Tiga Pertanyaan Kontemplatif



Mendengar nasehat bahwa urusan dunia tidak bisa dipisahkan dari agama, yang terbayang di benak saya adalah gambar di atas. Dunia pada sumbu-x (horizontal) dan agama pada sumbu-y (vertikal). Bisa juga itu dianggap sebagai habluminallah dan habluminannas. Konvensinya, semakin ke atas dan semakin ke kanan semakin baik. Sebaliknya ke bawah dan ke kiri berarti nilainya lebih buruk. Ada 4 kuadran di sana. Kuadran 1 sampai 4 berurutan kanan atas-kiri atas-kiri bawah-kanan bawah, berputar melawan jarum jam.

Setiap orang mempunyai kedudukannya di titik tertentu. Susah diketahui memang, sebaik-baik penilai adalah Allah SWT. Tapi jelas bahwa sangat baik orang yang berada di pojok kanan atas dan alangkah malangnya orang yang berada di pojok kiri bawah. Kalau kata dr. Hasto dulu, salah satu contoh orang yang arif adalah Gus Dur, diibaratkan sebagai 'tidak perlu memancing ikan sudah datang sendiri'. Mungkin Gus Dur adalah salah satu contoh sosok pojok kanan atas. Orang-orang barat yang peradabannya maju dengan memisahkan agama dari dunia bisa dianggap ada di kuadran kanan bawah. Sisanya silakan dicari sendiri.

Pertanyaan pertama, dimana posisi kita ? Kuadran 1, 2, 3, atau 4 ? Silakan evaluasi diri masing-masing. Bisa dirasakan kok. Apakah hati lebih banyak damai atau lebih banyak grusa-grusu ? Apakah lebih sering bersyukur atau lebih sering iri ? Apakah lebih bisa menikmati konser musik atau ceramah agama ? Apakah lebih banyak kawan yang mengajak ke masjid atau lebih banyak ke cafe ?

(*)Dulu saya pikir everything is getting worse. Pergaulan bebas semakin membiasa. Aturan, norma, dan sopan santun makin tidak dihiraukan. Modernisasi gila-gilaan tanpa terbendung mengganggu keseimbangan hidup. Lunturnya budaya. Dan sebagai muslim, melihat agama semakin dianggap enteng. Bahkan sempat saya pikir ini udah nggak bisa diperbaiki, ada kekuatan besar yang sangat sulit dibendung sedang membentuk trend ini. Kalaupun jadi orang baik cuma bisa memengaruhi lingkungan sekitar doang, secara keseluruhan tetap memburuk. 

Tapi setelah saya sadari, bukan lingkungan yang salah arah, tapi saya yang salah menghadap. Nyambung ke pertanyaan kedua, kemana kita menghadap ? Mungkin waktu itu saya lebih fokus melihat ke kiri bawah. Melihat semua makin nggak beres. Akibatnya pesimisme menular dan membesar. 

Ketika kita bilang berhijrah sesungguhnya kita mengubah orientasi. Berubah dari yang tadinya menghadap kiri bawah menjadi menghadap kanan atas. Atau bahkan yang tadinya cuma ke kanan (dunia tok) menjadi lebih ke atas. Masalahnya butuh keikhlasan untuk mengubah orientasi ini. 
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Hukum fisika mengatakan bahwa dua benda tidak dapat menempati ruang yang sama pada waktu yang sama. Harus ada yang dikurangi jika ingin menambahkan sesuatu. Ada 2 cara untuk mendapatkan arah yang lebih benar. Menambah kebaikan dan mengurangi keburukan hingga persentase kebaikan dominan terhadap keburukan. However, tidak ada manusia yang sempurna. Dalam ekonomi dan politik ada istilah zero sum game, mirip-mirip lah.

Setelah arah, pertanyaan ketiga adalah seberapa cepat kita naik ? Ini bahkan bisa lebih penting daripada posisi kita sekarang.
"jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan Aku datang kepadanya dengan berlari kecil-kecil"
Allah saja sudah menjanjikan menolong hamba-Nya dalam hal perjalanan naik ini. Tinggal kitanya mau naik nggak ? Kecepatan naik setiap orang berbeda-beda, sangat bergantung pada seberapa mampu dia memanfaatkan waktu, memilih yang penting, dan mengambil keputusan. Further, task-task yang menjadikan kita bisa naik sebenarnya juga anugrah dari Allah. Jadi kadang kalau kita lagi semangat-semangatnya tapi seperti nothing to do yaa mungkin itu karena kita kurang dekat atau kurang serius. 

Ada orang yang bisa naik sedikit tiap bulan tapi ada yang express dalam hitungan hari saja bisa pindah sangat jauh, walaupun bisa juga turun jauh. Perubahan ini biasanya baru kelihatan setelah cukup lama. Tugas kita adalah memastikan waktu-waktu kita terpakai dengan baik. Harus sabar, tidak langsung terlihat hasilnya. Banyak cara untuk bercermin melihat sudah seberapa jauh kita bergerak.

Kembali ke paragraf (*). Saya dulu memang pernah salah gaul. Tapi alhamdulillah semakin kesini dan akhir-akhir ini dipertemukan dengan banyak orang-orang baik. Bukan hanya orang, bahkan 'sistem' yang mengejutkan bagi saya. Ketika banyak yang bergerak menuju kiri bawah, ternyata ada juga yang bergerak ke kanan atas -- yang selama ini luput dari perhatian saya. Mereka bukan hanya individu-individu yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai khalifah. Tapi mereka bergerak secara simultan, bersama-sama, terencana, dan anggun dalam kelompok-kelompok yang saling menguatkan. Optimisme naik lagi.
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhori & Muslim).
Berada di lingkungan baik tidak otomatis menjadikan kita baik. Butuh kerelaan untuk membuka diri dan hati agar ilmu-ilmu, kebijaksanaan, dan kebaikan bisa masuk. So, orang-orang di sekitar kita dihadirkan Allah untuk berbagai tujuan, salah satunya untuk belajar dan mengambil hikmah. 

Nobody is perfect. But the winner is the one who is always learning.

Akhirnya, rangkaian kejadian yang terjadi adalah jalan untuk bergerak, tinggal seberapa kita mampu mengambil pelajaran darinya. Orang yang beruntung adalah yang berpindah menuju titik yang lebih baik. Orang yang rugi adalah orang yang disitu-situ aja. Dan orang yang celaka adalah yang bergerak ke tempat yang lebih buruk.

Syukuri dan terima tempat kita sekarang, arahkan orientasi menuju hal yang baik, dan naiklah segera dan secepat mungkin. Ada waktu untuk setiap tempat. Evaluasi setiap langkah yang telah dilakukan. Galau itu wajar karena ada resistansi yang harus kita lawan untuk bisa bergerak naik. Sabarlah. Time heals almost everything.

Sebagai penutup, mohon maaf atas segala ketidakdewasaan saya, masih belajar namanya juga. Semoga kita selalu mendapat petunjuk dan task-task yang menjadikan kita lebih cepat naik dan lebih dekat pada kebaikan. Aamiin

Seribu sesal di depan mata
Seperti menjelma
Waktu aku tertawa
Kala memberimu dosa
-Iwan Fals-

Salam,
Chandra
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

2 comments:

  1. Well said chan. Bahasamu emang canggih banget gitu ya wkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih makasih..
      maap nih kalau lagi mau meluruskan pikiran jadi gini zah, spontan aja hehehe

      Delete