupa cairan (disebut kencing cacing) dipakai sebagai pupuk cair.


Ternak cacing, relawan Bumi Langit kalau badan kurang sehat ambil cacing dari sini langsung masuk mulut katanya

Masih banyak hal-hal menarik yang bisa dilihat disana. Perjalanan muter-muter kebun, tanpa alas kaki, melihat ternak dari dekat, dll menjanjikan pengalaman baru terutama bagi Anda yang hidup di kota. Cobalah, saaangat berkesan.

Mas Yogi si Pemandu, urang Bandung, alumni Ilmu Tanah Unpad
Kebutuhan memasak diambil dari kebun sendiri

Setelah berkeliling, kami duduk-duduk di Warung Bumi. Warung Bumi adalah bangunan berbentuk Joglo (bangunan khas Yogyakarta) yang difungsikan sebagai restoran. Harap harap cemas, tepat ketika akan pulang akhirnya kami bertemu Pak Iskandar. Cita-cita untuk ngobrol-ngobrol dengan beliau Alhamdulillah kesampaian.

Beliau menyampaikan banyak inspirasi. Beliau prihatin dengan tatanan hidup modern yang tampak hebat tapi sebenarnya merusak. Makanan sebagai faktor pendukung kehidupan diproduksi dalam skala industri dengan beberapa bahan yang sintetis. Padahal makanan adalah sesuatu yang masuk ke tubuh dan pasti berpengaruh. Pengaruh pada kesehatan memasukkan manusia ke jebakan berikutnya : obat (ini bapaknya lho yang ngomong). Lebih parah, selain memengaruhi hardware (tubuh) makanan juga bisa mengotak atik software kita.

Allah telah menciptakan segalanya secara berimbang. Manusia boleh memanfaatkan alam pada porsi tertentu. Jika lebih dari itu maka manusia salah sebagai khalifah. Menurut Pak Iskandar, cara hidup konsumtif dan konsep kapitalisme adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan Islam. Melalui Bumi Langit Institute beliau ingin memperkenalkan sekaligus memfasilitasi masyarakat yang :
- Secara fisik memiliki ketertarikan dengan Permakulture dan Sustainable Environment
- Memiliki kesadaran untuk mengembalikan interaksi seimbang manusia - alam

Sebagai anak muda yang masih berada (dan belum bisa meninggalkan) sistem kota modern, kami disadarkan bahwa time is running out, harus ada yang melakukan perubahan. Sebagai muslim (si mahasiswa Norway juga muslim) kita punya tanggung jawab untuk menjadi khalifah dan harus berhasil. 

"When someone find a wisdom, the wisdom choose him/her", kata Pak Iskandar. Maaf tidak banyak-banyak amat yang saya ingat dari percakapan dengan beliau. Tapi InsyaAllah banyaak sekali nilai-nilai yang saya ambil dan teringat karena jleb menusuk dalam hati dan pikiran. Mungkin nanti www.zhriftikar.com akan menuliskan dengan lebih lengkap karena dia yang nyatat hehehe.

Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Iskandar sekeluarga, Mas Yogi yang telah memandu kami berkeliling, seluruh keluarga besar Bumi Langit, Zahra, Rahma, Erlin, dan Rofaida. Terima kasih sudah mengajak saya kesini.



Salam,
Chandra

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Eiiits masih ada lanjutannya...
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment