Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”. [Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]

Itu di atas adalah foto-foto yang berhasil dikumpulkan setelah saya cari di beberapa gadget, sosmed, dan minta ke teman. Alhamdulillah setelah berdomisili di Bandung sekitar 3,5 tahun ini (wah tak terasa yaa..), lumayan sering saya kedatangan tamu. 

Mereka adalah keluarga, teman SMP/SMA, atau saudara yang lainnya. Keperluannya beragam, ada yang karena ada acara di Bandung atau di ITB, ada yang sekedar piknik, ada yang karena tidak jauh dari Bandung jadi menyempatkan main. Saya barusan hitung, yang saya ingat sudah lebih dari 20 kali saya kedatangan tamu. Alhamdulillah. 

Kegiatannya macem-macem juga, ada yang cuma meet up di kampus, ada yang ngobrol sambil makan, ada yang ngajak ke tempat wisata, sering pula ada yang nginep di kosan. Di kos kami ada kasur untuk bersama, bisa dipakai siapapun yang kedatangan tamu. Kadang saya ketemu sendiri, kadang juga ajak teman yang sama-sama kenal.

Saya sangat berharap kalau ada kenalan yang ke Bandung silakan mengabari saya. Kalau saya di Bandung dan pas sehat InsyaAllah saya sempatkan ketemu. Tak usah takut merepotkan. Justru saya senang kalau ada tamu. Saat ada kalian-lah saya ikhlas meninggalkan kesibukan kampus untuk jalan-jalan hehehe. 

Ijin "lagi ada tamu" berterima di ITB untuk skip sebagian besar kegiatan. Kegiatan non-akademik sih, kalau akademik ya lihat jatah absen daripada bermasalah. Saya pernah main ke Tangkuban Perahu, Floating Market, Kawah Putih, Rancaupas, Situ Patenggang, dll karena ada tamu, bukan bareng-bareng kawan di sini. Saat itu lah saya meluangkan waktu berwisata hehehe

Sekarang ada yang ke Bandung mondok tahfidz. Programnya ketat jadi nggak bisa komunikasi. Mungkin memang belum diijinkan ketemu. Dia sampai di Bandung 24 Desember, hari itu juga saya pulang ke Jogja, anggap saja papasan. Tidak biasanya saya mudik akhir tahun selambat itu, biasanya libur cepat masuk cepat. Kabarnya programnya selesai 24 Januari, hari itu juga pagi-pagi saya menuju Jakarta karena ada acara di sebelah. Atas request ortu, rute pulang saya agak aneh : Don Mueang - KL, KL - Jogja. InsyaAllah tanggal 31 Januari saya di Jogja.


Maaf lupa ngasih tahu
Salam,
Chandra

Habibie adalah pencinta yang penuh seluruh
cintanya kepada Ainun selalu sungguh
cintanya pada Indonesia tak pernah luruh

Dididik ayah yang berwawasan terbuka
dibesarkan ibu yang kerja keras merealisasikan segala asa

Menghadapi alam rantau yang sulit berkali-kali
Habibie muda bertarung menaklukkan rindu dan rasa sepi

Saat harus hidupi anak dan istri
sekaligus ditekan tenggat disertasi
Habibie tetap memikirkan masa depan negeri

Cintanya kepada Ainun dan Indonesia
membuatnya tak goyah wujudkan cita-cita
walau bujuk rayu harta datang dari penjuru dunia

Visinya melihat Indonesia yang makmur dan sejahtera
hasratnya membangun teknologi yang berguna bagi bangsa

Soal pesawat baginya tentang bersiap jauh-jauh hari
agar Indonesia tak sekedar menjadi konsumen teknologi

Itulah Habibie yang pandangannya jauh merentang
menuju kaki langit yang penuh pengharapan

Untuk Bacharuddin Jusuf Habibie tercinta
80 tahun hanyalah hitung-hitungan usia
tapi keteladanan akan abadi sepanjang masa


Catatan Najwa - eps Cinta Habibie (2016)


Ini adalah kisah dari pagelaran Piala Eropa 1992. Yah, saya juga belum lahir waktu itu. Tapi cerita yang dihadirkan tim dinamit Denmark sangat menginspirasi. 

Piala Eropa 1992 diikuti oleh 8 negara : Swedia (tuan rumah), Jerman, Belanda, Skotlandia, Inggris, Perancis, CIS (Uni Soviet), dan Yugoslavia. Karena permasalahan sanksi akibat perang, Yugoslavia didiskualifikasi. Slot yang kosong diisi oleh Denmark yang gugur pada babak kualifikasi. 

Dari segi pemain Denmark tidak menonjol. Kebanyakan pemainnya hanya bermain di liga lokal yang kualitanya tidak bagus-bagus amat. Yang menonjol hanya kiper Peter Schmeichel yang bermain untuk Manchester United dan Laudrup di Bayern Munchen. Bandingkan dengan Belanda yang memiliki trio maut Ruud Gullit - Rijkaard - Van Basten ditambah youngster Dennis Bergkamp atau Jerman dengan duet Klinsmann dan Rudi Voller.

Denmark berada di Grup A bersama Swedia, Perancis, dan Inggris. Secara mengejutkan mereka mampu mengalahkan Perancis yang diperkuat Eric Cantona dan dilatih Michel Platini dengan skor 2-1. Di pertandingan lain mereka mampu menahan imbang Inggris 0-0. Denmark hanya kalah dari tuan rumah Swedia dengan skor 0-1. Swedia menjadi juara grup, Denmark runner up. Sampai tahap ini Denmark sudah mencuri perhatian karena mampu menyingkirkan Perancis yang lebih difavoritkan untuk lolos.


Dulu menang dapat 2 poin, imbang 1 poin, kalah 0 poin

Sementara itu, 2 tim dari grup B yang lolos adalah Belanda (juara grup) dan Jerman (runner up). Jerman menang tipis atas Swedia dengan skor 3-2 mengantar mereka ke babak final. Semifinal antara Belanda dan Denmark berjalan lebih menegangkan. 

Larsen membawa Denmark unggul pada menit ke 5 melalui sundulan. Menit 23 Bergkamp menyamakan kedudukan, 1-1. Larsen mencetak gol kedua pada menit 33. Frank Rijkaard menyamakan skor 2-2 pada menit 86. Hasil imbang berlanjut sehingga pertandingan harus diputuskan melalui adu penalti. Perjuangan Denmark tidak sia-sia, semua penendangnya berhasil memasukkan bola. Sementara itu, tendangan Marco Van Basten berhasil ditepis oleh Schmeichel. Meskipun tidak tertangkap sempurna, bola tidak masuk ke gawang. Denmark menang dan lolos ke babak final. 

Video pertandingan Belanda vs Denmark :


Final antara Denmark versus Jerman bagaikan pertarungan David vs Goliath. Gawang Schmeichel benar-benar menjadi bulan-bulanan tim Panzer. Klinsmann berkali-kali mendapatkan peluang berbahaya. Namun Schmeichel terlalu kokoh, tidak bisa ditembus. Asyik menyerang, Jerman malah kobobolan oleh gol Jensen di menit 18. 

Jerman makin ngotot. Total 5 kartu kuning diberikan untuk timnas Jerman. Lagi-lagi lengah karena sibuk menyerang mereka tidak siap dengan serangan balik. Vilvort menggandakan skor menjadi 2-0 di menit 78 dan membawa Denmark Juara. 

Video pertandingan Jerman vs Denmark 


"That's it. Denmark, a European Champion. Nobody is expecting this. This is the team who didn't score in the first two fixtures here in Sweden. But they beat all teams and now they beat the world champion."



Kejuaraan Piala Eropa 1992 dimenangi oleh negara yang bahkan tidak lolos kualifikasi. Tak ada yang menyangkan Denmark mampu mengalahkan Perancis, Belanda, dan Jerman. But, they did it. Passion, kerja keras, dan optimisme mengantarkan mereka sampai level yang tidak pernah diperkirakan orang. Dalam sebuah wawancara Schmeichel pernah menceritakan kilas balik perjuangan Denmark di 1992. Mereka juga tidak menyangka akan juara, tapi mereka mempunya never-say-die spirit.

Sepakbola telah banyak membuktikan bahwa kerja keras, semangat, dan optimisme bisa mengalahkan hitungan kualitas di atas kertas. Selain Denmark 1992, ada juga Yunani (Euro 2004) dan Leicester City (Liga Inggris 2016). 

Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Dalam hal apapun ini dapat diterapkan. Bersyukurlah bila kita memiliki kelebihan dalam suatu hal. Namun itu baru sepersekian dari perjuangan. Tugas selanjutnya adalah terus belajar, mengasah kemampuan, dan sepenuh hati dalam penerapannya -- instead of menyombongkan diri. 

Ketika kamu sedang butuh motivasi, ingatlah bahwa tim non unggulan dinamit skandinavia pernah memenangkan Piala Eropa 1992.


Butuh riset nulis beginian...
Salam,
Chandra
Alkisah ada seorang bernama Homer Hickam Jr. Dia adalah seorang insinyur sekaligus penulis. Karirnya melejit di kedua bidang itu. Sebagai insinyur, dia adalah salah satu engineer di NASA. Sebagai penulis, salah satu karyanya adalah novel memoir hidupnya sendiri, Rocket Boys (selanjutnya diberi judul October Sky) yang menjadi buku 'wajib' di sekolah-sekolah pada jamannya. Tahun 1999, novel ini difilmkan dengan judul October Sky. Film ini yang akan saya ceritakan.

Homer adalah seorang pemuda yang berasal dari Coalwood, sebuah kawasan tambang di West Virginia. Alih-alih mengikuti jejak ayahnya menjadi pimpinan tambang, dia bermimpi untuk menguasai angkasa. Semua itu dipicu kekagumannya menyaksikan Sputnik buatan Rusia melintasi langit Amerika. 

Orang-orang di sekitarnya beranggapan bahwa penghidupan ada di bawah permukaan bumi, galian tambang. Anomali pada dirinya membuat gagasannya sulit diterima. Homer yang visioner dan ambisius mengumpulkan beberapa teman sekolahnya. Mereka adalah Quentin Wilson yang kutu buku dan jago sains, Jimmy Carrol yang bersemangat dan memiliki akses ke alat pertukangan tambang, serta Sherman Siers yang terampil di lapangan.

Banyak sekali rintangan yang di alami oleh bocah-bocah ini. Semua orang menganggap remeh kecuali seorang guru di sekolahnya, Miss Riley. Tak kenal menyerah dengan rintangan dan kegagalan mereka akhirnya berhasil meraih capaian yang luar biasa -- dan memang nyata terjadi. Percobaan-percobaan terus dilakukan. Seiring berjalannya waktu orang-orang terbuka mata dan pikirannya. 

Kecelakaan tambang, amarah orang tua, dilema antara tambang dan roket, science festival, dan borgol mewarnai perjalanan Rocket Boys dalam mengejar cita-citanya. 

Keberhasilan Rocket Boys memiliki implikasi yang unik. Mengingat ini kisah nyata, saat itu (tahun 1960an), di West Virginia, Rocket Boys berhasil mengubah pandangan masyarakat tambang bahwa ada cara lain untuk hidup. Tambang pun akhirnya mati dan ditutup dengan damai. Selanjutnya, pada akhir abad 20, ketika Homer Hickam menulis memoirnya sebagai novel dan akhirnya difilmkan, kisahnya menginsipirasi generasi-generasi berikutnya.

Tidak salah tagline film ini, "A great movie that will live in your memory forever". Inspirasinya meliputi berbagai generasi.

Semangat pantang menyerah, determinasi, optimisme, dan kerjasama sudah umum menjadi nilai moral sebuah film fiksi. Tapi October Sky adalah kisah nyata. Karyanya benar-benar ada dan ditampilkan. Bumbu keharuan juga mengisyaratkan betapa pentingnya sebuah keluarga. Video di akhir film benar-benar menunjukkan sesuatu yang nyata mereka lakukan.

Kesimpulannya, meskipun ini film lama, wajib Anda tonton untuk menggelorakan kembali semangat yang mulai aus.

Link : October Sky (1999) , IMDb 7.8/10

Homer Hickam
Homer dan Quentin hampir membuat lab kebakaran
Rocket Boys dalam film October Sky
No Caption...


Salam,
Chandra

Terima kasih kepada Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM ITB) yang telah menyelenggarakan acara yang sangat berkualitas tadi pagi. 

Hari ini, Sabtu (14/1/16) HMM ITB menyelenggarakan M-Seminar bertajuk Formula 1 : Sebuah Sinergi Antara Mimpi dan Engineering. Seminar ini diisi oleh Stephanus Widjanarko (Aerodynamicist Scuderia Torro Rosso F1 Team) dan Roy Daroyni (Kolumnis dan komentator TV Formula 1). Keduanya adalah alumni Teknik Mesin ITB. Pada acara ini hadir pula perwakilan dari Ikatan Alumni ITB. M-Seminar hari ini diselenggarakan di Auditorium CC Timur ITB.

Bahasanya formal banget ya macem berita. Langsung ke materi saja. Saya sempat merangkum sebisanya beberapa hal dari seminar tadi.


Staphanus Widjanarko - Aerodynamicist STR F1 Team, satu-satunya WNI di F1

Stephanus Widjanarko akrab dipanggil "Tephie" semasa kuliah. Beliau adalah bagian dari Teknik Mesin ITB angkatan 2004. Masuk tahun 2004, keluar 2008, dengan IPK 3.94. Selepas kuliah sempat masuk ke Chevron selama 1 tahun. Tahun 2009 melanjutkan studi master (MSc) di Twente University dan selesai tahun 2011. Setelah sempat magang di Vestas Wind System (Denmark) dan Dutch Aerospace, beliau mendapatkan pekerjaan pertamanya di Scuderia Torro Rosso tahun 2013. Sampai saat ini beliau ada di bagian aerodinamika. Hari ini beliau berbagi cerita dan pengalamannya yang keren itu.

Scuderia Torro Rosso adalah salah satu tim 'kecil' di Formula 1. Mereka berperan seperti 'tim junior' dari Red Bull. Mereka mendapat dana dan beberapa fasilitas dari Red Bull. Laboratorium aerodinamika STR berlokasi di Italia, 20 menit berkendara dari sirkuit Imola.

Stephanus Widjanarko   |    sumber : Linked In

Ada hal menarik di Formula 1, tentang tim 'kecil'. Walaupun berada di lintasan yang sama, mereka sangat tahu diri. Tidak ada gunanya bersaing dengan tim besar lagi tajir macam Ferrari, Mercedes, atau Red Bull. Melawan mereka hanya akan menghabiskan ban dan bahan bakar. 

Tim-tim besar ini punya anggaran mencapai 500 atau 600 juta US dollar dalam setahun (yang dilaporkan), sedangkan STR hanya memiliki 150 juta. Tim kecil sangat terbatas dalam melakukan variasi dan optimasi mobil. Mereka tidak memiliki resource yang dimiliki tim besar. Faktanya, untuk semua tim F1 hanya ada 4 supplier engine yaitu Ferrari, Honda, Renault, dan Mercedes. 

Mobil Torro Rosso    |    http://www.f1fanatic.co.uk/

Meski begitu, menjadi 1 dari 350 kru Torro Rosso sudah cukup memberikan tekanan dan tuntutan yang besar bagi Tephie. Tim dituntut menghasilkan mobil berperforma prima, cocok bagi driver, dan memenuhi regulasi. Sebagai aerodynamicist, Tephie bertanggung jawab untuk menghasilkan surface luar mobil untuk selanjutnya digabungkan dengan input dari bidang kajian lain. 

Mendesain mobil balap, apalagi F1 memiliki kemiripan dengan mendesain pesawat terbang. F1 is engineering war. Dalam pembuatannya harus digabungkan pertimbangan dari segi aerodinamika, struktur ringan (crashworthiness), sistem, dll. 

Setelah desain dibuat dan 'ditabrakkan' antar berbagai bidang kajian, mobil dimanufaktur dan diassembly. Bahan utama mobil F1 adalah komposit sehingga mobil sangat ringan. Setelah dirakit kemudian mobil dilakukan track testing untuk mengetahui performanya. Mobil yang siap balap kemudian diserahkan kepada Race Engineer dan Race Mechanics untuk dilakukan setup sesuai kebutuhan track, pembalap, dan kondisi balap.

Hampir 4 tahun berkecimpung di Formula 1, Tephie mengetahui banyak hal menarik dan gosip-gosip yang tidak diketahui orang awam. Misalnya tentang kejadian ketika testing. Pada percobaan pertama mobil berjalan dengan baik. Pada percobaan kedua ternyata engine overheat. Para engineer mencari tahu penyebabnya namun tak kunjung ditemukan. Akhirnya diketahui bahwa penyebabnya adalah driver ganti helm, sesederhana itu. Ternyata pada helm driver dipasang winglet untuk memberikan downforce ke kepala driver agar tidak terangkat pada kecepatan tinggi. Helm yang dipakai pada percobaan kedua memiliki winglet terlalu besar sehingga mengganggu aliran udara yang masuk ke sistem cooling akibarnya mesin kepanasan. Mobil F1 sangat sensitif.

Hal mengasyikkan bagi engineer Formula 1 adalah 'mengakali' regulasi dan mencari loopholes. Regulasi FIA sangat ketat untuk alasan safety dan 'kemenarikan' F1. Namun, untuk menghasilkan mobil yang kompetitif, tim-tim selalu berusaha mencari celah dan melakukan inovasi. Contoh yang telah dilakukan adalah lubang pada nose dan double decker duct.

Tephie masih sangat menikmati pekerjaannya di F1. Beliau menyarankan bagi anak muda yang ingin berkarir sebagai engineer di F1 dapat melanjutkan studi ke universitas-universitas yang memiliki koneksi dengan F1 maupun mengikuti Formula Student.


Roy Daroyni - Kolumnis dan F1 TV Comentator, tulisan-tulisan kerennya di sini

Roy Daroyni adalah alumni Teknik Mesin ITB angkatan 1992. Beliau sebenarnya bekerja di industri yang tidak berhubungan sama sekali dengan otomotif atau balapan. Namun, sejak muda beliau memang hobi mengikuti segala hal tentang balap dan F1. Kemauannya untuk mencari informasi dan belajar memberikan pemahaman teknis yang cukup banyak.

Roy Daroyni (kanan) sebagai komentator F1   |    twitter


Beliau tidak pernah berencana menjadi komentator di TV. Awalnya beliau hanya sering menulis mengenai F1 di milist. Karena sering menulis dan dianggap paham F1, namanya terdengar oleh produser. Beliau dihubungi oleh TPI pada tahun 2004 diminta menjadi komentator F1. Sejak saat itu beliau menjadi langganan TV dan sering diundang juga bila balapan diselenggarakan di negara tetangga Malaysia dan Singapura.

Menurut Pak Roy, Formula 1 adalah sport dan bisnis. F1 melibatkan perputaran dana yang sangat besar. Unsur bisnis sangat kental dalam penyelenggaraannya. Hal yang menarik, tim-tim di F1 sebenarnya 'merugi' secara finansial karena menang sekalipun tidak akan balik modal. Mereka mengharapkan keuntungan dari bidang lain misalnya penjualan mobil konvensionalnya. Mahalnya olahraga ini juga menjadikan Singapura dan Malaysia enggan memperpanjang kontrak sebagai tuan rumah F1. Jadi, bagi Anda orang Indonesia yang ingin nonton F1 live, dekat, dan murah, sebaiknya tahun 2017 ini. 

Untuk menjadikan bisnis F1 tetap terjaga, perlombaan dibuat semenarik mungkin. Caranya adalah melalui pembuatan regulasi yang mencegah dominasi tim atau pembalap tertentu. Selain alasan itu, regulasi dibuat juga untuk kepentingan safety. Sejak insiden yang menewaskan Ayrton Senna tahun 1994 di Italia, keselamatan menjadi sangat diperhatikan oleh FIA. Contoh regulasi yang dibuat adalah engine yang dibatasi hanya 1600 cc. Sebagai perbandingan, ini lebih kecil daripada kapasitas mesin Toyota Innova.

Saking amannya mobil F1 dengan kajian crashworthiness-nya sampai ada idiom, "tempat paling aman di lintasan adalah di dalam mobil itu sendiri".

Terdapat beberapa faktor penting dalam Formula 1, yaitu :
1. Power
2. Grip
3. Center of gravity
4. Weight distribution
5. Balance
6. Fuel tank (position, CoG)

Power berkaitan dengan kekuatan mesin. Namun di lapangan grip malah menjadi faktor lebih penting. Kondisi ban sangat memengaruhi performa mobil. Lap time akan menjadi lebih panjang secara signifikan bila kondisi ban sudah aus. Center of gravity, weight, dan balance berkaitan dengan dinamika mobil. Fuel tank didesain sedemikian sehingga pusat massanya dekat dengan pusat massa mobil. Tujuannya adalah pengurangan berat bahan bakar tidak terlalu memengaruhi kondisi mobil keseluruhan. 

Ada 3 hal yang perlu dilakukan oleh tim-tim untuk mendapatkan keunggulan dalam perlombaan. Pertama, research and development. Namun hal ini sudah umum dan dilakukan oleh semua tim. Faktor yang menentukan justru inovasi dan kemampuan 'mengakali' regulasi. Beberapa inovasi besar yang terjadi di F1 adalah sebagai berikut (beberapa sudah dilarang) :
1. Pneumatic Valve Spring oleh Renault, mampu mengingkatkan RPM mesin 
2. 2nd Fuel Tank oleh BAR Honda, tanki bahan bakar tambahan, akhirnya dilarang
3. Renault Mass Damper oleh Renault, merekayasa osilasi bodi mobil
4. Movable Floor oleh Ferrari, meningkatkan down force ketika berbelok
5. Blown Diffuser oleh RBR, meningkatkan performa di tikungan (RPM rendah)

Diharapkan, teknologi yang digunakan di mobil Formula 1 akan semakin membumi dan diterapkan pada mobil konvensional. Selain itu, akan terus berkembang teknologi yang menjadikan mobil F1 semakin ramah lingkungan. Saat ini teknologi yang telah digunakan adalah Energy Recovery System (ERS). Saya pernah menuliskannya di sini.

Perbandingan mobil F1 2016 dan 2017    |     twitter


Sekian catatan saya tentang seminar tadi pagi. Sejak kecil saya sudah diperkenalkan pada Formula 1 karena Ayah saya hobi juga olahraga balap. Setelah masuk pendidikan teknik ketertarikan saya semakin besar. Sampai-sampai saya bercita-cita berkarier di bidang itu. Seminar ini benar-benar membuka wawasan dan menambah motivasi. Aamiin


Salam,
Chandra


"Adakah yang bersedia menjadi volunteer untuk menemani saya menemui *** di asramanya ?", Prof. Ichsan Setya Putra membungkam seisi ruangan yang tidak mengira seorang guru besar ITB yang penuh kesibukan atas jabatan-jabatannya memaksa untuk menemui salah satu mahasiswanya yang 'bermasalah'.

Prof. Ichsan Setya Putra adalah salah satu guru besar dan dosen yang inspiratif di tempat kami. Beliau adalah alumni Mesin ITB (dulu Penerbangan adalah sub jurusan Mesin). Tanpa menunggu S1 selesai beliau hijrah ke TU Delft Belanda untuk menyelesaikan tugas akhirnya di sana. Entah jalur cepatnya seperti apa, setelah itu beliau 'langsung' S3, selesai dalam waktu sangat cepat. Lalu menjadi Profesor.

Saya pernah diajar oleh beliau pada kuliah Mekanika Kekuatan Material di semester 3. Tidak sekedar mengajar, beliau selalu memotivasi dengan berbagai cara. Nasehatnya sangat berbobot, wawasannya luas, banyak sekali buku yang dibaca, dan penyampaiannya sangat cool. Setiap ada yang membawa makanan danus ke kelas, selalu diborong habis dan dibagikan kepada seluruh peserta kelas. Pernah suatu hari karena jumlahnya kurang, pertemuan berikutnya diminta membawa lebih banyak, dan diborong habis lagi.

Beliau adalah dosen senior dan Guru Besar. Saat ini masih aktif mengajar dan meneliti di Kelompok Keahlian Struktur Ringan Teknik Penerbangan ITB. Beliau juga pernah menjabat ketua jurusan Teknik Penerbangan dan kepala SPM ITB. Saat ini beliau bolak-balik Bandung-Jakarta karena mendapat tambahan jabatan, Wakil Rektor Universitas Pertamina.  

Semua civitas akademika jurusan kami sepakat bahwa beliau adalah sosok yang pantas dijadikan panutan. Semua segan dan mendengarkan jika beliau sudah berbicara.

Hari ini angkatan kami dikumpulkan bersama 2 dosen wali (Pak Ichsan dan Pak Toto). Pak Toto yang juga kaprodi menjelaskan segala hal teknis tentang kuliah terutama di semester akhir ini. Sementara Pak Ichsan memberikan motivasi berkaitan dengan time management, focus and mindfulness, serta pentingnya menetapkan target selesai studi.

Prof ISP lalu membuka pembicaraan mengenai salah satu kawan kami yang 'menghilang' dari kehidupan kampus. Studinya terancam namun jika semester ini bisa dikembalikan ke kampus maka masih bisa selamat. Semester lalu beliau mengutus beberapa orang untuk menemui teman ini. Namun, kali ini beliau ingin bertemu sendiri. 

"Dia masih bisa selesai kuliah. Saya juga orang tua yang punya anak mahasiswa. Sebenarnya yang mau kita bantu itu orang tuanya."

Sudah lama saya kagum pada beliau, namun sikapnya hari ini menunjukkan kebijaksanaan seorang bapak pada level yang sangat tinggi. Ketika banyak mahasiswa yang mengeluh dosennya susah ditemui, beliau (Guru Besar, Wakil Rektor) meluangkan waktu untuk mendatangi mahasiswanya. 

Niat tulus beliau dalam menjaga mahasiswanya menjadikan saya tidak sabar untuk menuliskan ini. Ternyata pernah ada senior yang menulis tentang beliau di blognya, klik di sini


Salam,
Chandra
Sudah di Bandung lagi


Sungguh tidak tahu diri kalau ketika libur dan pulang kampung tiap haru bertanya, "besok ngapain yaa ?". Padahal tiap pagi Allah sudah menyediakan yang bagus-bagus gini. Sunrise datang tiap pagi, gratis, bisa dilihat dari mana-mana, dan selalu indah.

Foto diambil di sekitar hutan pinus Imogiri, Bantul. Kami mendapat spot yang bagus dan sepi. Ini berkat teman saya bocah petualang Rangga Ip. Bada subuh dia ke rumah lalu kami berdua bermotor ke tempat ini. Foto ini juga dia yang jepret, matur nuwun.

Hari belum terang dan kabut masih pekat ketika kami sampai disana. Foto-foto hanya sampingan, intinya kami hanya duduk di atas batu memandang ke hamparan bukit-bukit hijau berkabut.

Bagi kawan-kawan yang berwisata ke Jogja dan ingin ke tempat ini, ini location-nya :
Maps Hutan Pinus Asri
Tapi pintar-pintar cari spot yaa biar dapat scenery yang oke dan tenang. Boleh juga hubungi saya hehehe. Disana Anda juga bisa petik sendiri buah nanas langsung dari pohonnya.

.
.
.
.

"foto kono ndra, apik ketoke, ben ra penarasan"
"yoh, gentenan"
"oke"

jadilah foto ini :




I'm not addicted to drugs, cigar, or alcohol. But I think I'm addicted to social media.


Ada pemisah yang sangat tipis antara internet-active dan social media-addict. Tadi siang saya baca tulisan seorang teman, di sini , yang kemudian juga di-reblog di sini. Ada commentnya juga, silakan dibaca.

Tulisan itu mengkonfirmasi kegelisahan saya selama ini. Ternyata bukan cuma saya, gitu. Di era digital macam sekarang ini, akses terhadap internet adalah suatu kebutuhan. Terus terang saya senang terhubung dengan internet setiap saat. Walaupun jika tidak ada internet tidak sampai stres juga. Karena tidak ada masalah, saya nikmati saja 'kedekatan' dengan internet itu.

Internet diciptakan untuk kolaborasi. Setidaknya itu tujuan para penemu-penemu teknologi ini. Tapi selain internet, ada teknologi lain yang ikut tumbuh : perangkat lunak. Internet yang sekedar 'menghubungkan' bukan hal menarik untuk orang awam. Tapi perangkat lunak/aplikasi didesain sedemikian rupa untuk menghasilkan pengalaman menyenangkan bagi pengguna. Sesuatu yang menyenangkan biasanya memiliki efek samping, candu.

Pengembangan aplikasi didampingi oleh ilmu psikologi untuk mengetahui kebutuhan keinginan manusia. Manusia cenderung ingin berkumpul, dikenal, eksis, dan pamer. Saya pernah bicara di depan sekitar 150an orang bahwa aplikasi Path didesain untuk pamer. Akhirnya sampai saat ini saya tidak pakai lagi.

Hari ini saya uninstall lagi 2 apps : Instagram dan Ask.fm
Saya uninstall apps itu dari gadget, tetapi akun masih utuh.Alasannya akun itu masih saya perlukan karena memang ada juga manfaatnya. Tapi keberadaan apps itu di HP menjadikan saya kecanduan. Sedikit-sedikit buka HP, padahal belum tentu ada hal penting. Entah nanti bakal diinstall lagi atau tidak, lihat kondisi.

Sekarang, jika ingin membuka 2 akun itu, saya harus melalui browser. Ini tentu lebih repot. Semoga dengan ini saya bisa lepas dari kebiasaan yang membuang-buang waktu tersebut. Karena untuk menjadi baik caranya bukan hanya menambah kebaikan, tapi juga mengurangi keburukan, gitu katanya.

Mengapa 2 itu yang diuninstall ?
Karena 2 apps itu yang sekarang paling menguras me-time. Path sudah dihapus dari dulu. Snapchat tidak punya. Facebook dan twitter sudah nggak ada juga. Sekarang social media yang aktif hanya email (students.itb) dan gmail, wordpress, blogger, apps chatting (WA dan LINE).

Sekarang saya dalam masa percobaan, apakah langkah kecil ini bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik ? Karena kadang kita lupa ada perubahan kecil yang efeknya domino.Semoga ini bukan cuma omong kosong atau pencitraan.

Saya tulis ini setidaknya untuk mbat-mbatan sama diri sendiri kalau-kalau nanti muntir. Tapi syukur kalau ada yang mau coba uninstall juga :)



Btw tulisan ini saya buat di warnet 'kampung'. Sekedar ingin nostalgia ke jaman ketika era teknologi belum sampai ke "internet dalam genggaman". Bukan apa-apa, tapi saya merasa lucu ketemu lagi dengan bilik-bilik usang, keyboard yang ditempel-tempeli karena hurufnya sudah luntur, kursi plastik, dan mouse yang cursornya kadang gerak sendiri.

Salam,
Chandra





Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home