Memiliki Kehilangan


Salah satu penyebab saya jarang ngepost kalau lagi liburan di Bantul adalah terbatasnya koneksi internet. Bisa sih bikin draft offline di laptop, tapi tetep kurang marem kalau nggak langsung di editor Blogger. Faktor kebiasaan sih. Tapi juga kalau offline jadi susah kalau mau cari-cari bahan atau gambar di internet.

Rumah kami agak jauh dari kota jadi wajar kalau koneksi internet kurang sip. Bapak Ibuk yang pakai internet sekedar untuk chat WA, baca berita, baca blog anaknya, dan kadang-kadang YouTube nggak masalah dengan ini. Mereka sudah terbiasa. Tapi saya yang terlanjut terbiasa internet-active suka geregetan.

Kondisinya memang berbeda dengan ketika saya di Bandung sehari-harinya. Karena kebetulan di kota jadi internet provider apapun 4G banter. Ketika pagi masuk kantor atau ketika sore pulang ke kosan juga semua gadget langsung terhubung wifi.

Entah kenapa ketika pulang ke Bantul saya seperti kehilangan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang biasanya ada dalam genggaman jadi tidak ada, atau lebih tepatnya kadang ada kadang tidak. Ya sesimpel koneksi internet. Saya kecanduan internet ? mungkin, tapi kayaknya banyak yang begitu hehe. Lain waktu bahas soal kecanduan internet deh, InsyaAllah.

Saya pikir-pikir, kenapa ya sampai merasa begitu ? Di sisi lain petani-petani di kampung yang hp-nya belum tentu bisa buat internetan baik-baik saja. Dulu orang tua kita juga tumbuh dewasa tanpa internet dan bisa menjadi seperti sekarang. Berarti masalahnya bukan pada tidak adanya internet, tapi pada perubahan dari ada menjadi tidak ada.

Saya mengalami shock  ketika pindah dari tempat yang internet-rich ke tempat yang internet-rare. Yang membuat saya merasa kehilangan adalah karena sebelumnya terlanjur terbiasa dengan internet tahu-tahu perlu strugle untuk dapat sinyal 4G banter. Coba kalau di Bandung saya jarang pakai internet, pasti nggak ada masalah berarti. Atau andai saya lebih lama libur di Bantul-nya, pasti lama-lama terbiasa dan menjadi baik-baik saja.

Perubahan dari punya menjadi tidak punya lebih menyesakkan daripada tidak punya itu sendiri.

Mari kita bicara hikmah mumpung masih Syawal. Kita perlu bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah pada kita. Tapi saya jadi mikir, apa-apa yang kita pengen dan belum kesampaian untuk memilikinya, jangan-jangan itu karena Allah tahu kita belum siap andaikan nanti kehilangannya ? Manusia itu tahu sedikit tentang yang sekarang, gampang lupa dengan yang lalu-lalu, dan totally nggak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Kedua, kehilangan sesuatu akan meninggalkan ruang kosong. Bisa ruang fisik, misal kehilangan kendaraan atau perabot rumah. Bisa 'ruang' waktu ketika seseorang kehilangan pekerjaannya. Bisa ruang batin kita seseorang kehilangan sesuatu yang dicintainya, kucing kesayangan mati misalnya. Susah untuk nggak bersedih, tapi jangan lupa bahwa ruang yang kosong itu bisa diisi hal yang baru. Kalau kamu sedang pada posisi itu, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik dan lebih gampang kita menemukan syukur atasnya. Aamiin.

Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya - Letto

Sekian. Saya baik-baik saja kok alhamdulillah tidak sedang kehilangan sesuatu. Cuma sebagai pengingat saja bahwa ada dua cara sesuatu hilang. Pertama, memang diambil dari kita. Kedua, kita yang memutuskan untuk meninggalkannya. 


Chandra
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment