Tech Insight : Hyperloop


Akhir-akhir ini banyak artikel mengenai sebuah sarana transportasi revolusioner yang disebut Hyperloop. Hyperloop dikatakan bisa bergerak dengan kecepatan 1200 km/jam, ini hampir 2 kali lipat kecepatan pesawat terbang. Dengan kecepatan setinggi itu jarak Jakarta - Jogja dapat ditempuh hanya dalam 25 menit. 

Tapi apa sih Hyperloop itu ?

Orang pertama yang mencetuskan ide mengenai Hyperloop adalah Elon Musk. Ide ini disampaikan pertama kali pada bulan Juli 2012. Elon Musk memang dikenal dengan gagasan-gagasan ekstrem. Saat ini Musk tengah menjalankan proyek-proyek ambisius di perusahaannya, Tesla Motors dan SpaceX. 

Elon Musk    |     www.ted.com

Ide pembuatan Hyperloop adalah untuk menciptakan sarana transportasi darat yang super cepat dan efisien. Hyperloop menggabungkan konsep kerja kereta api dan pesawat terbang. Teknologi tingkat tinggi seperti magnet levitation dan aero-propulsion digunakan dalam operasinya.

Masalah dalam transportasi kecepatan tinggi saat ini adalah besarnya faktor gesekan (friction) dan gaya hambat udara (drag / resistance). Konsep hyperloop berusaha menghilangkan masalah ini sehingga diperoleh sarana transportasi yang cepat, efisien, dan silent. Untuk itulah digunakan teknologi magnet levitation dan airless tube.

Pods Hyperloop berupa kapsul yang meluncur pada kecepatan tinggi di tabung lintasan   |    www.interestingengineering.com

Magnetic levitation (maglev) adalah metode untuk memberikan gaya angkat pada suatu benda memanfaatkan medan magnet. Berkat maglev sebuah benda dapat ditahan pada posisinya tanpa ada sentuhan fisik, obyek seperti mengapung di udara. Hal ini tentu akan sangat mengurangi gaya gesekan.

Airless tube adalah tabung terisolasi yang udaranya dikurangi sehingga hampir vakum. Dengan tekanan dan densitas udara yang rendah maka gaya hambat udara dapat direduksi secara signifikan. Sebagai catatan, tabung tidak boleh 100% vakum karena untuk dapat bergerak Hyperloop perlu memindahkan momentum dan partikel udara.

Tabung-tabung yang akan menjadi jalur kapsul Hyperloop    |    www.hyperloop-one.com

Hyperloop bergerak dalam lintasan berbentuk tabung panjang berupa airless tube yang berfungsi seperti 'rel' pada kereta api. Penumpang berada di dalam kapsul yang biasa disebut 'pods'. Interaksi antara tabung dan pods menggunakan efek maglev. 

Pods yang berperan sebagai gerbong memiliki mesin baling-baling (fan) pada bagian depan. Udara yang ada di depan pods akan disedot. Sebagian udara akan disemburkan ke belakang untuk memberikan gaya dorong. Sebagian yang lain dikeluarkan melalui sisi-sisi pods untuk memberikan efek apung pada pods. Akibatnya pods terdorong ke depan dan berada di tengah tabung tanpa menyentuh dinding.

Sketsa awal oleh Elon Musk menunjukkan cara kerja Hyperloop    |     www.greenoptimistic.com

Pada operasinya akan ada stasiun-stasiun dimana Hyperloop menaikkan dan menurunkan penumpang. Lintasan Hyperloop ada yang berada di bawah tanah dan apa pula yang ditopang tiang-tiang di atas tanah. Sistem track-nya jalur ganda sehingga sebuah jalur dapat dilayani secara bolak-balik dalam waktu yang bersamaan.

Sejak ide ini dicetuskan hingga saat ini sudah ada 3 perusahaan yang mendanai proyek ini. Ketiga perusahaan itu adalah Hyperloop One, Hyperloop Transportation Technologies (HTT), dan Transpod. Di Amerika telah dibuat prototipe dan pengujian pods serta tube Hyperloop. Beberapa waktu yang lalu juga diadakan kompetisi prototipe Hyperloop untuk mahasiswa. Kontes ini dimenangkan oleh tim dari TU Delft, Belanda.

Hyperloop TU Delft    |     www.twitter.com

Wacana yang beredar di Indonesia, HTT akan membangun sistem transportasi ini antar wilayah di Indonesia. Namun hal ini masih dalam tataran wacana. Feasibility study baru akan dilaksanakan. Tentu ini akan menjadi investasi yang sangat strategis bila benar terlaksana.

Namun, kondisi saat ini Indonesia masih jauh dari siap untuk produk seperti ini. Beberapa waktu yang lalu muncul wacana mengenai kereta cepat Jakarta-Bandung. Kereta cepat yang dikatakan bisa menempuh jarak 150 km dalam 45 menit saja menghadirkan kontroversi besar. Apalagi sebuah peluru dengan kecepatan 1200 km/jam. 

Masalah klasik pembangunan infrastruktur di Indonesia seperti sulitnya pembebasan lahan, korupsi, dan mark up juga mengancam kelancaran proyek. Belum lagi kestabilan politik dan toleransi antar ras dan agama di Indonesia yang belum stabil tentu membuat investor berpikir seribu kali untuk menggelontorkan mega budget.

Di sisi lain, teknologi Hyperloop sendiri masih memerlukan banyak pengembangan dan validasi. Membawa penumpang dengan kecepatan setinggi itu pasti mensyaratkan reliability yang sangat tinggi. Alat transportasi semacam ini tidak boleh errorprone dalam operasinya. 

Mungkin ketika kita berbicara mengenai transportasi masa depan, Hyperloop adalah salah satu di antaranya. Hyperloop memang masih utopis untuk sekarang. Tak perlu mengharapkan ada kapsul-kapsul meluncur di kota kita dalam waktu dekat. But, still, ini adalah sesuatu yang patut ditunggu dan diupayakan. Ketika tiba saatnya nanti, Hyperloop akan menjadi engineering masterpiece yang luar biasa.



Salam,
Chandra
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment