Polymath dan Lahirnya Sistem Sekolah


Leonardo Da Vinci, Al Biruni, Ibnu Sina, Galileo Galilei, dan tokoh yang saya tulis sebelumnya di laman facebook, Ibnu Firnas, adalah beberapa tokoh yang memiliki kelebihan dibanding rata-rata orang. Mereka biasa disebut polymath.

Polymath adalah sebutan untuk orang yang menguasai berbagai disiplin ilmu sekaligus. Polymath memiliki kepakaran yang mencakup berbagai bidang dan masing-masingnya cukup mendalam.

Fakta yang menarik adalah kaum polymath ini justru banyak yang berasal dari bangsa-bangsa muslim. Hal ini berhubungan dengan lahirnya masa keemasan/kejayaan Islam (Islamic Golden Age). Di sisi lain, bangsa barat sempat mengalami kemunduran.

Masa keemasan Islam melahirkan polymath-polymath mengagumkan. Sebut saja Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Al-Khwarizmi, Al-Hazen, Musa bersaudara (Sons of Moses), Al-Kindi, dan masih banyak lagi.


Sistem pendidikan 'asli' Islam

Sistem pendidikan klasikal seperti yang kita gunakan sekarang bukanlah warisan budaya Islam. Meski begitu di beberapa tempat masih ada sisa-sisa metode pendidikan Islam, walaupun kebanyakan bukan pendidikan formal.

Pada jaman kejayaan Islam, ilmu pengetahuan berkembang pesat dan banyak ahli di berbagai bidang. Metode pendidikan pada masa itu berbeda dengan yang kita lihat sekarang.

Para ahli ini tersebar di berbagai kota dan negara. Mereka menetap di tempatnya masing-masing. Orang-orang yang ingin berguru datang kepadanya untuk minta diajarkan suatu cabang ilmu. Mereka membuat kontrak mengenai apa yang ingin dipelajari, seberapa dalam, dan seberapa lama ingin belajar.

Si murid akan mengikuti pengajaran yang dilakukan oleh gurunya. Sampai suatu waktu ketika ilmunya sudah dikuasai dia akan pindah mencari guru yang lain. Begitu seterusnya hingga terjadi regenerasi ilmuwan.

Jadi pada jaman dulu guru menetap dan murid mendatangi untuk belajar. Sifatnya lebih privat.


Sistem pendidikan barat

Sistem pendidikan seperti di atas tidak bisa diterapkan di negara-negara barat. Pada masa kegelapan yang dialami bangsa-bangsa Eropa, jumlah orang yang bisa berperan sebagai guru sangat sedikit. Sistem di atas tidak efektif untuk kondisi tersebut.

Solusinya dibuatlah sistem kelas-kelas dan sekolah. Murid-murid dikumpulkan dan dipertemukan dengan guru. Satu guru dengan banyak murid. Semakin lama sistem ini makin canggih dan terorganisir.

Saat ini sistem pendidikan klasikal lebih umum digunakan dalam pendidikan formal. Standarisasi dan penyusunan kurikulum dibuat berdasarkan sistem pendidikan ini.



Tidak mudah untuk menyimpulkan mana sistem yang lebih baik. Namun tampaknya mulai muncul gagasan-gagasan yang menyebut sistem kelas ini sudah kuno. Ini isu yang debatable.

Faktanya, saat ini sudah sulit menemukan polymath. Kebanyakan ahli di era modern menekuni bidang yang sangat spesifik. Hal ini tidak menjadi masalah asalkan kolaborasi dapat dijalin tanpa memedulikan batasan negara, ras, dan agama.

Ini sedikit yang saya tahu soal pendidikan Islam dan barat. Saya terpikir tentang ini setelah ada teman bertanya tentang polymath. Analisis ini dari berbagai sumber dan masih sangat bisa didiskusikan yaa.

Sebuah video inspiratif oleh Prince Ea :




Salam,
Chandra


sumber gambar : http://socialinnovation.ca/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment