Keburukan yang (Harus) Terjadi


Saya termasuk orang yang setuju bahwa terkadang kita perlu merelakan terjadinya mudarat kecil untuk mencegah mudarat yang lebih besar.

Suatu ketika kita berada dalam sebuah perjalanan darat dari Jogja menuju Jakarta yang memakan waktu semalam suntuk. Kita berangkat dari Jogja bermobil, berangkat ba'da Ashar karena besok ada meeting di Jakarta jam 8 pagi. Di sisi lain kita tidak bisa berangkat lebih awal karena beberapa anggota rombongan baru ready sore hari itu. Di tengah perjalanan muncul masalah bahwa di mobil itu hanya ada 1 orang yang capable untuk nyetir mobil. Satu jam sebelum masuk Bandung dia tampak sangat lelah karena memang sejak hari sebelumnya sudah banyak acara. Rombongan itu dirundung dilema. Mereka galau antara meneruskan perjalanan dengan sopir mengantuk atau memberikan kesempatan beristirahat dulu dengan resiko akan telat sampai di Jakarta dan merugikan rekanan yang akan ditemui.

Dalam hal seperti ini, tampaknya tidak ada pilihan yang sepenuhnya baik. Kita harus memilih antara was-was disopirin sopir nggliyer sepanjang tol Bandung-Jakarta 150 km atau was-was kehilangan klien karena kita mengecewakannya.

Mau tidak mau kita harus memilih salah satu dari 2 opsi itu. Sekarang kita harus menimbang-nimbang. Kalau saya, yang akan saya lakukan adalah memberikan kesempatan driver beristirahat dulu lalu menghubungi klien untuk minta reschedule dari jam 8 pagi jadi jam 11 siang. Menghubungi orang jam 3 dini hari untuk mengatakan bahwa kita akan telat menghadiri pertemuan bukanlah ide yang bagus. Tapi itu masih lebih baik daripada terjadi apa-apa di jalan yang mungkin menyebabkan kita tidak bisa menghadiri pertemuan itu sama sekali.

Itulah yang saya maksud dengan mudarat kecil dan mudarat besar. Menjadwalkan ulang pertemuan adalah mudarat kecil. Terjadi musibah di jalan adalah mudarat besar. Tentu di sini dengan catatan bahwa kita tahu bahwa si sopir benar-benar ngantuk berat, mata melek sudah susah, apalagi untuk konsentrasi.

Pengambilan keputusan memilih yang mana dalam kasus seperti ini dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya ini adalah fungsi dari kedewasaan. Semakin dewasa seseorang, semakin banyak pengalaman dan oleh karena itu semakin banyak pula sudut pandang yang dia miliki. Pengambilan keputusan akan menjadi lebih bijaksana, atau setidaknya lebih cepat.

Kasus lain, misalnya kita berada di antrian toilet mall yang sedang ramai. Kita berada di antrian pertama, di belakang kita ada seorang pemuda, dan di belakangnya lagi baru datang kakek-kakek yang sudah tua, untuk berdiri lama sudah tidak kuat. Bagaimana ?

Kalau saya, saya lebih memilih memenangkan penghormatan saya kepada orang tua itu daripada norma tentang ketertiban antrian. Itu di mall, lingkungan yang "beradab", tertib antri adalah nilai yang dijunjung, bukan stadion sepakbola yang loketnya memprihatinkan dan harus bersaing dengan calo kalau mau dapat tiket. Tapi saya dan pasti banyak dari Anda, memilih menyalahi aturan itu demi memudahkan orang yang sudah sepuh.

Coba ingat lagi klien dan pemuda yang ikut antri di toilet tadi. Dari sana kita tahu bahwa dalam keputusan memilih mudarat besar-kecil itu bisa saja ada unsur "merugikan orang lain". Mungkin itulah salah satu komponen "tidak ada manusia yang sempurna". Karena bahkan pilihan yang tampak lebih baik pun bisa berimbas buruk bagi orang lain.

Kita itu lebih sering bingung memilih mudarat daripada memilih manfaat. Ketika terjebak diantara 2 pilihan manfaat, kita masih mudah mengambil keputusan karena manapun yang diambil masih ada kebaikan yang diraih. Tapi kalau memilih mudarat ? Apapun yang diambil bisa saja merugikan orang lain. Kita punya beban harus mampu memilih mudarat yang lebih kecil.

Jadi maafkan saya jika kadang merugikan, menyakiti, bersikap tidak dewasa, dll. Itu adalah output dari utak-utik timbangan mudarat di balik layar pikiran saya. Lebih dari itu, kita semua harus saling menerima dan memaafkan bahwa keputusan buruk yang diambil orang lain pasti didasari pertimbangan akan sesuatu yang kita tidak tahu.

Everyone you meet is battling with something you'll never understand about, be kind.

Oh ya tentang perjalanan ke Jakarta tadi kelanjutannya bagaimana ?

Jadilah keputusannya beristirahat, mlipir mampir ke sebuah mesjid lalu si driver tidur. Tidak terjadi apa-apa sampai adzan subuh berkumandang. Ketika adzan si driver terbangun, minta kopi, turun dari mobil, dan ambil wudhu. Ternyata setelah itu dia sudah segar kembali, siap meneruskan sisa perjalanan. Selepas salat subuh mobil kembali melaju. Di luar dugaan ternyata sepanjang tol traffic-nya lancar, hijau semua. Draft chat meminta reschedule yang tadi sudah disiapkan tidak jadi di kirim karena menurut perhitungan dengan traffic lancar jarak Bandung-Jakarta bisa ditempuh dalam waktu cukup 2 jam. Benar saja, jam 7 rombongan sudah sampai di tujuan. Masih ada waktu untuk mandi dan menyiapkan diri demi pertemuan yang penting itu.

.....

Lalu apa hubungannya dengan gambar Zidane ?
Final Piala Dunia 2006, Berlin, 9 Juli 2006, Zidane dikartu merah setelah menanduk Materazzi.
Bagi Zidane, martabat ibunya lebih besar daripada trofi Piala Dunia.

Terkadang keburukan kecil harus dibiarkan terjadi


Chandra




Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment