Sosok : Bupati Hasto dari Kulonprogo



"Hardskill harus paripurna, softskill juga harus punya" - dr Hasto

Perjalanan ke Bumi Langit berlanjut. Tidak tanggung-tanggung, agendanya ketemu Bupati Kulonprogo yang sekarang maju nyalon lagi, tidak lain adalah dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). Pertemuan ini dirancang oleh teman-teman Kongkow Medika. Sebuah komunitas, perkumpulan, atau geng berisi mahasiswa-mahasiswa aktif, berprestasi, kritis, banyak ide dan tenaga, visioner, tapi anomali di lingkungannya, yang berasal dari cluster medika UGM.

Siapa saya ni ? jangankan medika, mahasiswa UGM saja bukan. Tapi ajakan berkumpul dengan orang-orang baik tidak bisa ditolak. Akhirnya bukan hanya saya outsider-nya, ada 2 mahasiswa FEB juga.

Khoirul Fahmi, mahasiswa FK UGM yang hafidz 30 juz membuat janji dengan dr. Hasto. Tak disangka ternyata responnya cepat bahkan mendadak. Alhasil teman-teman kongkow medika banyak yang berhalangan. Supaya lebih pantas, nggak dikit-dikit amat yang ikut maka diajaklah kami oleh Zahra karena pagi sampai siangnya sudah sama-sama ke Bumi Langit.

Kami sampai di RSKIA Sadewa di Babarsari, tempat dr. Hasto praktek sekitar pukul 4 sore. Tapi kami harus menunggu sekitar 1 jam sampai pasiennya habis. Ini bukan kampanye, tapi saya ingin menginformasikan saja bahwa selama menjadi bupati beliau tetap praktek 2-3 kali seminggu. Setiap hari dibatasi hanya 40 pasien tapi konsultasi dan tindakan GRATIS.

Masuk ke ruang prakteknya kami bertanya dan minta saran karena sebagai mahasiswa tingkat akhir mungkin ada hal-hal yang perlu untuk disiapkan. Kami disuguhi jawaban yang membuat speechless. Beliau benar-benar ramah dan dengan sepenuh hati memberikan nasehatnya kepada kami yang masih sangat junior.

dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K)

Menurut dr. Hasto, ketika lulus hardskill harus dikuasai secara penuh dan paripurna. Tapi softskill juga harus dimiliki. Jangan sakit hati bila di dunia kerja nanti ada orang ber-hardskill pas-pasan tapi softskill jempolan lebih berhasil daripada yang hardskill bagus tapi kurang bisa berkomunikasi dan kurang memanusiakan manusia. Hal ini lebih krusial lagi bagi teman-teman medika yang berhadapan person to person dengan pasien.

Masih menurut dr. Hasto, orang yang sukses adalah orang yang mudah di-iya-kan banyak orang. Pendekatan ini digunakan beliau selama menjadi Bupati, jabatan yang sebenarnya tidak straight forward dengan keilmuannya. Kesuksesan orang dipengaruhi salah satunya oleh penggunaan waktunya. Beliau menjelaskannya menggunakan analogi melipat kertas.

Bayangkan ada kertas sepanjang 12 cm yang mewakili waktu setahun, 1 bulan 1 cm. Banyak orang menggunakannya sebagaimana adanya jadi hanya punya kontribusi sebanyak 12 cm. Tapi orang yang hebat melipat kertas sepanjang 10 meter menjadi 12 cm. Dia tidur lebih sedikit, bekerja lebih banyak, berkegiatan dan berkontribusi sejak bangun tidur hingga larut malam. Hasilnya kontribusi sebanyak orde meter-an bisa dilakukan dalam jangka waktu yang sama, 12 bulan. Cara seperti itu menjadikan banyak orang seusia memiliki kualitas kontribusi yang berbeda. Untuk menjadi seperti itu, carilah banyak kegiatan yang relevan dan bisa dilakukan beriringan. Bila tampak tidak relevan, cari relevansinya.

Menyimak dengan hangat, obrolan berbobot tapi santai

Beliau menjelaskan bedanya orang terampil, orang bijak, dan orang arif. Orang terampil adalah yang bisa menangkap ikan dengan cepat, dapat banyak, tapi airnya jadi keruh. Orang bijak adalah orang yang bisa menangkap ikan dengan cepat, dapat banyak, dan airnya tetap bening. Sementara orang arif adalah orang yang tidak perlu ke kolam, ikannya datang sendiri.

dr. Hasto mencontohkan sosok seorang pejuang kemanusiaan. Jika menemui rintangan yang sulit maka pikirkan, "risiko terburuknya apa ?", lalu ikhlaskan. Untuk menjadi siap, kita harus punya ilmu. Mengabdi di bidang kesehatan, ekonomi, maupun teknik harus didasari ilmu yang cukup karena bertanggung jawab kepada orang banyak.

Setelah tahu saya dari Teknik Penerbangan, dr. Hasto sempat bicara tentang ground handling. Agaknya urusan bandara Kulonprogo cukup menjadi bahan pikiran beliau. hehehe

Adzan maghrib berkumandang dan kami pamitan. Berharap bisa ketemu lagi dengan beliau. Saya pribadi berharap ketemu tokoh-tokoh keren lagi dan mengisi waktu mudik dengan hal-hal super berbobot.

Dari RSKIA Sadewa kami menuju UGM, mengantar Rahma dan Erlin. Lalu kembali ke Banguntapan, makan, lalu pamitan pulang ke rumah.

Terima kasih banyak Zahra, Fahmi, Iqbal, Rahma, Erlin, Rofaidah atas perjalanannya. Nice to see amazing people like kalian. Sampai ketemu lagi.

Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah

Salam,
Chandra




Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment