Film Review : Nothing is Unbeatable, Never Lose Faith


Judul Film : Facing the Giants
Produser : Stephen Kendrick, Alex Kendrick, David Nixon
Sutradara : Alex Kendrick
Cast : Alex Kendrick, Shannen Fields, Tracy Goode, James Blackwell, Bailey Cave, Jim McBride
Tanggal rilis : 29 September 2006
Durasi : 111 menit
Bahasa : English


Shiloh Christian Academy. Bukan tanpa alasan sepertinya nama itu dipilih sebagai latar utama film ini. Lepas seperempat awal film, nilai-nilai dan nuansa Kristen sangat kental terasa. Dimulai dari amarah Grant Taylor yang mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya yang dia rasa tidak kunjung membaik padahal dia selalu berdoa. Kekalahan tim football asuhannya, terancam dipecat dari kursi kepelatihan, mobil ngadat, perabotan rumah rusak, hingga vonis mandul bertubi-tubi memukul Grant. Grant memutuskan untuk menjadikan Tuhan sebagai pelariannya, sejak itu film ini sarat dengan nasehat religius. Intinya, film ini menekankan untuk selalu "mencari berkah".

Saya sengaja tulis ini di awal karena barangkali akan ada yang sensitif dengan ini. Tapi ingat bahwa premis utama film ini, yaitu "facing the giants" adalah nilai hidup yang universal. Jangan lupakan bahwa Al-Quran juga mengisahkan David (Nabi Daud a.s.) vs Goliath (Jalut).

Kalau di dunia sepakbola ada istilah "A player can be greater than his country", misalnya ketika kemarin Leo Messi 'sendirian' membawa Argentina lolos ke Piala Dunia 2018 Rusia, dalam film ini berlaku "A scene can be greater that the entire film". Sejak peluncurannya tahun 2006, film ini termasuk jarang diputar di layar kaca Indonesia sehingga mungkin tidak semua orang tahu. Tapi saya yakin hampir semua dari Anda tahu scene ini :

Facing the Giants - Death Crawl scene

Saya bukan reviewer film, juga tidak paham bagaimana mekanisme cerita film dibuat, urusan teknis macam lighting, editing, dll juga awam. Simpelnya, saya tidak bisa menilai baik-buruknya sebuah film dari sisi-sisi itu layaknya kritikus film profesional. Saya hanya berbagi cerita tentang film yang 'bergizi' dari sudut pandang saya. Menonton film ini, somehow saya mendapatkan impresi "oh, ini bagus dibagikan ke teman-teman".

Impresi terbesar yang saya dapatkan dari film ini tentu unsur motivasinya. Scene di atas adalah salah satu yang paling impactful. Tidak heran kalau potongan film itu diputar dimana-mana  sebagai video motivasi. Adegan ini di-cut sepanjang sekitar 4 menit dan menjadi video yang sangat viral.

Sejujurnya jalan cerita film ini sangat biasa, endingnya pun sudah bisa ditebak. Memang ada beberapa tikungan, namun karena penonton sudah tahu bahwa "yang baik pasti menang" maka eskalasinya tidak terlalu terasa.

Nilai plus dari film ini justru dialog-dialog dan drama antar tokohnya yang sengaja diselipi nasehat dan motivasi. Efek negatifnya memang jadi kurang natural, something like "lebay ah, di dunia nyata nggak mungkin sebijak itu". Tapi di sisi lain itu menjadikan film ini sangat kaya dengan nilai moral.

Orang cenderung menerima nasehat jika dia merasa frame-nya sesuai dengan mereka. Maksudnya, sebagus apapun moral value-nya akan sulit diterima orang dewasa jika film itu melulu soal anak-anak. Begitu pula sebaliknya, anak-anak belum mengerti permasalahan orang dewasa sehingga tidak bisa memahami nasehat-nasehatnya. People only hear what they want to hear.

Tapi tidak dengan Facing the Giants, film ini menghadirkan dua sisi perjuangan sekaligus. Yang pertama adalah anak-anak tim football Shiloh Eagles yang mengajarkan bahwa butuh pengorbanan besar untuk mencapai kemenangan. Serta yang kedua Grant Taylor itu sendiri yang masalahnya sudah saya tuliskan di atas. Oleh karenanya, saya pikir siapapun yang menonton film ini akan tergetar hatinya.

Meskipun sudah berumur 11 tahun, film ini masih relevan hingga sekarang, bahkan mungkin sampai nanti-nanti. Ini karena filosofi yang terkandung di film ini akan berlaku sampai kapanpun, yaitu : Grit.
Grit dapat diartikan sebagai passion and perseverance for long term goals, atau kegairahan dan keuletan serta ketangguhan untuk mewujudkan cita-cita jangka panjang - Prof. Ichsan Setya Putra (dalam Catatan Ikut Ultra Marathon #1)
Sedikit di luar film, tapi masih berhubungan dengan olahraga. Jadi weekend kemarin, sebagai ajang fundraising, alumni FTMD bersama BNI mengadakan BNI-ITB Ultra Marathon 170k. Peserta berlari 170 kilometer melalui rute Jakarta - Bogor - Puncak - Cianjur - Cipatat - Padalarang - finish di kampus ITB Bandung. Kalau kuat jarak 170 km boleh ditempuh sendirian. Tapi kalau tidak, boleh dalam tim beranggotakan maksimal 17 orang (atau 16?). Tim Dosen FTMD mengirimkan 16 dosen untuk mengikuti ini, salah satunya adalah Prof. Ichsan. Satu orang peserta menempuh jarak 10 km. Perlu diingat bahwa perjalanan Jakarta-Bandung elevasinya naik jadi track cenderung menanjak dan karena sistemnya seperti marathon maka ada peserta yang berlari tengah malam, ini jadi tantangan tersendiri. Tapi beliau-beliau finish dengan sempurna.

Pagi ini Prof. Ichsan mengirim tulisan beliau "Catatan Ikut Ultra Marathon part #1, #2, dan #3". Terima kasih atas inspirasinya, Pak.

Never Give Up, Never Back Down, Never Lose Faith - Facing the Giants


Chandra

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment