Futsal KMPN : Dari yang Bukan Siapa Siapa


"Lah Chan, ikut lomba begituan ?"

"Tumben Chan, biasanya kegiatanmu yang menguras otak terus"

"Bisa futsal lu ? Hahahaha"

Yaa memang saya juga nggak menyangka bakal berada di tempat ini. Berjalan memasuki lapangan futsal Football Plus tepat di belakang kapten tim. Memakai jersey hitam bertulisan AEROSPACE dan berlogo KMPN. Bukan dalam kegiatan fun futsal atau sekedar latihan, tapi dalam pertandingan final Kampoeng Bola 2017 melawan HMT (Tambang).

Saya sebenarnya tidak sengaja masuk tim futsal KMPN. Panjang lah ceritanya, nggak worth it kalau dituliskan disini hehe. Telat juga saya masuknya, teman-teman yang lain ikut sejak tingkat 2, saya mulai tingkat 3. Pengalaman pertama saya ikut tim futsal adalah Kampoeng Bola 2016. Tapi saat itu di pertandingan pertama lawan Kimia langsung kalah 1-0 dan langsung tersingkir. Menyedihkan sekali.

Turnamen kedua adalah Olimpiade KM ITB 2016. Olimpiade KM ITB adalah event yang mempertandingkan berbagai macam cabang olahraga antar himpunan mahasiswa jurusan. Pertandingan pertama berhasil menang lewat adu penalti. Tapi pertandingan kedua kalah juga. Akhirnya kami tidak membawa pulang apa-apa.

Lalu yang ini, Kampoeng Bola 2017. Kami memulainya dengan mentality yang biasa-biasa saja. Harapannya hanya agar tidak gugur di fase grup atau tahap-tahap awal. Kami latihan seminggu setidaknya 2 kali. Setiap latihan sekitar 2 jam. Tapi karena tempat latihan yang agak jauh dan kebiasaan menunda, sering banyak yang telat datang.


Titik Balik

Ada hikmah di balik setiap kejadian dan ada pelajaran yang selalu bisa diambil. Kombinasi budaya malas-malasan latihan dan hasil jelek ketika latih tanding akhirnya membuat kami berang. Kami di sini adalah pemain angkatan 2013. Kenapa kami marah ? Karena ini mungkin turnamen terakhir kami di ITB. Kami bosan kalah. Selalu dalam turnamen-turnamen sebelumnya hanya daftar - kalah - evaluasi - bilang mau berubah - daftar lagi - kalah lagi - evaluasi lagi..

Dari sini sedikit demi sedikit kondisi berubah. Kami memulai latihan lebih tepat waktu. Walaupun tempat latihan jauh, tapi karena sudah akrab dengan pengelola lapangan kami bisa mendapat bonus waktu. Kami latihan hingga 3 - 4 jam, beberapa kali sampai lewat tengah malam. Metode latihan disesuaikan dengan kebutuhan. Latihan semakin serius mendekati waktu lomba. Semua berjalan semakin baik. Optimisme mulai muncul, optimis sekedar untuk tidak langsung kalah.

Pertandingan pertama kami melawan HMIF (Informatika). Mungkin karena masih pertandingan pertama kami masih grogi dan tidak bermain cukup baik. Pertandingan berakhir 1-1, tapi kami merasa kalah. Evaluasi lagi. Tapi kali ini bukan evaluasi omong kosong.

Pertandingan kedua di grup kami melawan KMSR (Seni Rupa) dan harus menang. Kami berkomitmen untuk lebih fight dan tentu tidak lupa doa. Alhamdulillah kami menang 2-0 di pertandingan ini dan menjadi juara grup. Misi tidak langsung gugur terpenuhi. Saya bermain full di pertandingan ini karena kiper satu lagi sedang kurang sehat, biasanya kami bagi-bagi.

Lolos sebagai juara grup mempertemukan kami dengan HMTM (Perminyakan) di perdelapanfinal. Seperti tim-tim dari FTTM lainnya, mereka badannya gede-gede dan main agak keras. Tapi kata salah satu teman, Arif :
Siapapun lawannya, mereka kecil, kita juga kecil, yang Besar cuma Yang Di Atas, jadi ayo ketuk pintu langit
Alhamdulillah kami menang lagi 2-1. Optimisme makin tinggi. Pertandingan berikutnya kami melawan HMM 1 (Mesin) di perempatfinal, derby FTMD, panass. Jeda seminggu dari pertandingan lawan HMTM kami manfaatkan untuk latihan. Tidak main-main persiapan kami karena HMM 1 adalah favorit juara. Latihan dan taktik diatur lebih serius.

Melawan mereka yang cenderung lebih muda kami sengaja agak keras dan full pressure. Kami unggul 1-0 di awal pertandingan dengan gol yang agak beruntung dan berhasil mempertahankan skor sampai match selesai. Kami menang, masuk semifinal. Agak lega salah satu rintangan terlewati.

Ternyata kami ketemu HMM 2 di semifinal. Karena mahasiswanya banyak HMM memang mengirimkan 2 tim. Semifinal dilakukan di hari yang sama dengan perempatfinal, jadi harus memanange tenaga baik-baik. Kami agak sedikit rileks karena tim HMM 1 yang kami temui di semifinal sebenarnya lebih kuat. Kami makin percaya diri. Melawan HMM 2 kami menang 3-1. Alhamdulillaaah, FINAL.

Sementara itu, di semifinal yang lain, HMT (Tambang) berhasil menang melawan HMIF (Fisika Teknik) dengan skor 2-0. Jadilah kami ketemu HMT di final. Lagi-lagi tim keras.

Kami tahu HMT tim yang sangat baik dalam attacking. Kami dikenal sebagai tim yang solid dalam bertahan. Sayangnya kami belum berlatih untuk mengatasi model serangan HMT yang selalu lewat pinggir lapangan. Saya sebagai kiper pun belum terbiasa karena tidak ada tim yang bermain seperti itu. Parahnya, tidak ada waktu latihan karena hanya berselang 1 hari dengan semifinal.

Lawan HMT di final

Kami mencoba optimis, kami bisa cetak gol lebih dulu, 1-0. Tapi memang kami tidak siap, akhirnya bobol juga gawang kami setelah beberapa serangan. Ganti-ganti strategi dan pemain tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Endingnya kami kalah 1-3. Juara 2.

Final berlangsung 2 x 20 menit waktu bersih, berjalan total hampir 1 jam, pertandingan sebelumnya 2 x 15 menit kotor

Ada yang menangis, tapi kami berusaha tetap tegak. Kami menerima piala Juara 2. Ini adalah malam yang mengharukan. Jarang-jarang mahasiswa cowok nangis. Tapi itu benar-benar terjadi. Optimisme yang tadinya hanya agar tidak langsung kalah disusul sikap disiplin, berani bertarung, mandi keringat, dan keseleo mengantarkan kami sampai ke final. Hanya saja kami belum diijinkan menjadi juara 1.

Alay ? Agak, tapi biar kukasih tahu. Ikatan kami sangat kuat. Tim futsal di bawah bendera kampus atau sekolah dihakekatkan untuk ada. Mahasiswa atau pelajar disaring untuk masuk tim ini. Tak peduli ada orang atau tidak, nama tim itu akan tetap ada. Berbeda dengan tim di himpunan mahasiswa seperti kami. Mahasiswa lah yang membangun tim ini. Tidak ada mahasiswa yang mau membangun, tidak akan ada tim ini. Tidak ada manajemen, tidak ada pelatih tetap, jersey ganti-ganti, bayar lapangan sendiri kalau latihan, kalau menang penghargaan 'hanya' dari sesama teman.
Aku optimis menang, pengen ngasih kenang-kenangan buat angkatan 2013 yang udah mau pergi, Mas - salah satu pemain, angkatan 2015
Di akhir pertandingan kami berkumpul dengan suporter. Kami, pemain, mengucapkan terima kasih atas kesediaan teman-teman yang mau jauh-jauh datang ke Lembang malam-malam mendukung kami. Sekaligus angkatan 2013 'pamitan'. Semakin banyak yang menangis.

Terima kasih atas dukungannya teman-teman

Forum ditutup dengan nyanyian Mars KMPN. Rasanya ini pertama kalinya sejak pelantikan ospek jurusan (osjur) dimana saya merinding menyanyikan lagu ini. Lega rasanya, semua bisa menegakkan kepala lagi dan mulai tersenyum. Kami bersalaman dengan tim lawan, sang juara.

Mungkin tulisan ini tidak terlalu bermanfaat bagi Anda yang membaca. Mungkin satu-satunya moral value yang bisa diambil hanya man jadda wa jadaa. Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan yang diusahakan.

Alhamdulillah :)

Tapi ini adalah curahan hari saya. Saya tidak menangis malam itu, saya ikut menenangkan teman-teman yang sempat sangat terpukul. Tapi saya butuh pelampiasan juga. Tidak dipungkiri bahwa saya sedih, bukan karena kalah di final, tapi karena sudah memutuskan untuk pensiun dari tim futsal.
Percaya, suatu saat kalian akan sedih niggalin tim ini - Pelatih

Angkatan 2013, kami berusaha mewariskan budaya juara

Our team


Salam,
Chandra









Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment