Review Film : Maze Runner 3, The Death Cure



[SPOILER ALERT]

Sebenernya agak telat untuk menulis review soal film ini karena filmnya sudah tayang sejak 24 Januari kemarin. Tapi memang baru tadi malem meluangkan waktu untuk berangkat nonton. Minggu lalu sempet udah masuk bioskop tapi kehabisan tiket. Bioskop rame banget gara-gara Dilan dan Dylan (O'Brien).

Sebelumnya ada beberapa lumayan banyak teman yang bilang ini film bagus banget. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa ratingnya di Rottentomatoes dan IMDb kok gak tinggi-tinggi amat ya, menengah lah. RT dan IMDb reviewernya mantep mantep laah.

Sejujurnya saya dulu nggak ngikutin sekuel 1 dan 2 Maze Runner. Baru nonton minggu lalu setelah yang ke-3 muncul dan jadi omongan. Entahlah, tapi mungkin ada bedanya antara yang sudah nonton sekuel sebelumnya pada waktunya dengan yang baru nonton dirapel minggu lalu. Mungkin impresinya beda. Tapi dari 3 film ini menurutku yang paling bagus masih yang pertama, lalu ketiga yang sekarang keluar, baru yang kedua.

Maze Runner 3 : The Death Cure bukan film yang jelek, tapi juga nggak flawless. Jujur saya merasa agak bosan menonton film ini karena dramanya diulang-ulang. Premis selalu dimulai dengan tindakan heroik (kalau tidak mau disebut nekat) dari si protagonis. Setelah tampil gagah akhirnya dia mulai mendapat masalah. Ketika benar-benar sudah terdesak ujug-ujug muncul sosok yang menyelamatkan mereka. Mission completed.

Ketika Thomas, Newt, dan Fry diam-diam naik mobil mau menjemput Minho mereka masuk ke terowongan penuh Crank. Awalnya mereka mencoba melawan sebelum akhirnya terdesak ketika mobil terguling dan peluru habis. Tiba-tiba muncul Jorge dan Brenda menyusul mereka, selamat. Ada juga kejadian ketika mencegat kereta, ketika terdesak terus-terusan diberondong peluru tiba-tiba datang pertolongan udara, tepat waktu. Lalu di akhir film ketika berhasil mengevakuasi anak-anak namun tidak dapat pergi tiba-tiba Vince datang menjemput. Pun ketika kedatangan Thomas cs ketahuan lewat kamerea dan sensor WCKD, datang Gally dan gank-nya mengamankan mereka. Gitu aja terus sampai . . .

Tapi lumayan, minimal nggak semua misi berjalan baik. Ada tokoh yang di-mati-kan. Nggak usah disebut lah ya, nanti spoilernya berlebihan.

Kekurangan kedua, saya menonton film ini karena mengharapkan plot twist yang bombastis, tapi sayangnya kurang. Di film pertama ditunjukkan bahwa anak-anak muda dalam Glade punya kesamaan yaitu lupa segalanya kecuali nama. Premis soal ingatan ini adalah celah seharusnya bisa digodok lebih matang lagi sehingga ketika keluar bioskop penonton punya bahan untuk diterka dan didiskusikan. Saya membayangkan Thomas akhirnya mengingat sesuatu yang sangat krusial hingga mengubah keberpihakannya. Nyatanya tidak, Thomas memang berubah, tapi itu menjelang cerita berakhir dan karena dibujuk oleh Teresa. Teresa-lah yang fluktuasinya lebih terlihat, bukan Thomas.

Tapi ada hal yang saya sangat suka dari film ini. Walaupun genre-nya fantasy, tapi masih lebih make sense daripada beberapa film sejenisnya. Pada banyak film biasanya ketika pihak protagonis menang dunia yang sebelumnya sudah hancur tiba-tiba hidup normal lagi. Tapi di film ini tidak, misalnya orang-orang yang selamat dari WCKD hidup seadanya di pantai. Persis ketika Thomas cs masih di Glade, bedanya kali ini mereka tidak dibatasi oleh labirin.

Hal lain yang saya suka adalah film ini tetap memasukkan unsur labirin (maze) walaupun tidak sekuat di film pertama. Adegan di gedung WCKD, bayangan Minho ketika cairannya diambil, dan beberapa scene kejar-kejaran menunjukkan itu. Nice.

Kesimpulannya The Death Cure adalah film yang bagus tapi juga bukan yang paling bagus untuk periode 6 bulan terakhir. Nilainya 7.2/10 lah. Kalau belum nonton nggak ada salahnya ke bioskop mumpung masih tayang. Tapi kalau dirasa kurang worth it ya nunggu bajakannya aja hehehe

Terakhir, moral value The Death Cure : tidak ada tembok yang terlalu tinggi untuk dilewati. Good things take time.


Salam,
Chandra
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment