Idealis - Realistis


Baru kemarin ngeluh di instagram soal kehabisan ide. Memang gitu keadaannya, entah kenapa agak suntuk, merasa kurang bersemangat dan terinspirasi akhir-akhir ini. <-- dari kalimat ini pun nampak to..

Hari ini saya sudah kembali ke Bandung pasca libur Ramadhan-Lebaran 1438 H. Beda dengan di rumah yang, sayangnya, jaringan internet belum bagus, di kosan begitu masuk pintu depan semua device langsung terhubung wifi. Setelah beres-beres kamar setelah ditinggal 3 minggu lalu salat dan lain sebagainya, saya blogwalking. Entah kenapa sedang agak eneg dengan buku.

Banyak yang dibuka, tapi yang dibaca bener ada 4. Dan saya menemukan terminologi yang menarik. Kurang lebih begini

Umur 20an awal adalah masa transisi idealis - realistis
Itu dari blog salah satu senior saya yang sekarang tinggal di US. Salah satu sosok inspiratif yang pernah saya temui. Saya jadi mbatin "ternyata orang seperti dia juga pernah mengalami kegalauan yang sama ya". Mengingat (saya menganggap) dia sebagai orang yang lebih dewasa, lebih senior, berpengalaman, dan mungkin lebih tough, saya jadi mafhum dan lebih ikhlas menjalani masa transisi ini - yang saya juga tidak tahu masih lama atau tidak.

Tapi tak apa, akhirnya saya memiliki yurisprodensi untuk lebih menerima. Karena penerimaan itu penting. Penerimaan atas sesuatu yang 'tampak' buruk mungkin tidak akan menghilangkan sesuatunya itu, tapi efek yang ditinggalkannya bisa dikurangi. Kemarin H+3 lebaran saya ada acara Futsyawalan 1438H : reuni dan silaturahmi teman-teman SMA (terutama laki-laki) sambil main futsal, ini agenda tahunan. Mungkin rejekinya ya, pulang-pulang selain dapat keringat juga dapat 3 luka di dengkul kanan dan kiri. Kebiasaan glosotan terbawa tanpa sadar kalau tidak pakai pelindung seperti biasanya.

Awalnya terasa menyiksa karena lokasinya di lutut jadi untuk gerak agak sakit apalagi kalau kena celana. Saya jadi malas gerak dan lebih banyak diam atau tidur di rumah, tidak produktif, padahal ada deadline tugas tanggal 2 Juli kemarin. Tapi setelah berpikir untuk menerima bahwa luka begini apalagi di lutut akan susah sembuhnya urusan jadi lebih baik.

Kalau sama-sama lama sembuhnya, mending dipakai ngapa-ngapain daripada cuma di rumah. Apalagi kesempatan libur lebaran di rumah terbatas.
Alhasil semua terasa normal kembali. Nggarap tugas lagi, mudik ke Klaten, naik motor ngebut lagi. Alhamdulillah.

Balik ke idealis - realistis. Saya pernah menulis tentang Ekspektasi. Isinya kurang lebih curhatan bagaimana kadang-kadang ekspektasi sebagian orang tidak sama dengan apa yang sebenarnya kita inginkan atau rencanakan. But still, don't try to please everyone.

Semakin kesini bertemu dengan lebih banyak orang dan mengamati sepak terjangnya terus memberikan insight-insight baru, very rapidly. Pemahaman tentang keadaan yang meningkat juga menjadikan pikiran semakin realistis. Realistis bukan berarti melemah. Ini juga soal penerimaan. Kita harus menerima misalnya bahwa kita tidak bisa berada di dua tempat secara bersamaan, menerima bahwa tanggung jawab sosial semakin besar, menerima bahwa ada banyak hal berada di luar kendali kita.

Ini seperti anak SD yang ditanya cita-cita dan menjawab ingin jadi pilot. Mungkin 5 tahun barikutnya dia muntir karena baru sadar kalau dia takut ketinggian. Atau tidak mau jadi dokter karena tidak nyaman melihat darah, seperti saya hehehe.

Menerima bahwa perubahan idealis-realistis itu normal menjadikan kita lebih ikhlas melihat yang lain-lain di depan dengan optimis. Instead of mengkhawatirkannya. Untuk saya pribadi, setelah membaca dan merenungkan itu jadi lebih jelas bagi saya apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Jadi nampak jalan naik yang tercepat. Jadi tahu detail-detail mana yang perlu diseriusi dan mana yang boleh/harus diabaikan. Mengingat posisi saya yang baru saja balik ke Bandung, ini sangat mempercepat saya untuk kembali ke pace kerja yang optimum.

Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Tapi kalau rencana-rencaca itu kita buat dengan niat untuk berkontribusi bagi sesama, InsyaAllah kita tidak akan merugikan atau mengecewakan orang lain. Rencana-rencana boleh berubah, tapi garis besarnya perlu dipertahankan. Dan alhamdulillah setujunya orang tua dengan garis itu berarti untuk saya.

Mari menyiapkan segala sesuatunya :)
 
Salam,
Chandra


gambar : Sunrise di Dlingo, Bantul. Maaf tak ada hubungannya dengan teks hehe
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment