Bagaimana Sebenarnya Kondisi Kedirgantaraan Indonesia Saat Ini ? (1)


Hari ini sampai 4 hari ke depan InsyaAllah saya akan memandu tamu dari VU Amsterdam dalam program Amsterdam Research Project (ARP). InsyaAllah saya akan menuliskan ceritanya nanti, sekalian kalau sudah komplit. 

Alhamdulillah hari pertama sudah selesai. Mereka berkunjung ke ITB hari ini. Saya bersama dua teman, Fazlur dan Ernest memandu mereka keliling kampus ITB Ganesha, tour lab penerbangan dan FTMD, lalu ditutup dengan makan bersama serta diskusi dengan dosen. Salah satu dosen senior yang ikut dalam diskusi itu, Mr. Hisar Pasaribu, menjelaskan banyak tentang dunia kedirgantaraan Indonesia. Saya jadi tertarik untuk nulis ini.

Bagaimana sih kondisi dunia kedirgantaraan Indonesia saat ini ? Sehat kah ? Lumpuh kah ? Growing kah ? Saya akan coba jelaskan, dari sudut pandang seorang mahasiswa tingkat akhir prodi Teknik Penerbangan. Kalau dijelaskan semua akan sangat panjang, mungkin membosankan, dan akan butuh waktu lama untuk menuliskannya. 

Saya akan mencoba menuliskan secara singkat. Itu pun masih dibagi menjadi 2 bagian. Bagian 1 ini akan membahas mengenai fakta tentang dunia penerbangan, industri pesawat terbang, dan lembaga riset. Pada bagian 2 akan dibahas mengenai institusi pendidikan, perusahaan swasta, bisnis transportasi udara.


Fakta
Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan pulau membentang dari Sabang sampai Merauke. Jika peta Indonesia di-copy lalu di-paste di atas peta Eropa, maka akan menutupi hampir seluruh wilayah Eropa (tidak termasuk Rusia, tentu saja). Bedanya, benua Eropa didominasi oleh daratan sedangkan Indonesia sebagian besarnya adalah perairan. 

Jarak 2000 km di Eropa bukanlah jarak yang terlampau jauh. Dengan majunya transportasi di sana (misal kereta) jarak tersebut bisa ditempuh dalam hitungan jam saja, dengan harga tiket yang tidak terlalu mahal. Bandingkan dengan perjalanan darat di Indonesia. Ambil contoh Jogja-Bengkulu (1300 km), waktu tempuhnya bisa 2 hari, apalagi bila peak season seperti mudik lebaran.

Rute Garuda Indonesia mencakup berbagai wilayah di Indonesia

Itulah mengapa pesawat terbang adalah moda transportasi yang sangat strategis di Indonesia. Jasa transportasi udara menghubungkan dua tempat berjauhan secara efisien. Kontribusi transportasi udara secara langsung terhadap perekonomian negara memang tidak terlalu signifikan. Tapi perannya sebagai penghubung memberikan support sangat besar bagi jalannya roda perekonomian nasional. 


Industri
Industri pesawat terbang nasional Indonesia digawangi oleh PT Dirgantara Indonesia atau PTDI. Perusahaan ini dulunya bernama IPTN. Tahun 1960an sampai 1980an sektor kedirgantaraan adalah sektor yang sangat didukung perkembangannya. Hasilnya, lahirlah produk pesawat penumpang seperti CN235 dan N250. 

PT Dirgantara Indonesia

Pesawat N250 adalah salah satu karya yang dibangga-banggakan karena merupakan hasil usaha para anak bangsa. Sayang terjadinya krisis moneter pada tahun 1997 memaksa program pengembangan pesawat ini dihentikan. Dalam dunia engineering, segala development harus dilakukan secara berkelanjutan. Keep working or you'll be left behind. Oleh karena itu, penghentian pendanaan terhadap industri penerbangan ini adalah sebuah setback.

'Saudara tua' N250, yaitu CN235 lebih beruntung karena pada saat krisis moneter pesawat ini sudah tersertifikasi sehingga bisa dijual. Sampai saat ini produksi pesawat ini terus berjalan. Namun, revenue yang didapat hanya cukup untuk membiayai produk ini tanpa bisa mendorong inovasi dan proses desain pesawat dengan level lebih tinggi.

Unit CN235 yang baru saja di-delivery ke Senegal

Seiring berjalannya waktu, PTDI mulai bangkit. Neraca keuangannya sudah 'hijau'. Saat ini PTDI memulai lagi dari bawah. Mereka memproduksi pesawat 19 penumpang yang sasarannya adalah wilayah Indonesia bagian timur. Pesawat ini bernama N219. Rencananya, jika program ini berhasil maka tahap selanjutnya adalah membuat pesawat yang lebih besar, N245 dan R80. Selain program pesawat terbang nasional. PTDI juga terus memproduksi pesawat C212, beberapa tipe helikopter, dan komponen pesawat terbang jumbo jet. 

20 tahun berlalu sejak 'insiden' 1997 menimpa IPTN. Saat ini PTDI sudah mulai bangkit. Memang masih jauh untuk mengejar raksasa industri pesawat terbang dunia yaitu Boeing dan Airbus. Namun, jika trend terus membaik dan proses development terus berjalan bukan tidak mungkin PTDI akan segera mengejar pemain lapis kedua macam ATR (Perancis), Embraer (Brazil), dan Bombardier (Kanada).


Lembaga Riset
Di Indonesia, lembaga riset yang menaungi bidang penerbangan adalah LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Dalam bahasa Inggris, LAPAN biasa disebut Indonesia Aerospace Agency. Berdasarkan namanya, ada 2 bidang besar yang ditangani oleh LAPAN yaitu (1)Aero : penerbangan / intra atmosfer dan (2)Space : operasi angkasa luar. Untuk mencakup 2 bidang tersebut LAPAN dibagi menjadi banyak divisi. Lengkapnya tentang LAPAN bisa dilihat di sini.

Pusat Produksi dan Pengujian Roket LAPAN di Pameungpeuk Garut, dekat pantai Santolo, pemandangannya bagus..

Ada yang menarik mengenai fungsi LAPAN. Skema pendanaan di Indonesia entah bagaimana sehingga industri seperti PTDI tidak bisa menerima dana dari pemerintah. Untuk menyiasatinya, dana pengembangan teknologi penerbangan diberikan melalui LAPAN walaupun yang sebenarnya 'membutuhkan' adalah PTDI. Dalam eksekusinya, PTDI bekerja sama dengan LAPAN.


Beberapa produk unggulan LAPAN antara lain satelit LAPAN Tubsat, satelit LAPAN A2, LAPAN Surveillance Aircraft (LSA), LAPAN Surveillance UAV (LSU), dan tentu pesawat N219 bersama PTDI. 


LAPAN berdiri tahun 1963. Namun sampai saat ini kegiatan litbang di sektor penerbangan belum cukup cepat. Masalah utamanya adalah kurangnya sumber daya yang dimiliki oleh LAPAN. Akibatnya beberapa tugas harus dilimpahkan kepada pihak lain. Anda ingin berkontribusi dalam dunia penerbangan ? LAPAN adalah salah satu jalannya.


Sekian dulu bagian 1. Kesimpulannya adalah bahwa transportasi udara adalah bidang yang sangat seksi dan strategis. Industri pesawat terbang (PTDI) dan lembaga riset (LAPAN) menunjukkan trend positif dari tahun ke tahun. Namun, masih banyak yang bisa dilakukan untuk menjadikan kita berlari lebih cepat.

"Tanpa inovasi dan produk baru, kita tidak mungkin bersaing" - Hisar M. Pasaribu

Nantikan bagian 2-nya yaa 


Salam,
Chandra

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment