Junior



Baru beberapa bulan yang lalu saya adalah 'angkatan tertua' di kampus. Menjadi golongan yang paling berkuasa atas fasilitas kampus, paling dekat dengan dosen, dan dianggap paling tahu seluk beluk kehidupan mahasiswa.

Beberapa bulan berlalu, saat ini, saya adalah golongan paling junior di lingkungan yang baru. Sama seperti dulu waktu baru masuk SMP, SMA, dan kuliah, banyak yang berubah. Kita bisa saja mendengar kuliah itu seperti ini, bekerja itu seperti ini, tapi banyak hal yang harus dijalani sendiri untuk kita bisa mengerti.

Sebenarnyalah saya sudah cukup familiar dengan tempat baru ini. Banyak orang-orang di dalamnya yang sudah saya kenal. Sejak awal tahun saya telah berkali-kali ke sini untuk keperluan tugas akhir. Setidaknya diantara orang-orang baru, saya adalah yang paling terdahulu.

Hari ini adalah hari terakhir masa probation (percobaan) saya di sini. Besok Senin status saya sudah berubah. Malam ini saya memutuskan untuk bermalam di kantor, awalnya karena hujan yang tak kunjung reda mengguyur daerah utara Bandung, tapi akhirnya saya putuskan untuk menginap agar lebih mengenal tempat ini. Selain udara yang sejuk dan air yang dingin, ternyata fasilitas penunjang kehidupan di sini sangat lengkap. Pantesan beberapa orang memutuskan totally tinggal di sini...

Dari seluruh drama-drama perubahan status senior menjadi junior (lagi), ada satu hal yang menurut saya layak dibagikan. Saya belajar banyak soal ini, yaitu ikhlas menerima bahwa kita ini masih junior.

Berpindah ke tempat baru, sepandai apapun kita pada suatu hal, pasti ada yang sama pandainya dengan kita tapi lebih berpengalaman. Kalau dibandingkan, kita ini lebih banyak tidak tahunya daripada tahunya.

Ikhlas menerima bahwa kita masih "muda" artinya membuka diri bagi pengalaman, pelajaran, dan cara berpikir yang baru. Hal ini lebih bijak daripada meyakini kita sudah banyak tahu. Memang pasti akan ada nilai, norma, dan budaya yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini kita yakini, tapi justru disitulah kita diuji seberapa mampu memilih secara obyektif mana yang lebih baik.

Berinteraksi dengan orang-orang baru akan memberikan kita perspektif-perspektif yang juga baru. Ada sebuah ilustrasi yang cukup menarik :
Ada 10 orang mengelilingi seekor gajah. Masing-masing orang mengambil foto gajah itu dengan kameranya. Pertanyaannya, apakah diantara 10 foto itu ada yang sama persis ? Tidak. Tapi apakah semuanya benar gambar seekor gajah ? Ya. Artinya obyek yang sama akan tampak berbeda jika dilihat dari perspektif yang berbeda.
Dialah yang paling banyak melihat gambar orang lain yang bisa mendeskripsikan gajah dengan paling tepat. Dialah yang paling banyak belajar.

Tidak sedikit lulusan dari kampus yang katanya besar merasa sudah menguasai banyak hal sampai-sampai lupa bahwa masih banyak yang perlu dipelajari. Keikhlasan untuk selalu menempatkan diri dalam posisi belajar membuka banyak kesempatan untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru. Dimana-mana ada ilmu, tinggal seberapa peka kita menangkapnya.

Sakit hati, dianggap kurang cakap, direndahkan oleh orang yang kita rasa harusnya di bawah kita, adalah konsekuensi dari semua itu. Belajar di sekolah sifatnya hanya menerima dan mencoba memahami (entah ini sistem belajar yang betul atau tidak). Tapi belajar di masyarakat lebih real, menuntut kemampuan beradaptasi, dan terkadang keras.

No pain, no gain. Kalau ikhlas menjalani segala prosesnya, sedikit demi sedikit kita akan dianggap semakin mampu. Kita akan bergerak dari satu tanggung jawab ke tanggung jawab lain yang lebih besar. Tapi jangan menolak sebuah tanggung jawab hanya karena kita ragu akan kemampuan sendiri, justru dalam pelaksanaan tanggung jawab itu akan ada pelajaran yang bisa diambil. Lagi-lagi pelajaran. Ini adalah cara naik yang sangat elegan.

Pada akhirnya, berada di tempat baru adalah soal kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan kebaikan yang sebelumnya sudah dimiliki dan sebisa mungkin mengubah kekurangan menjadi kelebihan yang lain, dengan belajar. Bicara soal karier, menurut saya antara belajar dan bekerja tidak bisa begitu saja dipisahkan. Bukan berarti orang yang belajar itu tidak bekerja dan orang yang bekerja tidak belajar. Alhamdulillah saya bersyukur mendapat kesempatan untuk belajar dengan dibayar.


Salam, dari saya yang juga masih belajar.


gambar by Jojo
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment