Ekspektasi


Ramadhan sebentar lagi, itu artinya lebaran juga sudah tidak lama lagi. Artinya akan segera datang masanya kumpul-kumpul keluarga besar, makan bersama, bermain bersama. Menyenangkan sekali.

Tapi belakangan ini kadang ada hal yang agak mengganggu. Bukan pertanyaan kapan nikah atau pacarnya mana, bukan itu. Tapi pertanyaan-pertanyaan tentang studi saya.

Alhamdulillah studi saya baik-baik saja, belum ada masalah berarti, InsyaAllah bisa selesai tepat waktu. Tapi bagaimana pun kuliah di sini menjadi perhatian dan topik pembicaraan. Beberapa kesempatan silaturahmi ke tempat saudara selalu ada percakapan yang kurang lebih begini :

Q : Sudah selesai kuliahnya ?
A : InsyaAllah tahun ini Pakde/Budhe/Om/Tante/Mbah, mohon doanya
Q : Aamiin, yaa gek ndang lulus, jadi penerusnya Pak Habibie
A : Aamiin :)

You see ? Those expectation, almost everytime.

Alhamdulillah, itu saya anggap sebagai doa. Siapa yang tidak mau berkontribusi besar untuk bangsa dan negara. Saya juga tidak mau menyalahkan beliau-beliau karena wajar jika berbicara Teknik Penerbangan maka role model yang ada adalah B.J. Habibie. Memberikan sumbangsih besar dalam dunia penerbangan nasional hingga menjadi Presiden RI.

Beban ? Agak, tapi tidak parah-parah amat. Kalau orang-orang menganggap saya mampu, kenapa saya tidak percaya pada diri sendiri. Masih ada waktu juga untuk saya terus memperbaiki diri hingga bisa sampai pada level itu. Lagipula, harapan yang membuat kita hidup :)

Tapi yang membuat saya kadang risau adalah bahwa beliau-beliau berekspektasi saya melalui jalan yang dilalui Pak Habibie. Memang tidak sampai berharap saya menjadi presiden. Tapi setidaknya "membangun kembali industri penerbangan nasional".

Tapi melihat kondisi terkini, saya realistis. Memang butuh waktu dan usaha besar untuk membangunkan kembali industri ini di Indonesia. Dan kalau boleh jujur, itu menjadikan bidang itu tidak begitu menarik di mata saya.

Saya jadi mikir, apakah beliau-beliau akan kecewa ya seandainya saya memilih jalan kontribusi yang lain ? Karena di sisi lain saya malah tertarik dengan bidang otomotif misalnya, pengen jadi engineer di F1. Saya pernah membuat video visualisasi mimpi (di sini) yang kurang lebih menggambarkan plot yang saya inginkan. Walaupun itu pasti akan berubah dengan berjalannya waktu seiring munculnya insight-insight baru yang saya temui.

Bagaimana dengan orang tua ? Nah ini justru menarik, bapak ibuk tidak pernah menunjukkan ekspektasi-ekspektasi seperti itu. Beliau-beliau mendukung bahwa saya ingin kuliah lagi untuk meningkatkan keahlian. Tapi mau jadi engineer di F1 atau manapun, oke. Mau tinggal di Singapura, oke. Mau berkarier di bidang yang tidak berhubungan dengan kuliah, oke. Sepertinya karena dekat, bapak ibuk jadi tahu sudut pandang saya. Alhamdulillah.

Barang bawaan yang ringan bisa jadi berat kalau salah membawanya, begitu pula sebaliknya. Jadi mungkin kawna-kawan kalau ada yang merasakan hal yang sama ayok jadikan ekspektasi itu sebagai motivasi. Ada (bahkan banyak) hal-hal yang kita harus berani mengatakan dengan tegas "this is me!".

Tapi bagaimana pun orang-orang yang lebih sepuh pasti punya lebih banyak pengalaman. Jadi tetap dengarkan nasehat-nasehat beliau. Cernalah setiap nasehat dengan bijaksana, masukkan dalam kerangka berpikir dan sudut pandangmu, lalu ambil keputusanmu.

Anggap saja itu semua adalah doa untuk menghadapi dunia yang sebenarnya :)



Chandra
Semoga kita berkesempatan berjumpa dengan Ramadhan ini dan yang seterusnya ya, aamiin


sumber gambar : www.midcitiesworship.org




Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment