Ini adalah Pak Sariban. Sosok nyentrik yang wara-wiri di jalanan Kota Bandung dengan sepeda uniknya. Alhamdulillah saya sempat bertemu beliau bulan lalu. Waktu itu saya bersama Bapak jalan-jalan pagi di daerah Lapangan Gasibu - Gedung Sate. Long weekend saat itu, Bapak Ibuk ke Bandung menengok anak-anaknya.

Diantara orang-orang yang lari pagi, main bola dan badminton, atau sekedar duduk-duduk di taman tampak sosok Pak Sariban yang memang mencolok. Beliau mengenakan baju warna kuning terang dan ditemani sepeda dengan dekorasinya. Saya coba ngobrol-ngobrol dengan beliau dan minta foto.

Pak Sariban berusia sekitar 75 tahun. Beliau berasal dari Majenang, Jawa Tengah dan sudah di Bandung sejak tahun 1983. Sejak pensiun dari pekerjaannya beliau menjadi aktivis kebersihan di Kota Bandung. Saat ini beliau tinggal di daerah Cikutra, tidak begitu jauh dari Gedung Sate. Di usia sepuhnya beliau masih sangat bugar. Mungkin karena aktifnya raga beliau dalam menjalani hari-hari, dan tentu hati yang bahagia. Beliau adalah pahlawan kebersihan Kota Bandung

Setiap hari Pak Sariban bersepeda mengelilingi jalanan Kota Bandung. Beliau punya jargon : Tahan! Tidak membuang sampah sembarangan. Jargon itu tertulis di papan yang beliau bawa di sepeda dan dikalungkan di lehernya. Beliau juga membawa sebuah megaphone yang dipakai untuk mengkampanyekan budaya buang sampah tertib. Ada juga alat-alat kebersihan macam sapu dan trash bag. Sepedanya juga dilengkapi setir custom, spion, dan bendera merah putih di bagian depan.

Namanya sudah banyak terpampang di media. Mulai dari media lokal, nasional, bahkan internasional. Beliau juga berkali-kali mendapat penghargaan dari pemerintah. Rasanya beliau sudah tidak asing lagi bagi warga Bandung. Orangnya sangat ramah, orang yang ingin minta foto dilayani, bahkan diajak ngobrol ngalor-ngidul.



Tapi ada yang menarik dari obrolan kami kemarin. Saya baca-baca di internet dan tidak banyak menemukan informasi ini dalam wawancara mereka. Yaitu tentang pertanyaan "Kenapa Bandung disebut Kota Kembang ?"

"Orang Bandung sendiri juga banyak yang nggak tahu itu mah", kata Pak Sariban.

Dulu saya pikir kata "Kembang" muncul karena Bandung berada di dataran tinggi, wilayahnya asri, banyak bunganya. Jadi saya kira dulu kembang di situ artinya bunga. Atau kalau bukan itu bayangan yang muncul adalah kembang identik dengan gadis-gadis Sunda yang katanya cantik-cantik, geulis.

Tapi Pak Sariban punya pendapat sendiri. Kata kembang di sini adalah padanan dari kata developing. Bandung adalah kota yang berkembang pesat sejak jaman Belanda. Julukan Bandung sebagai "developing city" sudah ada sejak jaman Belanda, tapi saya lupa apa istilahnya dulu. Lalu istilah itu diubah ke Bahasa Indonesia menjadi Bandung kota Kembang.

Memang Bandung adalah kota penting sejak jaman pendudukan Belanda dulu. Padahal, mengingat kondisi saat itu dimana kehidupan berpusat di laut kebanyakan kota besar adalah kota yang punya budaya air. Sebut saya Jakarta (Batavia), Semarang, Surabaya, Palembang, Makassar, Bali, Maluku, dll. Sedangkan Bandung ? nggak punya pantai, sungai kecil-kecil, danau juga hanya untuk wisata dan pembangkit skala kecil.

Beliau berpesan agar kita-kita yang masih muda terus mencintai dan memajukan Kota Bandung. Menjadikan Bandung semakin juara. Banyak yang bisa dilakukan dan dikontribusikan untuk kota ini.

Itulah sedikit cerita saya tentang pertemuan dengan Pak Sariban kala itu. Kalau kamu-kamu mau ketemu beliau, lebih gampang di akhir pekan. Beliau ada di sekitar CFD Dago, Lapangan Gasibu, dan Gedung Sate. Oh ya saya juga belum lama tahu, Gasibu itu singkatan dari Gabungan Sepakbola Indonesia Bandung Utara.

Tahan! Tidak buang sampah sembarangan...



Chandra

Liga-liga sepak bola di Eropa sudah berakhir. Ada tim yang keluar jadi juara, ada yang masuk zona Liga Champions, ada yang zona Liga Eropa, juga ada yang masuk zona kualifikasi liga Champions. Zona kualifikasi Liga Champions berada di bawah zona Liga Champions dan di atas Liga Eropa. Liverpool ada di posisi ini.

Ternyata sistem kualifikasi Liga Champions cukup rumit. Dari babak kualifikasi ini akan diambil 10 tim untuk bergabung dengan 22 tim yang sudah lolos langsung. Disini akan saya jelaskan tahap-tahap yang harus dilalui tim-tim di kualifikasi Liga Champions.

Kualifikasi Liga Champions dibagi menjadi beberapa fase. Pada prinsipnya, semakin rendah rating/coefficient sebuat tim dan liga domestiknya semakin banyak pertandingan yang harus dilalui.




First Qualifying Round

Babak ini melibatkan juara dari 10 liga dengan rangking terendah di Eropa (lihat tabel 1). Tim akan diundi pada 19 Juni untuk menentukan pasangan lawan. Akan ada 5 pertandingan dan pemenang dari pertandingan itu lolos ke fase kualifikasi berikutnya. Sistem pertandingannya adalah home-away. Leg 1 digelar pada 27-28 Juni dan leg 2 pada 4-5 Juli.

Tabel 1



Second Qualifying Round

Babak ini melibatkan 5 tim yang lolos dari First Qualifying Round dengan 29 tim lain dengan coefficient tim dan liga yang lebih tinggi (lihat tabel 2). Sehingga total kontestan adalah 34 tim dan akan terjadi 17 pertandingan home-away. Drawing (pengundian) dilakukan pada 19 Juni. Pertandingan leg 1 dan leg 2 masing-masing dilaksanakan pada 11-12 Juli dan 18-19 Juli.

Tabel 2 (bersambung) 

Tabel 2 (selesai)



Third Qualifying Round

Berbeda dengan babak sebelumnya. Tahap ini dibagi menjadi 2 kelompok, jalur Juara dan jalur Liga. Jalur juara diikuti pemenang tahap Second Qualifying Round (17 tim) ditambah 3 tim dari Yunani, Ceko, dan Romania (lihat Tabel 3). Total ada 20 tim yang terlibat dalam 10 pertandingan home-away. Akan ada 10 tim yang lolos melalui jalur ini.

Tabel 3
Jalur Liga diikuti oleh tim-tim dari 10 liga dengan level yang lebih tinggi lagi (lihat Tabel 4). Dari 10 tim ini akan dilakukan 5 pertandingan home-away dan diambil 5 pemenang untuk masuk ke babak selanjutnya.

Drawing akan dilaksanakan pada 14 Juli. Leg 1 dan 2 masing-masing dilaksanakan pada 25-26 Juli dan 1-2 Agustus. Dari babak ini akan diloloskan 10 tim dari jalur Juara dan 5 tim dari jalur Liga

Tabel 4



Play-Off Round

Play-off juga dibagi menjadi 2 jalur, jalur Juara dan jalur Liga. jalur Juara diikuti 10 tim yang lolos dari Jalur Juara babak sebelumnya dan tidak ada tambahan tim. Tim-tim itu bertemu dalam 5 pertandingan home-away dan menghasilkan 5 pemenang. Lima pemenang itu akan masuk ke Liga Champion.

Sementara itu jalur Liga diikuti oleh 5 tim yang lolos dari Jalur Liga babak sebelumnya. Selanjutnya ditambah dengan tim dari liga dengan coefficient lebih tinggi (lihat Tabel 5). Total ada 10 tim yang bertanding dan menghasilkan 5 pemenang.

Tabel 5

Secara total Play-off Round meloloskan 10 tim yang akan bergabung dengan 22 tim yang sudah lolos langsung. Liga Champion diikuti oleh 32 tim dan dimulai pada 12-13 September 2017.


Come on, Liverpool. You'll Never Walk Alone



Chandra



reference : tirto.id , goal.com

Tulisan ini saya dedikasikan untuk salah satu teman saya. Namanya Rangga, bocah yang tahu-tahu sudah sampai Karimunjawa, nggak ngomong-ngomong. Karimun sudah mainstream memang, tapi sepertinya ini spesial buat dia.

Berbekal beberapa potong baju, sleeping bag, dan sandal dia berangkat sendirian banget ke Karimun dengan spirit backpacker : keluar uang sesedikit mungkin. Modal nekat lah dia mah. Nggak ada yang namanya paket-paketan seperti banyak wisatawan. Dia urus sendiri semua sesuai seleranya.


Boarding on KRI Siginjai

Pergi sendiri naik bis ekonomi dari Jogja ke Semarang lalu lanjut tujuan Jepara. Katanya hari pertama dia hanya keluar 98 ribu untuk semuanya. Nginep di mesjid. Teman seperjalanan dia temukan di sana, sama-sama orang nekat. Walaupun akhirnya malah banyak bergaul sama bule.

Sobat bulenya



Biar dia cerita sendiri. Dia bilang mau nulis di blog yang baru dirintisnya. Cocok banget dia jadi travel and culinary blogger.

Tentang kenekatannya itu jadi satu cerita. Tapi ada cerita lagi di balik bahagianya dia dan kagumnya kami sebagai teman-temannya. Ini bukan sekedar liburan, tapi pembuktian. Pembuktian bahwa akhirnya di berhasil memijakkan kaki di Karimun.

Sebelumnya dia sudah 2 kali berniat ke sana. Sudah sampai Jepara tapi gagal nyebrang ke Karimun. Cerita perjalanan pertama saya kurang tahu. Tapi saya ikut dalam kegagalannya yang kedua. Waktu itu masalahnya adalah cuaca buruk dan salah lihat jadwal. Jadilah kami hanya sampai ke Pulau Panjang dan Pantai Bandengan, tidak sampai Karimun.

Penghargaan karena berhasil menunaikan misinya sampai di Karimun

Nama grup jadi begini

Karimun sudah jadi cita-citanya sejak dulu. Makanya dia dulu dibully gara-gara 2 kali gagal. Akhirnya dia bisa membuktikan keinginannya bukan wacana a.k.a hoax. Keren keren!

Jika ingin pergi jauh pergilah bersama-sama. Jika ingin pergi cepat pergilah sendirian

Salut lah sama Rangga. Daripada lama, langsung kepoin Instagramnya Rangga_IP



Chandra
Katanya mulai banyak iklan sirup adalah tanda sebentar lagi Ramadhan. Tapi Ramadhan bukan cuma itu. Lagu-lagu renungan dan religi ala Ebiet dan Bimbo naik lagi. Tayangan-tayangan khas sahur dan berbuka mengudara. Semoga lebih banyak yang bermutu daripada gimmick dan lelucon asal bunyi.

Alhamdulillahnya masjid jadi lebih rame dan meriah. Jalan-jalan rame penjaja makanan menjelang berbuka. Orang-orang bekerja lebih pendek dari biasanya. Tapi bisa jadi lebih produktif karena distraksi lebih sedikit, tidak ada makan siang, apalagi ngrokok. Atmosfernya dimana-mana jadi lebih riang.

Tapi ada kebiasaan yang berulang beberapa tahun ini semenjak lulus SMA dan merantau. Menjelang lebaran banyak ajakan buka bersama. Teman SD, SMP, SMA, dan circle-circle lain. Menjelang lebaran karena saat-saat itu lah teman-teman yang di luar kota pulang kampung. Menyenangkan sih, tapi kadang memakan 'jatah' ikut kajian menjelang buka puasa di mesjid..

Ada yang menarik yang saya perhatikan dari buber-buber yang sudah lewat. Yaitu soal gaya dan penampilan teman-teman pasca lulus SMA. Emang ya setelah lulus SMA dunia menjadi tampak jauh lebih luas, jauh. Banyak yang pindah ke luar kota berada di lingkungan baru, banyak aturan-aturan yang tidak lagi mengikat. pergaulan semakin luas dengan tipe-tipe orang yang berbeda, dll.

Saya memang suka memperhatikan orang dan menerka-nerka kenapa dia bersikap seperti itu hehe. Termasuk waktu ketemu teman-teman lama. Menjadi menarik karena dulu waktu masih sekolah hampir semuanya sama, seragam. Tapi setelah sekian lama berada di lingkungan yang berbeda gaya dan penampilan jadi beda. Semacam mimikri kali ya.

Kalau laki ada yang bergaya formal, menunjukkan sisi kedewasaannya. Ada yang swag, menunjukkan ke-gaul-annya. Ada yang menjadi lebih kalem, tampak cool tidak banyak omong. Yang mulai bisnis atau start up bicara soal proyek-proyek. Yang bekerja bicara soal kesibukannya. Yang masih kuliah bicara soal conference internasional. Kalau ada teman cewek di dekatnya memberat-beratkan suaranya. Hehehe nggak semua ding.

Kalau perempuan ada yang tampil dengan make up tebal dan pakaian 'masa kini', classy. Ada yang tampil kalem bersahaja dan keibuan. Ada yang cuek dengan penampilan, yang penting asik. Kalau apa yang mereka bicarakan, saya kurang tahu.

Tapi sah-sah aja kok yang namanya personal branding. Justru perlu dan baik. Ketika seseorang sudah menemukan style-nya maka sebagian masa pencarian dirinya sudah terlewati. Sudah lebih pantas disebut dewasa daripada ABG.

Jadi mau bergaya seperti apapun, asal masih dalam nilai dan norma, it's fine. Apalagi di masa-masa 'cari jodoh' seperti ini. Katanya orang cederung tertarik dengan yang setipe, sefrekuensi. Kenapa ?

Karena getaran dengan frekuensi yang sama akan mengalami interferensi. Semua benda, termasuk manusia. Frekuensi ini sudah ada sejak dulu. Tapi di usia dewasa muda ini amplitudonya sedang besar, sedang bergejolak. Makanya sensitif.
Amplitudo yang besar plus getaran yang sefrekuensi menghasilkan kekuatan yang dahsyat. Ini bener lho secara ilmiah, dan menurut saya berlaku juga untuk manusia. Hati-hati yaa.. 
Okay cukup bicara tentang itu.

Saya cukup yakin perubahan orang bukan cuma penampilannya saja. Tapi kedewasaan, kebijaksanaan, kematangan emosi, dll juga berkembang. Yang perlu dipastikan perubahan di luar dan dalam itu berjalan beriringan. Orang yang terlalu banyak pencitraan tanpa dasar sikap yang kuat akan mudah cemar namanya. Banyak public figure yang begini. Sebaliknya orang yang mendewasa tanpa berani tampil tidak akan dikenal orang.

Jangan saling judge sok-ini lah, sok-itu lah. Kita belum tentu lebih baik daripada orang yang kita nilai.

Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind.

Tugas kita adalah menjadi yang terbaik dari versi masing-masing, gaya masing-masing. Kita perlu tahu kapan saatnya menjadi berbeda dan kapan saatnya ngumumi. Kapan saatnya tampil dan kapan saatnya menarik diri. Kapan teguh menjadi diri sendiri dan kapan luwes adaptif berkompromi dengan sekitar.

Ada nasehat yang sama baiknya dengan "Jadilah dirimu", bahkan lebih lengkap. Yaitu "menyatulah dengan sekitarmu, tapi milikilah pijakan yang kuat". Dinamika yang ada sekarang mengharuskan kita untuk dapat beradaptasi.

Untuk belajar kita harus menceburkan diri. Kita tidak akan belajar banyak jika hanya memandang dari permukaan. Seperti beberapa waktu lalu, urusannya karena penasaran ya, saya dan beberapa teman mencoba masuk ke kawasan lokalisasi Sarkem di Jogja. Ngeri, nggak usah coba-coba saya bilang. Tapi hikmahnya untuk tahu sesuatu kita harus total. Kalau tidak kita hanya akan tahu dari "katanya-katanya". Ingatlah bahwa fotokopian kalau difotokopi lagi akan semakin bruwet.

Harus total, tapi milikilah batas yang jelas. Batas untuk membedakan apakah kita sedang belajar atau kita terjerumus. Kuatkanlah pijakanmu, kita tidak bisa menguatkan orang lain jika kita sendiri tidak kokoh.

Dan jangan lupa bahagia, bukber yok :)



Chandra


Ramadhan sebentar lagi, itu artinya lebaran juga sudah tidak lama lagi. Artinya akan segera datang masanya kumpul-kumpul keluarga besar, makan bersama, bermain bersama. Menyenangkan sekali.

Tapi belakangan ini kadang ada hal yang agak mengganggu. Bukan pertanyaan kapan nikah atau pacarnya mana, bukan itu. Tapi pertanyaan-pertanyaan tentang studi saya.

Alhamdulillah studi saya baik-baik saja, belum ada masalah berarti, InsyaAllah bisa selesai tepat waktu. Tapi bagaimana pun kuliah di sini menjadi perhatian dan topik pembicaraan. Beberapa kesempatan silaturahmi ke tempat saudara selalu ada percakapan yang kurang lebih begini :

Q : Sudah selesai kuliahnya ?
A : InsyaAllah tahun ini Pakde/Budhe/Om/Tante/Mbah, mohon doanya
Q : Aamiin, yaa gek ndang lulus, jadi penerusnya Pak Habibie
A : Aamiin :)

You see ? Those expectation, almost everytime.

Alhamdulillah, itu saya anggap sebagai doa. Siapa yang tidak mau berkontribusi besar untuk bangsa dan negara. Saya juga tidak mau menyalahkan beliau-beliau karena wajar jika berbicara Teknik Penerbangan maka role model yang ada adalah B.J. Habibie. Memberikan sumbangsih besar dalam dunia penerbangan nasional hingga menjadi Presiden RI.

Beban ? Agak, tapi tidak parah-parah amat. Kalau orang-orang menganggap saya mampu, kenapa saya tidak percaya pada diri sendiri. Masih ada waktu juga untuk saya terus memperbaiki diri hingga bisa sampai pada level itu. Lagipula, harapan yang membuat kita hidup :)

Tapi yang membuat saya kadang risau adalah bahwa beliau-beliau berekspektasi saya melalui jalan yang dilalui Pak Habibie. Memang tidak sampai berharap saya menjadi presiden. Tapi setidaknya "membangun kembali industri penerbangan nasional".

Tapi melihat kondisi terkini, saya realistis. Memang butuh waktu dan usaha besar untuk membangunkan kembali industri ini di Indonesia. Dan kalau boleh jujur, itu menjadikan bidang itu tidak begitu menarik di mata saya.

Saya jadi mikir, apakah beliau-beliau akan kecewa ya seandainya saya memilih jalan kontribusi yang lain ? Karena di sisi lain saya malah tertarik dengan bidang otomotif misalnya, pengen jadi engineer di F1. Saya pernah membuat video visualisasi mimpi (di sini) yang kurang lebih menggambarkan plot yang saya inginkan. Walaupun itu pasti akan berubah dengan berjalannya waktu seiring munculnya insight-insight baru yang saya temui.

Bagaimana dengan orang tua ? Nah ini justru menarik, bapak ibuk tidak pernah menunjukkan ekspektasi-ekspektasi seperti itu. Beliau-beliau mendukung bahwa saya ingin kuliah lagi untuk meningkatkan keahlian. Tapi mau jadi engineer di F1 atau manapun, oke. Mau tinggal di Singapura, oke. Mau berkarier di bidang yang tidak berhubungan dengan kuliah, oke. Sepertinya karena dekat, bapak ibuk jadi tahu sudut pandang saya. Alhamdulillah.

Barang bawaan yang ringan bisa jadi berat kalau salah membawanya, begitu pula sebaliknya. Jadi mungkin kawna-kawan kalau ada yang merasakan hal yang sama ayok jadikan ekspektasi itu sebagai motivasi. Ada (bahkan banyak) hal-hal yang kita harus berani mengatakan dengan tegas "this is me!".

Tapi bagaimana pun orang-orang yang lebih sepuh pasti punya lebih banyak pengalaman. Jadi tetap dengarkan nasehat-nasehat beliau. Cernalah setiap nasehat dengan bijaksana, masukkan dalam kerangka berpikir dan sudut pandangmu, lalu ambil keputusanmu.

Anggap saja itu semua adalah doa untuk menghadapi dunia yang sebenarnya :)



Chandra
Semoga kita berkesempatan berjumpa dengan Ramadhan ini dan yang seterusnya ya, aamiin


sumber gambar : www.midcitiesworship.org





Bukan cinta
Tapi TA
Tugas Akhir

Dulu waktu ibu masih ngajar, sering saya membukakan pintu rumah waktu ada mahasiswa yang datang mau bimbingan. Padahal rumah kami jauh lho dari kampus mereka. Pakai motor mungkin sekitar 45 menit, kalau bolak balik sekitar 1.5 jam berarti. Dan mereka datang ke rumah, cuma 10 atau 15 menit di rumah, plus skripsinya dicoret-coret. Kasihan :)

Dulu di rumah ada lemari yang khusus untuk menyimpan skripsi mahasiswa-mahasiswanya ibu. Sayang lemarinya sudah hancur waktu gempa Jogja 2006, isinya juga. Rumah simbah, tempat menyimpan lemari itu, roboh waktu gempa.

Waktu itu saya hobi menggambar. Di rumah ada papan tulis dan kapur, kadang saya menggambar pakai itu. Tapi lain waktu ingin pakai kertas juga. Daripada minta dan membuang-buang kertas baru, saya pakai saja dokumen-dokumen skripsi itu. Skripsi ditulis 1 muka, tidak bolak-balik, jadilah bagian yang kosong itu saya coret-coret. Banyak banget.

Lain waktu kalau libur saya diajak ke kampus, pernah ikut nonton sidang sarjana. Waktu itu masih awal-awal SD saya sudah merasakan atmosfer sidang sarjana, atau seminar ya, not sure. Yaa walaupun saya nggak paham isinya, tidak peduli juga karena lebih sibuk dengan diri sendiri, nggak boleh mengganggu. Tapi tahu lah kira-kira perasaan mahasiswa yang di sidang.

Pernah juga diajak mengunjungi mahasiswa KKN di daerah Imogiri, Dlingo, dan sekitarnya. Walaupun akhirnya saya tidak mengalami yang namanya KKN.

***

Itu kejadian beberapa tahun yang lalu. Sekarang 2017 saya berada di posisi mahasiswa-mahasiswa itu. Mengerjakan tugas akhir sebagai syarat lulus sarjana. Jadi tahu apa yang dulu mereka rasakan hehe

Ternyata tugas akhir beda sekali dengan kuliah-kuliah reguler. Di kuliah, sudah jelas apa yang harus dilakukan. Kita hanya harus melakukan itu as good as possible. Sedangkan dalam petualangan tugas akhir, kita lah yang menentukan langkah apa yang akan dilakukan. Itu juga harus dikerjakan sebaik-baiknya, dan sesuai dengan track yang diinginkan dosen.

Ibaratnya, sebelum-sebelumnya kita diberi palu, lalu ditunjukkan mana paku yang harus dipukul. All we have to do adalah memukul paku itu dengan benar. Kalau tugas akhir, kita diberi tahu bahwa ada palu, cangkul, gergaji, pisau, linggis, cat, dan lem. Kita harus menentukan mana yang bisa dipakai. Lalu masih harus mencari benda itu di gudang. Next menentukan paku mana yang harus dipukul. Dan mengerjakan sebaik-baiknya, dan secepat-cepatnya.

Tugas akhir sangat efektif menguji self-control. Pengerjaannya lebih bebas daripada tugas kuliah biasa. Tapi kebebasan sering menjadikan kita terlena. Kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh, luar biasa baik pengaruhnya. Tapi kalau terlena, yaa lulusnya lama, itupun kalau akhirnya mau mulai mengerjakan.

Tugas akhir adalah kawah candradimuka

Tapi lebih baik kita fokus ke yang enak-enaknya, jangan yang susah-susahnya. Saya pribadi malah seneng dengan sistem tugas akhir (setidaknya sistem TA kami). Saya tipe orang yang "biar kuselesaikan dengan caraku, lihat saja hasilnya nanti, InsyaAllah memuaskan". Beri tahu saja output yang diinginkan, kukerjakan semaksimal mungkin :)

Di tempat kami tugas akhir macam-macam dari yang sederhana sampai yang rumit. Punya saya gimana ? Lebih dekat ke rumit daripada sederhana hehe. Adanya kemitraan dengan perusahaan sebagai pihak ketiga juga gampang-gampang susah. Itu mendekatkan saya ke dunia kerja dan memudahkan dalam urusan "work experience". Tapi saya juga harus beradaptasi dengan budaya kerja yang sebenarnya dan belajar bekerja secara profesional.

Tapi lepas dari itu semua, tugas akhir atau skripsi atau apapun istilahnya, dibawa happy aja lah. Progres, progres, progres, lama-lama juga kelar. Dalam perjalanannya pasti banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil. Kalau ada masalah atau hambatan yaa itu bagian dari dialektika hidup mahasiswa tingkat akhir lah, wajar. Masak mau sama dengan mahasiswa baru yang masih bisa bermanja-manja.

Semangat yaaa, keep smile, jangan lupa bahagia :)

"Susah kan ? Yaa namanya juga tugas akhir. Hehehe"
"Halah ngapain buru-buru, udah ada yang nunggu po, Oktober aja ben tuwuk"
 Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain - Q.S. Al-Insyirah : 7

Chandra


sumber gambar : viracanya.wordpress.com




Dini hari tadi Juventus menang 2-1 atas AS Monaco dalam Leg 2 Semifinal Champions League 2017. Hasil ini meloloskan Juve ke babak final setelah pada Leg 1 mereka menang 2-0. Pada babak final Juve akan bertemu pemenang antara Real Madrid vs Atletico Madrid. Kita lihat nanti malam.

Ini perjalanan Juventus dari babak penyisihan sampai final Champions League 2017 :

Juventus - Sevilla                 [0 - 0]
Juventus - Dinamo Zagreb   [4 - 0]
Juventus - Lyon                    [1 - 0]
Juventus - Lyon                    [1 - 1]
Juventus - Sevilla                 [3 - 1]
Juventus - Dinamo Zagreb   [2 - 0]

Juventus - Porto                    [2 - 0]
Juventus - Porto                    [1 - 0]

Juventus - Barcelona            [3 - 0]
Juventus - Barcelona            [0 - 0]

Juventus - AS Monaco         [2 - 0]
Juventus - AS Monaco         [2 - 1]

*pertandingan Liga Champion sistemnya home-away, jadi main 2 kali, kecuali final.

Lalu ini adalah statistik Juventus yang saya ambil dari website resmi UEFA :

Statistik Juventus sampai babak semifinal Leg 2
Ada yang menarik ? Ya, Juventus baru kemasukan 3 gol sepanjang turnamen! Data UEFA menunjukkan rata-rata mereka mencetak 1.8 gol/pertandingan dan hanya kebobolan 0.2 gol/pertandingan. Luar biasa

Tidak bisa dipungkiri, salah satu aktor utama kesuksesan ini adalah sang kapten sekaligus kiper Gianluigi Buffon. Buffon sudah berusia lebih dari 39 tahun saat ini. Usia dimana kebanyakan altet sepak bola sudah menurun kemampuannya dan memilih pensiun. Tapi tidak dengan Buffon, tua-tua keladi, makin tua makin jadi.

Kiper seangkatannya, Iker Casillas kariernya sudah menurun sejak pergi dari Madrid dan bermain bersama FC Porto. Manuel Neuer (Bayern Munich) dan Jan Oblak (Atl. Madrid) tidak bagus-bagus amat tahun ini. David De Gea (Manchester United) dan Thibaut Courtois (Chelsea) di Inggris juga belum sampai pada level Buffon. Tim-tim seperti Barcelona, Real Madrid, dan Dortmund tidak menggantungkan diri pada sisi penjaga gawang. Sementara itu, rising star Italia, yang pernah saya tulis juga, Gianluigi Donnarumma juga masih perlu belajar banyak untuk menyamai Buffon.

Jadi, bagi saya, Buffon is the best goalkeeper in the world of football right now.

Buffon nyaris tidak punya haters. Mungkin hampir semua fans netral akan mendukung Juventus dan Buffon untuk memenangkan Liga Champions musim ini. Liga Champions adalah satu-satunya gelar besar yang belum dimenangkan Buffon. Even Piala Dunia sudah pernah didapatkan.


Let's see in Final in Cardiff!


Chandra





Tadi malam saya makan nasi goreng di daerah Imogiri. Seperti biasa, kopdar bersama teman-teman Jogja. Di samping tempat duduk kami ada beberapa pemuda yang diskusi serius menjurus kasar. Entah, sepertinya mempermasalahkan suatu acara atau apalah itu.

Pulang dari sana, sekitar jam 10 malam kami tidak lewat jalan utama. Kami lewat jalan-jalan kampung. Sepanjang perjalanan pulang banyak saya lihat sekumpulan pemuda thethek (nongkrong) di pinggir jalan, pos-pos ronda, dan warung-warung.

Saya jadi teringat penggambaran suasana dalam novel seri Gajah Mada. Mungkin itu sebabnya saya suka novel sejarah. Ada kandungan budaya yang kental di dalamnya yang tanpa sadar membuat saya nyaman.  Bukan primordial, tapi mungkin karena besar di lingkungan ini jadi ya seneng dengan budaya Jawa yang terkenal hangat, rukun, sopan, damai, dan woles.

Mungkin banyak generasi milenial 'alergi' dengan budaya. Saya pikir sebabnya karena ketika disebut budaya yang terbersit di pikiran adalah tarian tradisional, pakaian adat, dan gamelan mendayu-dayu. Saya juga baru sadar bahwa saya termasuk yang begitu. Baru sadar dalam kesempatan pulang kali ini.

Merasa gitu ? hehe, sama.

Saya jadi bersyukur dibesarkan di lingkungan ini. Yaa walaupun jauh dari kehidupan kota, akses terbatas, dll. Tapi ketika sudah merantau, pulang menjadi sesuatu yang sangat-sangat refreshing. Kalau kata KLA Project

Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat - KLA Project (Yogyakarta)

Dulu salah satu tekad saya ketika kuliah di Bandung adalah membawa ilmu dan cara berorganisasi di sana untuk diterapkan di organisasi-organisasi (terutama kepemudaan) di sekitar rumah. Tapi setelah saya pikir-pikir ternyata itu tidak perlu. Semua punya caranya masing-masing. Waah, jadi makin percaya bahwa karya bisa datang dari mana saja.

Desa mawa cara, negara mawa tata - Peribahasa Jawa

Kemajuan di desa-desa didorong oleh forum-forum luwes yang bisa saja terjadi di jalanan, poskamling, atau sambil ngopi santai di angkringan malam-malam. Sekarang berubah pandangan saya tentang anak-anak nongkrong itu. Budaya woles itu efeknya kemana-mana.

Walaupun tidak semua tongkrongan begitu. Forum nongkrong itu ada juga yang tidak produktif. Anak-anak yang hanya duduk-duduk di pinggir jalan, memelototi handphone masing-masing, sambil merokok, tidak bisa dikategorikan nongkrong yang produktif. Mereka banyak yang hanya gaya-gayaan.

Walaupun badan kepanasan tiap pulang kampung, tapi hati dan pikiran sejuk. Semodern-modernnya Jogja, sepertinya nuansa itu masih ada :)



Chandra

sumber : http://anakmbolang.blogspot.co.id/


Saya menggunakan iPad 3 sejak tahun lalu. Saya beli bekas dari salah satu teman. Nah, masalahnya adalah baru saja saya di luar kehujanan. Saya tidak begitu masalah karena ada jas hujan, tapi di tas ada buku dan gadget, dan tas tanpa coat. Alhamdulillah HP dan headset aman, tapi iPad ternyata basah pada bagian bawahnya (ada lubang charger dan speaker). Ketika saya coba, ternyata mati total! Panik lah.

Saya tidak tahu, apakah ada fail-safe system di iPad sehingga kalau kena air langsung mati untuk menghindari short circuit (konslet) ?

Saya coba tekan tombol Home tidak ada respon, begitu juga tombol power. Saya sempat berpikir memasukkannya ke dalam beras dulu. Tapi saya rasa kurang efektif jika cairan ada di dalam, bongkarnya susah.

Saya browsing dan salah satunya nemu ini. Solusi pertama dengan beras saya skip. Saya coba solusi kedua, menahan tombol home dan power/sleep bersamaan selama 10 detik. Ini langkah hard reset pada produk macam ini. Baru ingat dulu pernah satu kali melakukan hal yang sama.

Setelah menekan sekitar 10 detik alhamdulillah muncul logo Apple. Mulai lega.



Setelah itu masuk ke lock screen tanpa ada masalah. Karena ada password, saya masukkan password untuk masuk ke homescreen. So far so good.



Masalah kedua, saya baru sadar bahwa speaker juga kena air. Saya coba setel musik, player (in this case : Spotify) berjalan tapi suara tidak keluar. Astaghfirullah. Saya coba switch ringer-silent-ringer-silent tak ada perubahan. Saya coba naik turunkan volume ternyata tidak bisa.

Selanjutnya saya coba matikan lagi iPad, lalu nyalakan lagi. Masuk ke lock screen dan home screen. Saya coba lagi masuk ke Spotify dan putar musik. Alhamdulillah sudah bisa.




Kesimpulan :
Salah satu solusi yang bisa dicoba ketika iPad (mungkin juga iPhone, belum pernah pakai) error adalah melakukan hard reset dengan menekan home button dan power/sleep button bersamaan selama kurang lebih 10 detik. Namun jika masalah diduga karena basah dan kemungkinan sampai ke bagian dalam bisa dicoba dulu untuk merendamnya di dalam beras.

Jika iPad sudah bisa menyala tapi masih ada bug, coba matikan dan nyalakan lagi. Cek fungsi-fungsi dasar seperti speaker, kamera, wifi module, tombol-tombol, dll. Yang lebih penting tetap hati-hati, lindungi gadget jika kehujanan. 


Semoga bermanfaat :)

Salam,
Chandra - sudah nyiapkan draft tulisan "Tentang cinTA", tapi hari ini yang ini dulu lah.

"Lah Chan, ikut lomba begituan ?"

"Tumben Chan, biasanya kegiatanmu yang menguras otak terus"

"Bisa futsal lu ? Hahahaha"

Yaa memang saya juga nggak menyangka bakal berada di tempat ini. Berjalan memasuki lapangan futsal Football Plus tepat di belakang kapten tim. Memakai jersey hitam bertulisan AEROSPACE dan berlogo KMPN. Bukan dalam kegiatan fun futsal atau sekedar latihan, tapi dalam pertandingan final Kampoeng Bola 2017 melawan HMT (Tambang).

Saya sebenarnya tidak sengaja masuk tim futsal KMPN. Panjang lah ceritanya, nggak worth it kalau dituliskan disini hehe. Telat juga saya masuknya, teman-teman yang lain ikut sejak tingkat 2, saya mulai tingkat 3. Pengalaman pertama saya ikut tim futsal adalah Kampoeng Bola 2016. Tapi saat itu di pertandingan pertama lawan Kimia langsung kalah 1-0 dan langsung tersingkir. Menyedihkan sekali.

Turnamen kedua adalah Olimpiade KM ITB 2016. Olimpiade KM ITB adalah event yang mempertandingkan berbagai macam cabang olahraga antar himpunan mahasiswa jurusan. Pertandingan pertama berhasil menang lewat adu penalti. Tapi pertandingan kedua kalah juga. Akhirnya kami tidak membawa pulang apa-apa.

Lalu yang ini, Kampoeng Bola 2017. Kami memulainya dengan mentality yang biasa-biasa saja. Harapannya hanya agar tidak gugur di fase grup atau tahap-tahap awal. Kami latihan seminggu setidaknya 2 kali. Setiap latihan sekitar 2 jam. Tapi karena tempat latihan yang agak jauh dan kebiasaan menunda, sering banyak yang telat datang.


Titik Balik

Ada hikmah di balik setiap kejadian dan ada pelajaran yang selalu bisa diambil. Kombinasi budaya malas-malasan latihan dan hasil jelek ketika latih tanding akhirnya membuat kami berang. Kami di sini adalah pemain angkatan 2013. Kenapa kami marah ? Karena ini mungkin turnamen terakhir kami di ITB. Kami bosan kalah. Selalu dalam turnamen-turnamen sebelumnya hanya daftar - kalah - evaluasi - bilang mau berubah - daftar lagi - kalah lagi - evaluasi lagi..

Dari sini sedikit demi sedikit kondisi berubah. Kami memulai latihan lebih tepat waktu. Walaupun tempat latihan jauh, tapi karena sudah akrab dengan pengelola lapangan kami bisa mendapat bonus waktu. Kami latihan hingga 3 - 4 jam, beberapa kali sampai lewat tengah malam. Metode latihan disesuaikan dengan kebutuhan. Latihan semakin serius mendekati waktu lomba. Semua berjalan semakin baik. Optimisme mulai muncul, optimis sekedar untuk tidak langsung kalah.

Pertandingan pertama kami melawan HMIF (Informatika). Mungkin karena masih pertandingan pertama kami masih grogi dan tidak bermain cukup baik. Pertandingan berakhir 1-1, tapi kami merasa kalah. Evaluasi lagi. Tapi kali ini bukan evaluasi omong kosong.

Pertandingan kedua di grup kami melawan KMSR (Seni Rupa) dan harus menang. Kami berkomitmen untuk lebih fight dan tentu tidak lupa doa. Alhamdulillah kami menang 2-0 di pertandingan ini dan menjadi juara grup. Misi tidak langsung gugur terpenuhi. Saya bermain full di pertandingan ini karena kiper satu lagi sedang kurang sehat, biasanya kami bagi-bagi.

Lolos sebagai juara grup mempertemukan kami dengan HMTM (Perminyakan) di perdelapanfinal. Seperti tim-tim dari FTTM lainnya, mereka badannya gede-gede dan main agak keras. Tapi kata salah satu teman, Arif :
Siapapun lawannya, mereka kecil, kita juga kecil, yang Besar cuma Yang Di Atas, jadi ayo ketuk pintu langit
Alhamdulillah kami menang lagi 2-1. Optimisme makin tinggi. Pertandingan berikutnya kami melawan HMM 1 (Mesin) di perempatfinal, derby FTMD, panass. Jeda seminggu dari pertandingan lawan HMTM kami manfaatkan untuk latihan. Tidak main-main persiapan kami karena HMM 1 adalah favorit juara. Latihan dan taktik diatur lebih serius.

Melawan mereka yang cenderung lebih muda kami sengaja agak keras dan full pressure. Kami unggul 1-0 di awal pertandingan dengan gol yang agak beruntung dan berhasil mempertahankan skor sampai match selesai. Kami menang, masuk semifinal. Agak lega salah satu rintangan terlewati.

Ternyata kami ketemu HMM 2 di semifinal. Karena mahasiswanya banyak HMM memang mengirimkan 2 tim. Semifinal dilakukan di hari yang sama dengan perempatfinal, jadi harus memanange tenaga baik-baik. Kami agak sedikit rileks karena tim HMM 1 yang kami temui di semifinal sebenarnya lebih kuat. Kami makin percaya diri. Melawan HMM 2 kami menang 3-1. Alhamdulillaaah, FINAL.

Sementara itu, di semifinal yang lain, HMT (Tambang) berhasil menang melawan HMIF (Fisika Teknik) dengan skor 2-0. Jadilah kami ketemu HMT di final. Lagi-lagi tim keras.

Kami tahu HMT tim yang sangat baik dalam attacking. Kami dikenal sebagai tim yang solid dalam bertahan. Sayangnya kami belum berlatih untuk mengatasi model serangan HMT yang selalu lewat pinggir lapangan. Saya sebagai kiper pun belum terbiasa karena tidak ada tim yang bermain seperti itu. Parahnya, tidak ada waktu latihan karena hanya berselang 1 hari dengan semifinal.

Lawan HMT di final

Kami mencoba optimis, kami bisa cetak gol lebih dulu, 1-0. Tapi memang kami tidak siap, akhirnya bobol juga gawang kami setelah beberapa serangan. Ganti-ganti strategi dan pemain tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Endingnya kami kalah 1-3. Juara 2.

Final berlangsung 2 x 20 menit waktu bersih, berjalan total hampir 1 jam, pertandingan sebelumnya 2 x 15 menit kotor

Ada yang menangis, tapi kami berusaha tetap tegak. Kami menerima piala Juara 2. Ini adalah malam yang mengharukan. Jarang-jarang mahasiswa cowok nangis. Tapi itu benar-benar terjadi. Optimisme yang tadinya hanya agar tidak langsung kalah disusul sikap disiplin, berani bertarung, mandi keringat, dan keseleo mengantarkan kami sampai ke final. Hanya saja kami belum diijinkan menjadi juara 1.

Alay ? Agak, tapi biar kukasih tahu. Ikatan kami sangat kuat. Tim futsal di bawah bendera kampus atau sekolah dihakekatkan untuk ada. Mahasiswa atau pelajar disaring untuk masuk tim ini. Tak peduli ada orang atau tidak, nama tim itu akan tetap ada. Berbeda dengan tim di himpunan mahasiswa seperti kami. Mahasiswa lah yang membangun tim ini. Tidak ada mahasiswa yang mau membangun, tidak akan ada tim ini. Tidak ada manajemen, tidak ada pelatih tetap, jersey ganti-ganti, bayar lapangan sendiri kalau latihan, kalau menang penghargaan 'hanya' dari sesama teman.
Aku optimis menang, pengen ngasih kenang-kenangan buat angkatan 2013 yang udah mau pergi, Mas - salah satu pemain, angkatan 2015
Di akhir pertandingan kami berkumpul dengan suporter. Kami, pemain, mengucapkan terima kasih atas kesediaan teman-teman yang mau jauh-jauh datang ke Lembang malam-malam mendukung kami. Sekaligus angkatan 2013 'pamitan'. Semakin banyak yang menangis.

Terima kasih atas dukungannya teman-teman

Forum ditutup dengan nyanyian Mars KMPN. Rasanya ini pertama kalinya sejak pelantikan ospek jurusan (osjur) dimana saya merinding menyanyikan lagu ini. Lega rasanya, semua bisa menegakkan kepala lagi dan mulai tersenyum. Kami bersalaman dengan tim lawan, sang juara.

Mungkin tulisan ini tidak terlalu bermanfaat bagi Anda yang membaca. Mungkin satu-satunya moral value yang bisa diambil hanya man jadda wa jadaa. Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan yang diusahakan.

Alhamdulillah :)

Tapi ini adalah curahan hari saya. Saya tidak menangis malam itu, saya ikut menenangkan teman-teman yang sempat sangat terpukul. Tapi saya butuh pelampiasan juga. Tidak dipungkiri bahwa saya sedih, bukan karena kalah di final, tapi karena sudah memutuskan untuk pensiun dari tim futsal.
Percaya, suatu saat kalian akan sedih niggalin tim ini - Pelatih

Angkatan 2013, kami berusaha mewariskan budaya juara

Our team


Salam,
Chandra









Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home