Boros Tak Selalu Buruk




Kenapa Idul Fitri di Indonesia rame ? Selain jumlah umat muslim Indonesia yang segunung, juga karena lebaran adalah saat dimana uang sedang beredar banyak-banyak di masyarakat. Vendor pengisi ATM siaga penuh. Nafsu belanja lagi tinggi-tingginya. Nikmat orang yang berpuasa selain waktu berbuka adalah datangnya lebaran.

Beberapa hari terakhir ramadhan sekaligus beberapa hari menjelang lebaran, orang berbondong-bondong berbelanja mulai dari kue kering untuk suguhan, bahan masak opor, pakaian untuk tampil, gadget, emas/perhiasan, sampai kendaraan. Terpantau populasi kendaraan ‘plat putih’ meningkat menjelang lebaran.

Mulai dari kios sembako di pojok Pasar Ngangkruk sampai outlet produk branded di Hartono Mall meriah menjelang dan sesudah lebaran. Mungkin hanya 1 syawal aja yang agak sepi karena orang-orang masih sibuk berbahagia dengan keluarga, sisanya adalah primetime buat golongan orang yang suka belanja dan pengusaha yang ingin memanfaatkannya.

Lebaran boros. Apa-apa ingin dibeli. Belum lagi ponakan yang jumlahnya berlipat dan tuntutan angpaonya nambah terus. THR nggak nutup katanya. Banyak yang jebol katanya.

Tapi apa benar hobi belanja dan jajan (makan) itu jelek ? menurut saya nggak selalu.

Waktu 10 tahun yang lalu ada krisis ekonomi, para ahli bilang bahwa yang menyelamatkan perekonomian Indonesia adalah kegiatan ekonomi akar rumput. Kenapa ? karena mereka membeli dari sesamanya, nglarisi dulur

Aktivitas ekonomi di pedesaan berpusat di pasar tradisional dimana pembeli dan penjualnya adalah orang sekitar pasar itu. Kalau mau lebih lengkap paling swalayan yang pemiliknya juga orang setempat, bukan jaringan mart-mart itu. Butuh daging ayam ? beli di pasar. Telur asin ? kampung sebelah ada yang bikin. Servis motor ? keluar pinggir jalan raya ada bengkel. Es kepal milo ? deket rumah ada tetangga jualan.

Seorang anak yang baru dapat angpao ke konter pulsa beli paket data untuk main mobile legend. Pemilik konter bisa ke pasar beli sepeda untuk anaknya. Penjual sepeda beli bakso. Pegawai warung bakso gajian, bisa beli alat tulis dan sepatu untuk tahun ajaran baru. Pegawai yang lain bisa renovasi rumah biar cakep pas banyak tamu waktu lebaran, dia minta tolong tetangganya untuk ngecat. Tetangganya bisa beli . . beli apa ya . . bisa beli khong guan buat suguhan misalnya. Yagitu, muter terus, itulah kenapa namanya “memutar roda perekonomian”.

Ada sebuah daerah di Amerika yang dulu memiliki budaya yang ketat mengatur kalau beli apa-apa dari tetangga atau saudaranya. Efeknya, ketahanan terhadap gejolak ekonominya luar biasa. Yang deket ada juga, salah satu komunitas dalam Islam di Indonesia mempraktekkan hal serupa.

Semua orang punya andil dalam perputaran ekonomi ini dengan perannya masing-masing. Posisi dan besarnya juga sendiri-sendiri.

Yang jadi masalah adalah ketika kita memaksakan untuk mendayung dengan dayung yang terlalu berat sampai kita sendiri tidak mempu mengangkatnya. Kalau mesin kita 110cc ya nggak usah memaksakan menggerakkan Harley. Kita sering nggak sadar sampai spending ini jadi nggak sehat. Boros ini yang buruk. Ini yang bikin jebol. Betapa penting yang namanya proporsional.

Ketika old money liat brosur Juke dan dua hari kemudian sudah ready di garasi, apakah itu buruk ? Enggak jika dilihat nilainya karena itu kecil bagi dia. Tapi perlu dicek juga apakah ada unsur kesia-siaan ? Kalau sia-sia ya nggak bagus juga.

Ada beberapa komponen penunjang pertumbuhan ekonomi. Tahu nggak apa yang signifikan untuk Indonesia ? Yang membantu Indonesia jumawa punya angka selalu lebih tinggi dari Jerman. Itu adalah konsumsi. Siapa yang paling berperan dalam konsumsi ? Kelas menengah. Kita-kita ini.

Kita ini yang ribut ingin ini itu. Ingin nonton bioskop, makan donut JCO, es kepal milo, paket internet, baju lebaran, kosmetik, sepatu, setrika, TV, Iphone buat selfie-depan-cermin, hingga beli motor sampai jumlah motor lebih banyak daripada jumlah orang di rumah. Duitnya muter muter muter muter terus. Sehat negara ini. Merdeka!

Nggak usah sok bicara revolusi, demo, ganti presiden, tetap jokowi, ngancam golput, dll. Just shup up and go spend your money di warung tetangga.


Chandra







Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment