Budaya Thethek Produktif


Tadi malam saya makan nasi goreng di daerah Imogiri. Seperti biasa, kopdar bersama teman-teman Jogja. Di samping tempat duduk kami ada beberapa pemuda yang diskusi serius menjurus kasar. Entah, sepertinya mempermasalahkan suatu acara atau apalah itu.

Pulang dari sana, sekitar jam 10 malam kami tidak lewat jalan utama. Kami lewat jalan-jalan kampung. Sepanjang perjalanan pulang banyak saya lihat sekumpulan pemuda thethek (nongkrong) di pinggir jalan, pos-pos ronda, dan warung-warung.

Saya jadi teringat penggambaran suasana dalam novel seri Gajah Mada. Mungkin itu sebabnya saya suka novel sejarah. Ada kandungan budaya yang kental di dalamnya yang tanpa sadar membuat saya nyaman.  Bukan primordial, tapi mungkin karena besar di lingkungan ini jadi ya seneng dengan budaya Jawa yang terkenal hangat, rukun, sopan, damai, dan woles.

Mungkin banyak generasi milenial 'alergi' dengan budaya. Saya pikir sebabnya karena ketika disebut budaya yang terbersit di pikiran adalah tarian tradisional, pakaian adat, dan gamelan mendayu-dayu. Saya juga baru sadar bahwa saya termasuk yang begitu. Baru sadar dalam kesempatan pulang kali ini.

Merasa gitu ? hehe, sama.

Saya jadi bersyukur dibesarkan di lingkungan ini. Yaa walaupun jauh dari kehidupan kota, akses terbatas, dll. Tapi ketika sudah merantau, pulang menjadi sesuatu yang sangat-sangat refreshing. Kalau kata KLA Project

Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat - KLA Project (Yogyakarta)

Dulu salah satu tekad saya ketika kuliah di Bandung adalah membawa ilmu dan cara berorganisasi di sana untuk diterapkan di organisasi-organisasi (terutama kepemudaan) di sekitar rumah. Tapi setelah saya pikir-pikir ternyata itu tidak perlu. Semua punya caranya masing-masing. Waah, jadi makin percaya bahwa karya bisa datang dari mana saja.

Desa mawa cara, negara mawa tata - Peribahasa Jawa

Kemajuan di desa-desa didorong oleh forum-forum luwes yang bisa saja terjadi di jalanan, poskamling, atau sambil ngopi santai di angkringan malam-malam. Sekarang berubah pandangan saya tentang anak-anak nongkrong itu. Budaya woles itu efeknya kemana-mana.

Walaupun tidak semua tongkrongan begitu. Forum nongkrong itu ada juga yang tidak produktif. Anak-anak yang hanya duduk-duduk di pinggir jalan, memelototi handphone masing-masing, sambil merokok, tidak bisa dikategorikan nongkrong yang produktif. Mereka banyak yang hanya gaya-gayaan.

Walaupun badan kepanasan tiap pulang kampung, tapi hati dan pikiran sejuk. Semodern-modernnya Jogja, sepertinya nuansa itu masih ada :)



Chandra

sumber : http://anakmbolang.blogspot.co.id/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

2 comments: