Ahsan



Orang bilang jadilah besar karena prestasi, bukan sensasi. Namun tampaknya tahun ini nama Mohammad Ahsan terangkat lebih karena karena sensasi yang dibuatnya. Tapi sensasi tidak selamanya buruk. Ada pelajaran dan nilai-nilai yang patut disebarkan. Seperti yang dicontohkan Mohammad Ahsan.

Siapa tak kenal Mohammad Ahsan ? Semua yang mengikuti berita perbulutangkisan Indonesia pasti tahu. Bersama Hendra Setiawan, Ahsan sempat menjadi ganda putra ranking satu dunia. Sederet prestasi dipersembahkan Ahsan untuk merah putih, mulai dari 2 gelar juara dunia (2013 dan 2015), 9 title turnamen level Superseries, juara Asian Games, Sea Games (3x), belum termasuk posisi runner up dan juara tiga di berbagai kompetisi. Sampai beberapa tahun yang lalu Ahsan - Hendra adalah tumpuan Indonesia untuk meraih gelar, bersama Tontowi Ahmad - Lilyana Natsir tentu saja.

Ahsan-Hendra
Saat ini Ahsan-Hendra sudah dipisah. Hendra Setiawan selanjutnya berpasangan dengan Tan Boon Heong asal Malaysia. Sementara Ahsan bersama partner barunya, Rian Agung Saputro, saat ini sedang menapak naik dan sementara berada di ranking 30 dunia.

Bersama pasangan barunya, capaian tertinggi Ahsan baru mencapai silver medalist World Championship 2017 yang diselenggarakan di Glasgow. Tapi belakangan ini yang banyak disorot warganet justru beberapa tingkah Ahsan - Rian yang tidak lazim dalam sebuah pertandingan bulutangkis profesional.

Ahsan-Rian mulai mencuri perhatian setelah secara santun menolak bersalaman dengan seorang wasit perempuan. Wasit yang bersangkutan juga tidak tersinggung dengan hal ini, nampak dari wajahnya yang ikut tersenyum. Sejak saat itu gerak-gerik mereka, terutama Ahsan, semakin sering disorot kamera.

Menolak bersalaman dengan service judge perempuan

Beberapa tahun yang lalu ada himbauan untuk pemain badminton putri agar mengganti penggunaan celana dengan rok. Tujuannya agar permainan terlihat lebih 'menarik', meniru pertandingan tenis. Ahsan justru mendemonstrasikan antitesisnya. Dalam beberapa turnamen terakhir Ahsan tampak mengenakan semacam legging. Tujuannya ? Untuk menutup aurat, tentu tanpa mengganggu pergerakannya. Apresiasi datang dari banyak pihak untuk Ahsan (dan Rian yang kemudian mengikuti) atas pilihannya ini

Menutup aurat
Pada pertandingan bulutangkis profesional saat ini, setiap poin 11 tiap set-nya ada interval turun minum dan pelatih bisa memberikan arahan. Pada beberapa kesempatan kamera menyorot pasangan Ahsan-Rian saat turun minum. Namun ada hal yang tidak biasa. Mereka menerima instruksi dan minum sambil duduk! Budaya sederhana yang rasanya tidak pernah dipraktekkan sebelumnya di tengah panasnya sebuah pertandingan bulutangkis. Sangat menjunjung tinggi etika.

Minum sambil duduk
Perlahan performa Ahsan-Rian makin kompak dan membaik. Beberapa kali mereka menembus babak QF atau SF bahkan final sebuah turnamen superseries. Alhasil tindakan-tindakan off-field mereka semakin viral. Semoga semakin hari semakin banyak gelar yang mereka raih.

Ini adalah cerita 'hijrah' seorang Mohammad Ahsan. Menolak bersalaman, menutup aurat, minum sambil dudu adalah hal sederhana jika dilakukan oleh orang biasa. Tapi jika hal sederhana ini dilakukan oleh seorang yang powerful efeknya bisa sangat besar. Bagaimanapun Ahsan adalah salah satu pebulutangkis berpengaruh dalam satu dekade terakhir.

Layaknya kereta api yang meskipun berjalan pelan bisa melontarkan apapun yang ada di depannya, karena massanya besar. Begitu juga ini, contoh sederhana dari seorang atlet kelas dunia bisa mengajak banyak orang untuk ikut 'berhijrah'.

Bersujud
Kita tidak berhak menyalahkan seolah perubahan Ahsan ini 'terlambat'. Episode ketika Ahsan masih berpasangan dengan Hendra mungkin bukan saat yang tepat untuk pelajaran ini bisa dengan cepat menyebar. Saat itu adalah masanya Ahsan mendaki karier sebagai pemain bulutangkis hingga menjadi sosok yang besar. Pada akhirnya nama besarnya menjadi jaminan atas apa yang dilakukannya. Tindakannya diapresiasi, didukung, dan diikuti oleh banyak orang.

Sore ini (2/12), bertepatan dengan saya memulai tulisan ini, Ahsan reunian dengan Hendra dalam Kejurnas PBSI 2017 di Bangka Belitung. Sebagai mantan pasangan nomor 1 dunia mereka masih terlalu tangguh untuk pemain kelas nasional. Dengan relatif santai mereka meraih gelar juara nasional. Sorak sorai berkumandang menyambut mereka. Rindu pada pasangan yang telah banyak mengharumkan nama Indonesia. Tapi yang paling penting, Ahsan tetap menjaga nilai-nilainya. Semakin tampak dia yakin dengan yang dilakukannya.


Salam,
Chandra
saya bukan siapa-siapa, isi tulisan ini juga tidak seberapa, tapi semoga ini dihitung sebagai upaya menyebarkan kebaikan, dan semoga apa yang saya tuliskan semakin bermanfaat setiap saat, dari hari ke hari, bukan menjadi semakin sia-sia.





Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

3 comments:

  1. Kerennnn! Integritas dan berkarakter 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul
      Tapi kalau tahu petinju legend Muhammad Ali even lebih luar biasa. Hijrahnya pindah agama di umur 24 sampai ganti nama dari Cassius Clay jadi Muhammad Ali. Dia menolak perang Vietnam sampai gelar juaranya dicabut, alasannya "saya tidak punya masalah dengan Vietcong. Dia juga menandatangani buletin dakwah Islam, alasannya "siapa yang akan membuang kertas bertanda tangan Muhammad Ali?". Sampai di siaran TV pernah ditanya, "Do you have bodyguard?", jawabnya "I have one bodyguard, He has no eyes but He sees, He has no ears but He hears, bla bla bla, He is Allah SWT, He is my bodyguard, He is your bodyguard". Bahkan katanya pernah ada perang gencatan senjata sementara gara-gara tentaranya pengen nonton Ali bertinju.

      Delete
    2. waaaw keren! aku baru tau, padahal mereka org2 terkenal tapi sadar kalau apalah gelar kalau semua manusia sama dimata Allah :')

      Delete