Uninstall your Instagram

I'm not addicted to drugs, cigar, or alcohol. But I think I'm addicted to social media.


Ada pemisah yang sangat tipis antara internet-active dan social media-addict. Tadi siang saya baca tulisan seorang teman, di sini , yang kemudian juga di-reblog di sini. Ada commentnya juga, silakan dibaca.

Tulisan itu mengkonfirmasi kegelisahan saya selama ini. Ternyata bukan cuma saya, gitu. Di era digital macam sekarang ini, akses terhadap internet adalah suatu kebutuhan. Terus terang saya senang terhubung dengan internet setiap saat. Walaupun jika tidak ada internet tidak sampai stres juga. Karena tidak ada masalah, saya nikmati saja 'kedekatan' dengan internet itu.

Internet diciptakan untuk kolaborasi. Setidaknya itu tujuan para penemu-penemu teknologi ini. Tapi selain internet, ada teknologi lain yang ikut tumbuh : perangkat lunak. Internet yang sekedar 'menghubungkan' bukan hal menarik untuk orang awam. Tapi perangkat lunak/aplikasi didesain sedemikian rupa untuk menghasilkan pengalaman menyenangkan bagi pengguna. Sesuatu yang menyenangkan biasanya memiliki efek samping, candu.

Pengembangan aplikasi didampingi oleh ilmu psikologi untuk mengetahui kebutuhan keinginan manusia. Manusia cenderung ingin berkumpul, dikenal, eksis, dan pamer. Saya pernah bicara di depan sekitar 150an orang bahwa aplikasi Path didesain untuk pamer. Akhirnya sampai saat ini saya tidak pakai lagi.

Hari ini saya uninstall lagi 2 apps : Instagram dan Ask.fm
Saya uninstall apps itu dari gadget, tetapi akun masih utuh.Alasannya akun itu masih saya perlukan karena memang ada juga manfaatnya. Tapi keberadaan apps itu di HP menjadikan saya kecanduan. Sedikit-sedikit buka HP, padahal belum tentu ada hal penting. Entah nanti bakal diinstall lagi atau tidak, lihat kondisi.

Sekarang, jika ingin membuka 2 akun itu, saya harus melalui browser. Ini tentu lebih repot. Semoga dengan ini saya bisa lepas dari kebiasaan yang membuang-buang waktu tersebut. Karena untuk menjadi baik caranya bukan hanya menambah kebaikan, tapi juga mengurangi keburukan, gitu katanya.

Mengapa 2 itu yang diuninstall ?
Karena 2 apps itu yang sekarang paling menguras me-time. Path sudah dihapus dari dulu. Snapchat tidak punya. Facebook dan twitter sudah nggak ada juga. Sekarang social media yang aktif hanya email (students.itb) dan gmail, wordpress, blogger, apps chatting (WA dan LINE).

Sekarang saya dalam masa percobaan, apakah langkah kecil ini bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik ? Karena kadang kita lupa ada perubahan kecil yang efeknya domino.Semoga ini bukan cuma omong kosong atau pencitraan.

Saya tulis ini setidaknya untuk mbat-mbatan sama diri sendiri kalau-kalau nanti muntir. Tapi syukur kalau ada yang mau coba uninstall juga :)



Btw tulisan ini saya buat di warnet 'kampung'. Sekedar ingin nostalgia ke jaman ketika era teknologi belum sampai ke "internet dalam genggaman". Bukan apa-apa, tapi saya merasa lucu ketemu lagi dengan bilik-bilik usang, keyboard yang ditempel-tempeli karena hurufnya sudah luntur, kursi plastik, dan mouse yang cursornya kadang gerak sendiri.

Salam,
Chandra





Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment